Teori Belajar

BELAJAR

Seorang murid sekolah dasar mempelajari tugas dalam waktu yang lama. Seorang pengacara muda belajar bermain ski. Seekor anjing belajar untuk mengambil sebuah tongkat. Seekor tikus besar belajar untuk berlari melewati jaringan jalan yang rumit (maze). Kita sering mendengar dan berbicara tentang belajar, tetapi hal itu adalah suatu fenomena yang sulit untuk dideskripsikan. Mungkin, kesulitan ini dapat dijelaskan sebagian dengan fakta bahwa belajar tidak dapat diobservasi secara langsung. Kita dapat menginterpretasikan jenis-jenis perilaku tertentu sebagai bukti bahwa belajar sudah berlangsung, tetapi kita tidak bisa mengukur belajar secara langsung.

1.1 DEFINISI BELAJAR

Para psikolog yang mempelajari belajar sudah mengajukan bermacam-macam definisi dari kata ini, tetapi tidak ada satupun yang kelihatannya mendeskripsikan secara tepat dan lengkap fenomena itu. Sebaik apapun itu, definisi-definisi tersebut bersifat sementara sehingga definisi yang mengikutinya dapat diambil hanya sebagai bagian permulaan. Ketika anda berpikir tentang itu, anda sebaiknya mengingat bahwa definisi ini terbuka untuk pertanyaan bukti-bukti baru, dan perbaikan dan klarifikasi lebih lanjut.

Belajar dapat didefinisikan sebagai perubahan yang relatif permanen pada perbendaharaan (repertoir) perilaku organisme yang terjadi sebagai hasil dari pengalaman.

Beberapa istilah dalam definisi ini membutuhkan penjelasan tersendiri. Pada bagian pertama, para psikolog secara umum setuju bahwa hanya perubahan perilaku yang relatif permanen yang termasuk dalam kategori perubahan-perubahan yang dipelajari. Ini berarti bahwa perubahan perilaku yang sementara tidak dianggap sebagai bukti dari belajar.

CONTOH 1 Andaikata seorang bayi berumur 10 bulan, mengoceh dan mendeguk di tempat tidurnya, mengucapkan dengan sangat jelas suatu suara yang seperti kata “Paul”, namanya sendiri. Walaupun orangtua si bayi mungkin pertama kali tergetar hatinya karena anak mereka sudah belajar untuk mengatakan namanya, mereka akan menemukan dengan segera bahwa hal ini bukanlah kasusnya. “Kata” yang terdengar seperti “Paul” mungkin tidak akan terdengar lagi dari anak itu sampai beberapa bulan, sampai dia mulai berbicara dengan baik. Adalah benar bahwa perilaku bayi itu mengalami perubahan: Dia mengeluarkan suatu suara yang tidak pernah dikeluarkan sebelumnya. Tetapi perubahan ini hanya sementara; usaha pada pihak orangtua untuk membuat anak mereka mengulang performansinya ini pasti akan gagal sampai dia memulai untuk belajar berbicara. Para psikolog secara umum akan setuju bahwa seruan bayi berusia 10 bulan adalah produksi yang bersifat sementara dan terbatas dari penyuaraan acaknya, dan ini bukan perilaku yang dipelajari.

Juga menjadi catatan penting bahwa definisi kita tentang belajar lebih mengacu pada perubahan-perubahan repertoir perilaku organisme daripada perubahan-perubahan dalam perilaku. Para psikolog telah menemukan bahwa sebuah perilaku organisme tidak perlu indikator belajar. Mereka juga menemukan bahwa tidak adanya perilaku khusus tidak selalu merupakan indikator bahwa organisme itu tidak belajar perilaku tersebut. Untuk meringkas penemuan-penemuan mereka, para psikolog mengatakan bahwa belajar harus dibedakan dengan performansi. Dengan kata lain, organisme mungkin memiliki suatu perilaku dalam repertoirnya dan tidak menunjukkannya, atau menunjukkan dan tidak memilikinya dalam repertoir (lihat Bagian 1.2).

CONTOH 2 Bayi yang digambarkan pada Contoh 1 menunjukkan perilaku tertentu—mengeluarkan suara “Paul”—itu bukanlah bagian dari repertoir perilakunya.

CONTOH 3 Andaikata beberapa tahun kemudian, ketika dia berumur 4 tahun, Paul menemani ibunya dalam perjalanan ke pertokoan yang besar dan sangat ramai. Ketika mereka berbelanja, Paul tersesat dari ibunya dan dia hilang. Sesegera setelah dia menyadari bahwa dia terpisah dari ibunya, dia mulai menangis. Seorang pegawai toko mencoba untuk menenangkan anak itu dan mempertemukannya dengan ibunya, mendekati dan berkata, “Saya akan membantumu untuk menemukan ibumu, siapa namamu?” Tetapi Paul, yang pada waktu itu histeris, hanya melanjutkan menangis. Meskipun dia mampu untuk memahami pertanyaan itu dan mengetahui bagaimana ia mengatakan namanya, dia tidak menjawab pertanyaan pegawai toko itu. Mengatakan “Paul” merupakan bagian dari repertoir perilaku pada usia 4 tahun, tetapi dalam situasi ini dia tidak menunjukkan perilaku tersebut.

Akhirnya, definisi kita tentang belajar mengacu pada perubahan yang terjadi sebagai hasil dari pengalaman. Jadi para psikolog secara umum tidak memasukkan dalam kategori perilaku-perilaku belajar atas perubahan-perubahan yang merupakan hasil dari proses jangka panjang seperti perkembangan fisik atau penuaan atau dari dampak-dampak jangka pendek seperti kelelahan atau pemanasan.

CONTOH 4 Menarche, atau permulaan dari arus menstruasi awal, adalah hasil dari kematangan dari rahim dan ovarium seorang remaja putri. Hal ini tidak dianggap sebagai perubahan belajar dalam perilaku karena ini adalah hasil secara langsung dari perkembangan fisik, dan bukan hasil dari pengalaman.

Fase Belajar

Penelitian dalam belajar sudah menunjukkan bahwa beberapa tahapan tampak berlangsung. Awalnya, organisme dengan beberapa cara harus mengasimilasikan (“memasukkan”) materi untuk dipelajari. Fase ini disebut penerimaan (acquisition).
Setiap kali menerima, pembelajaran dimasukkan dalam ingatan. Fase ini sering disebut tahap penyimpanan (storage). Bukti belajar meliputi langkah ketiga yaitu pemanggilan kembali (retrieval), atau mengeluarkan informasi dari penyimpanan. Setiap fase-fase ini—menerima, menyimpan, memanggil kembali—akan didiskusikan lebih mendalam pada bagian selanjutnya. Kadang, istilah “belajar” dan “ingatan” digunakan untuk memasukkan ketiga tahap, tetapi secara umum tampak lebih baik untuk memisahkan mereka untuk pemahaman yang lebih mudah dari proses yang ada di dalamnya (lihat juga Soal 1.2)

1.2 BELAJAR vs. PERFORMANSI

Fakta bahwa proses belajar tidak dapat diobservasi secara langsung meletakkan para psikolog pada posisi yang sulit: mereka harus tergantung pada observasi tentang perilaku untuk menduga perilaku belajar, tetapi perilaku tidak absolut tergantung pada indikator belajar. Penting bahwa organisme menunjukkan perilaku tertentu apabila belajar diduga, tetapi performansi dalam dan padanya tidak dapat dianggap suatu ukuran yang absolut dari belajar.

Variabel-Variabel Performansi Nonbelajar

Para psikolog telah mengidentifikasikan beberapa faktor di samping belajar yang mempengaruhi performansi. Faktor-faktor ini, yang memainkan peranan penting dalam bagaimana organisme akan berperilaku, disebut variabel-variabel performansi nonbelajar. Para psikolog memberi banyak perhatian pada variabel-variabel ini karena mereka ingin dapat membedakan antara aspek-aspek performansi yang dapat diatribusikan pada belajar dengan yang tidak.

a. Motivasi
Satu pengaruh yang sangat penting pada performansi adalah motivasi, yang didefinisikan sebagai suatu keadaan yang mengawali, mengarahkan, dan mempertahankan perilaku pada organisme. Tanpa motivasi, organisme mungkin gagal menunjukkan perilaku yang telah dipelajari.

CONTOH 5 Seorang gadis muda yang tidak lapar dan haus mungkin mengabaikan sebotol susu dan semangkuk makanan yang ditata oleh orangtuanya di hadapannya. Meskipun dia telah belajar untuk minum dari botol dan makan dari mangkuk, dia tidak akan menggunakan dalam perilaku-perilaku ini bila dia tidak termotivasi.

Secara umum, motivasi mengarahkan pada performansi dari perilaku-perilaku tertentu, dan seiring dengan meningkatnya tingkat motivasi, maka tingkat performansi juga akan meningkat. Seseorang dapat mengatakan bahwa motivasi memfasilitasi performansi. Tanpa motivasi, anak dalam Contoh 5 tidak akan menunjukkan bagaimana dia sudah belajar untuk makan. Dengan motivasi, dia akan memberikan bukti yang cukup tentang apa yang sudah dia pelajari. Bagaimanapun juga, hubungan antara motivasi dan performansi tidaklah sederhana. Ketika motivasi secara ekstrem tinggi, performansi mungkin akan mulai menurun.

CONTOH 6 Seorang murid yang telah menempuh ujian akhir dari pertandingan mengeja nasional mungkin akan terhambat dan salah mengeja pada kata yang sangat mudah―bahkan kata yang sudah dia ucapkan berkali-kali sebelumnya. Dalam kasus motivasi ini, yang secara umum memfasilitasi performansi, sudah menghambatnya.

Kurva dalam gambar 1-1 menggambarkan hubungan antara motivasi dan performansi: secara umum performansi meningkat seiring meningkatnya performansi, tetapi ketika motivasi mencapai tingkat yang sangat tinggi, performansi mungkin mulai menurun.

Baik

Performansi

Buruk I I I
Sangat rendah Sedang Sangat tinggi

b. Sensitisai dan habituasi
Organisme mungkin menunjukkan perilaku tertentu (atau respon) ketika dihadapkan dengan kejadian-kejadian khusus (atau stimulus). Pengulangan respon yang muncul kapanpun ketika rangsangan hadir mungkin merupakan bukti dari belajar.
Dalam beberapa situasi belajar, respon organisme terhadap stimulus mungkin berubah benar-benar sebagai hasil dari merespon stimulus itu. Jika kemungkinan atau intensitas dari respon meningkat, perubahan ini disebut sensitisasi. Jika kecenderungan untuk merespon atau intensitas respon menurun, organisme dikatakan menunjukkan habituasi. Dalam kasus yang berbeda, bagaimanapun juga, perubahan dalam respon organisme perlu mengindikasikan perubahan belajar.

CONTOH 7 Andaikata seseorang didudukkan dengan cara yang sedemikian rupa sehingga tangan kanannya dikendalikan dan dikaitkan pada elektroda yang melaluinya kejutan listrik dapat dialirkan. Alat pengendali memungkinkan pengukuran dari kekuatan pergerakan otot yang dibuat dalam percobaan untuk menghindari kejutan itu. Jika kejutan tetap berada pada tingkat yang sama sepanjang studi itu tetapi intensitas dari pergerakan otot meningkat, akan menunjukkan terjadinya sensitisasi.

CONTOH 8 Bayangkan duduk pada bangku anda, pada musim panas yang hangat dan tenang. Jendela terbuka. Tiba-tiba, seseorang mulai menghidupkan mesin pemotong rumput secara langsung di bawah jendela anda. Respon anda mungkin terkejut dan mencoba untuk menentukan sumber suara. Ketika mesin pemotong rumput sudah hidup beberapa saat, mungkin respon anda akan menurun. Hal ini mengilustrasikan habituasi.

c. Adaptasi sensori
Situasi stimulus tertentu akan memberikan dampak fisiologis pada proses sensori organisme. Penyesuaian diri terhadap proses sensori ini, yang dapat memiliki dampak pada performansi organisme dari tugas-tugas tertentu, disebut adaptasi sensori dan dianggap sebuah variabel performansi nonbelajar.

CONTOH 9 Andaikata seseorang yang sudah belajar untuk mengerjakan tugas tertentu dengan sukses dalam ruangan dengan cahaya yang sangat terang. Orang ini mungkin memiliki beberapa masalah dalam melanjutkan melakukan tugas tersebut jika cahaya tersebut tiba-tiba berkurang secara drastis. Perubahan dalam performansi ini terjadi bukan karena orang tersebut sudah gagal untuk mempelajari tugas tersebut, tetapi karena matanya membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan kegelapan. Seperti itulah penyesuaian fisiologis yang disebut adaptasi sensori, variabel performansi nonbelajar lainnya.

d. Karakteristik-karakteristik fisiologis
Di samping adaptasi sensori, peristiwa fisiologis yang lain dapat mempengaruhi performansi. Dua contoh dari hal ini adalah maturasi atau pertumbuhan fisik dan senescene, kemunduran fisiologis yang menyertai usia tua. Dan lagi, dampak-dampak pada performansi tidak dapat diatribusikan dengan belajar. Tidak peduli seberapa banyak latihan atau mengajar dilakukan, perilaku-perilaku tertentu tidak dapat ditunjukkan sampai perkembangan fisiologis yang tepat (maturasi) telah tercapai. Demikian juga, ketika terdapat disfungsi sistem saraf yang disebabkan oleh degenerasi (senescene), banyak perilaku sebelumnya yang mungkin tidak akan lama.

e. Kelelahan
Performansi seringkali dipengaruhi oleh kelelahan, variabel performansi nonbelajar lainnya. Ketidakmampuan untuk menunjukkan respon yang telah dipelajari sebelumnya mungkin terjadi ketika seseorang menjadi terlalu lelah, tetapi setelah beristirahat kemampuan untuk merespon akan pulih kembali.

f. Belajar Bergantung Kondisi (State-dependent learning)
Sudah ditemukan bahwa belajar yang terjadi dalam kondisi lingkungan tertentu mungkin tidak ditunjukkan ketika performansi diperlukan dalam kondisi stimulus yang berbeda secara signifikan dari kondisi di mana belajar terjadi. Tipe belajar seperti ini, di mana performansi tampak bergantung pada situasi stimulus yang mirip dengan situasi di mana belajar pertama terjadi disebut belajar bergantung kondisi.

CONTOH 10 Jika seorang murid belajar untuk ujian dalam sebuah ruangan tanpa jendela dan musik rock sebagai latar belakang, melakukan ujian dalam sebuah ruang kelas yang tenang yang mempunyai banyak jendela mungkin menjadi perubahan stimulus dan dampak performansi yang dapat diperhatikan. Hal ini sering memberi kesan bahwa seorang murid seharusnya belajar dalam kondisi yang semirip mungkin dengan kondisi yang akan digunakan untuk tes.

1.3 RESPON-RESPON TIDAK DIPELAJARI
Para psikolog yang mempelajari proses belajar telah menemukan ada sejumlah respon dalam banyak repertoir perilaku organisme yang muncul tanpa dipelajari. Hampir keseluruhan yang sudah dipelajari adalah refleks-refleks dan insting-insting.

a. Refleks-refleks
Refleks adalah sesuatu respon yang tidak dipelajari, dan segera terhadap stimulus tertentu. Banyak refleks yang tidak ditunjukkan oleh organisme pada saat lahir, tetapi berkembang dengan maturasi. Yang lainnya muncul pada saat lahir, yang keluar dari pola perilaku sebagai perkembangan sistem saraf.

CONTOH 11 Memukul bagian dasar kaki seorang manusia menghasilkan aktivitas pada jari-jari kaki. Pada anak yang masih sangat muda, jari kaki “menyebar” atau meluas (yang kemudian disebut refleks Babinski). Anak yang lebih tua dan dewasa cenderung untuk melengkungkan jari kakinya, sebagai maturasi dari sistem saraf yang menghilangkan refleks Babinski.

b. Insting-insting
Insting adalah pola respon yang kompleks dan tidak dipelajari. Insting-insting dengan mudah ditunjukkan oleh organisme yang lebih rendah seperti itik-itik atau ayam-ayam, tetapi masih diperdebatkan untuk manusia.

CONTOH 12 Penelitian pada fenomena membébék (imprinting) sudah menunjukkan bahwa anak-anak itik atau anak-anak ayam yang baru menetas akan mengikuti obyek apapun yang bergerak dalam lingkungan selama separuh detik dalam hari pertama hidupnya. Tidak hanya perilaku ibunya, tetapi juga membébék manusia atau obyek yang lain yang bergerak juga akan ditunjukkan.

1.4 METODOLOGI PENELITIAN
Para psikolog menggunakan beberapa metode yang berbeda untuk mengumpulkan data tentang proses-proses belajar. Hal ini meliputi metode eksperimental (yang paling populer), observasi naturalistik, studi-studi kausal-komparatif, studi-studi korelasional, tes-tes psikologi dan survei-survei, dan histori-histori kasus klinis.

Metode Eksperimental

Dasar dari metode eksperimental adalah pembandingan. Dalam bentuk paling sederhana, dua kelompok, yang dipilih serupa mungkin sebelum eksperimen dimulai, diberi beberapa latihan di bawah kondisi-kondisi yang berbeda (dimanipulasi). Kedua kelompok diuji pada beberapa pengukuran respon. Jika variabel ekstranus (luar) atau tidak relevan sudah dikontrol, perbedaan performansi untuk dua kelompok dapat diatribusikan dengan kondisi-kondisi yang dimanipulasi. Para psikolog menggunakan istilah-istilah berikut ini untuk mendeskripsikan eksperimen-eksperimen yang didesain dan dilaksanakan secara tepat.

Variabel bebas (independen): variabel di bawah penelitian yang dimanipulasi oleh eksperimenter disebut variabel bebas (independen)

Variabel terikat (dependen): variabel terikat (dependen) adalah ukuran dari performansi atau respon.

Kelompok eksperimental: dalam sebagian besar eksperimen, kelompok (kelompok-kelompok) yang diuji di bawah kondisi-kondisi yang menarik perhatian eksperimenter disebut kelompok (kelompok-kelompok) eksperimental.

Kelompok kontrol: kelompok yang diuji di bawah kondisi-kondisi pembandingan (“biasa”) disebut kelompok kontrol.
(Catatan: baik kelompok eksperimental maupun kelompok kontrol adalah variabel bebas (independen), dan keduanya diukur pada variabel dependen).

Sampling. Ketika kita tidak mungkin untuk menggunakan seluruh kelompok untuk dipelajari (disebut populasi), subyek dipilih dengan menggunakan prosedur sampling. Jika semua subyek memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih, prosedurnya disebut sampling acak (random sampling). Sampling bertingkat (stratified sampling) meliputi penyeleksian subyek-subyek sehingga sampel menggambarkan bermacam-macam subkelompok yang ditemukan dalam populasi; dengan kata lain, terdapat beberapa subkelompok dalam populasi, mereka akan terwakili secara proporsional dalam sampel. Kadang eksperimenter meyakini bahwa karakteristik-karakteristik tertentu akan memberi subyek-subyek keuntungan dan kerugian yang jelas dalam setting eksperimental; dalam beberapa kasus, eksperimenter dapat menggunakan sampling yang dicocokkan (matched sampling), di mana setiap kelompok akan menerima jumlah-jumlah subyek yang sama dengan keuntungan atau kerugian tertentu.

Pertimbangan-pertimbangan lain. Metode eksperimental meliputi beberapa pertimbangan lainnya. Sebanyak mungkin, peneliti mencoba untuk mengontrol variabel ekstranus (variabel yang tidak relevan) yang dapat mempengaruhi hasil secara tidak tepat. Peneliti seharusnya juga mempertahankan sikap obyektif, mencoba untuk menghindari kondisi-kondisi yang dapat menghasilkan prasangka atau bias dalam eksperimen.
Masalah yang dipelajari harus berarti / meaningful (yaitu umum atau dapat didiskusikan), empiris (dapat diukur), dan dapat ditiru (dapat diulang-ulang). Di samping itu, secara umum diharapkan bahwa penelitian akan diadakan dengan cara yang teratur membantu menghindari beberapa kesulitan yang tersebut di atas.

Metode-Metode Lain

Psikologi belajar tidak hanya berdasarkan pada data yang dikumpulkan, dalam penelitian eksperimen, tetapi juga pada informasi yang diperoleh dari metode-metode lain. Beberapa dari yang paling penting didiskusikan di sini.

Observasi naturalistik. Para psikolog kadang membuat catatan yang teliti dan tidak berbias dari peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam situasi yang tidak dimanipulasi. Hal ini disebut observasi naturalistik.

Studi-studi kausal-komparatif. Sering digunakan ketika studi-studi eksperimental tidak dapat digunakan, studi-studi kausal-komparatif membandingkan subyek-subyek yang menunjukkan pola perilaku tertentu dengan subyek yang tidak menunjukkan perilaku tersebut dalam rangka untuk menemukan penyebab yang memungkinkan perilaku tersebut.

Studi-studi korelasional. Studi-studi korelasional berusaha untuk menemukan hubungan antara variabel-variabel dengan menggunakan teknik statistikal dari koefisien-koefisien korelasi. Koefisien-koefisien korelasi dapat menunjukkan tingkat dan arah hubungan.

Tes-tes dan survei-survei psikologis. Jumlah atau tipe belajar kadang dinilai dengan menggunakan tes-tes dan survei-survei psikologis yang secara khusus didesain untuk menampilkan stimuli yang mana subyek bereaksi. Hal ini memungkinkan pengumpulan data secara cepat dan kemungkinan untuk membandingkan respon-respon satu subyek dengan yang lain, tetapi kerugian yaitu subyek dapat akan membuat respon-respon disengaja yang menyesatkan.

Histori-histori kasus klinis. Belajar, pola kepribadian yang khusus, mungkin dicatat oleh ahli klinis atau psikolog konseling. Beberapa catatan—mungkin tentang masalah-masalah, pengetahuan-pengetahuan, teknik-teknik pengobatan—disebut histori-histori kasus klinis.

Hubungan-Hubungan Sebab-Akibat
Satu-satunya metode yang memungkinkan penerimaan atau penolakan dari hipotesis adalah metode eksperimental. Berusaha untuk menguji hubungan-hubungan sebab-akibat menggunakan beberapa metode lain yang disebutkan tidak mungkin karena ketidakmampuan peneliti untuk menyeleksi sampel secara tepat atau untuk mengontrol variabel-variabel ekstranus atau yang tidak relevan.

CONTOH 13 Pembatasan atau prosedur-prosedur penelitian dapat meminta peneliti untuk lebih menggunakan beberapa metode lain daripada metode eksperimental. Akan menjadi tidak tepat untuk menyebabkan agresivitas dalam satu kelompok anak remaja dan tidak untuk yang lain, untuk menentukan jika agresivitas berhubungan dengan kenakalan remaja. Bagaimanapun, menggunakan metode kausal-komparatif, seorang peneliti dapat menyeleksi sekelompok anak remaja yang tidak dianggap nakal untuk menentukan jika mereka berbeda sama sekali dari sekelompok anak nakal yang menunjukkan sikap agresif. Sebuah studi tidak akan menegaskan atau menolak hipotesis yang berhubungan antara dua variabel. Sebuah hubungan mungkin ditemukan, tetapi mengatribusikan kenakalan remaja dengan agresif menjadi tidak tepat karena fakto-faktor lingkungan yang lain dapat dioperasikan atau sampel-sampel yang digunakan mungkin tidak akan sama dengan variabel yang lain. Tentu saja mungkin kenakalan remaja lebih disebabkan oleh agresi daripada sebaliknya.

Subyek-Subyek Selain Manusia

Penelitian dalam psikologi belajar sering melibatkan penggunaan hewan-hewan sebagai subyek. Alasan-alasan untuk hal ini meliputi mengurangi biaya, kemudahan mendapatkan hewan-hewan, mempercepat tingkat reproduksi (yang memungkinkan mempelajari banyak keturunan dengan cepat), dan kesempatan untuk memelihara hewan-hewan dalam setting eksperimental selama periode waktu yang panjang.
Selain itu, alasan utama untuk lebih menggunakan hewan-hewan daripada manusia adalah untuk memenuhi perhatian etika. Penelitian dalam bidang-bidang seperti kemunduran sensori, pengembangbiakan selektif, atau percobaan yang menyebabkan stress biasanya lebih tepat dilakukan pada hewan-hewan daripada manusia.

Etika dalam Penelitian

Menggunakan hewan-hewan sebagai subyek dapat memenuhi perhatian etika dalam penelitian. Ketika manusia harus digunakan dalam penelitian, para peneliti harus melindungi hak subyek secara pasti. Para peneliti tidak boleh membuat subyek mengalami bahaya baik psikologis maupun fisik.
Subyek manusia yang dipilih untuk berpartisipasi dalam penelitian seharusnya diberi penjelasan secara singkat tentang apa yang akan terjadi sebelum menyetujui untuk berpartisipasi. [Ini disebut memperoleh persetujuan yang diinformasikan (informed consent)]. Ketika prosedur membahayakan dengan menampakkan bagian badan terlarang dari studi sifat, peneliti seharusnya memperoleh izin untuk mengadakan studi dari panitia yang memiliki banyak pengetahuan, kemudian mendiskusikan sifat penelitian dengan subyek-subyek setelah mereka menyelesaikan partisipasinya.

CONTOH 14 Jika peneliti ingin mempelajari “belajar tanpa paksaan”, prosedur akan dijalankan dengan memberi penjelasan kepada subyek sebelumnya. Jadi, prosedur seharusnya dijelaskan oleh panitia, kemudian dijelaskan kepada subyek-subyek setelah eksperimen selesai dilakukan.

Soal-Soal yang Terpecahkan

1.1 Andaikata, sebuah situasi hipotesis (dan agak tidak mungkin). Seekor simpanse yang tidak terlatih ditempatkan di hadapan sebuah mesin ketik elektrik untuk pertama kali. Para psikolog yang mengobservasi perilaku simpanse mencatat bahwa perilaku hewan tersebut menekan beberapa tombol dari mesin ketik, mengeja kata “cats”. Akankah hal itu membuat sensasi untuk mengatakan bahwa simpanse sudah belajar untuk mengetik kata ini?

Tidak. Belajar didefinisikan sebagai perubahan yang relatif permanent pada repertoir perilaku organisme sebagai hasil dari pengalaman. Simpanse itu menunjukkan perilaku baru, tetapi dia hampir tidak mungkin menunjukkan perilaku tersebut lagi. Perubahan ini bersifat sementara. Lebih lanjut lagi, tidak dapat dikatakan bahwa perilaku sudah menjadi bagian dari repertoir perilaku simpanse. (Satu kejadian dari perilaku tidak berarti bagian dari repertoir perilaku organisme). Akhirnya, simpanse tidak pernah memanipulasi abjad atau mesin ketik sebelumnya, sehingga tidak akan memiliki pengalaman sebelumnya dengan mereka. Dalam segala kemungkinan, para psikolog akan mendeskripsikan performansi simpanse—mengetik kata “cats”—sebagai kemungkinan hasil dari simpanse menekan tombol-tombol tertentu secara ceroboh.

1.2 Para psikolog yang mempelajari belajar sering mengacu pada 3 tahap dalam proses belajar: acquisition, storage, dan retrieval. Jelaskan istilah-istilah ini.

Acquisition mengacu pada bagian dari proses belajar di mana organisme mengasimilasi perilaku baru ke dalam repertoirnya melalui latihan; selama fase acquisition asosiasi antara sebuah stimulus dan respon tertentu mungkin dikembangkan. Storage mengacu pada tahap di mana latihan telah dihentikan tapi respon belajar dipertahankan sebagai sebuah perilaku potensial oleh organisme; fase belajar ini terkadang juga mengacu pada tahap ingatan atau memori. Retrieval, tahap ketiga dari proses belajar, mengacu pada fase di mana perilaku yang dipelajari sebelumnya, yang disimpan sebagai potensi dalam organisme, diterjemahkan ke dalam perilaku nyata, atau dalam performansi.
Penting untuk diperhatikan, bagaimanapun, 3 tahap belajar itu tidak terjadi secara terpisah satu sama sekali dan berdiri sendiri satu sama lain. Tentu saja, dalam situasi belajar yang diberikan ketiga tahap itu dapat muncul. Contohnya, seorang anak kecil yang belajar untuk berkata “mama” dapat mengulang kata, atau perkiraan untuk itu, 20 kali dalam 1 jam. Pengulangan kata ini dapat dimengerti sebagai bagian tahap acquisition, di mana anak kecil sedang mengembangkan sebuah asosiasi antara stimulus (seperti kehadiran ibu atau isyarat verbal) dan respon, mengatakan “mama”. Juga benar, bagaimanapun juga bahwa tiap-tiap waktu anak kecil mengulangi frase kata dia sedang mengingatnya (retrieval) dan memori (storage). Jadi, acquisition, storage, dan retrieval saling melengkapi dan mempengaruhi satu sama lain. Mereka bukan 3 kejadian yang berbeda, tapi aspek-aspek dari satu fenomena.

1.3 Dikatakan bahwa belajar adalah “tidak nyata”. Apa artinya?

Belajar adalah sebuah konsep, dan bukan sesuatu yang bisa diobservasi secara langsung. Para psikolog dapat melihat bukti belajar dalam performansi organisme, dan belajar dapat digunakan untuk menjelaskan atau memprediksikan perilaku tertentu. Tapi belajar tidak dapat diobservasi di dalam dan padanya. Konsep seperti belajar terkadang disebut konstruk hipotetis (hypothetical construct). Mereka bermanfaat karena memungkinkan kita untuk memprediksikan dan menjelaskan perilaku-perilaku tertentu, sekalipun mereka tidak dapat secara langsung diobservasi.

1.4 Apa perbedaan antara performansi dan belajar?

Performansi adalah tampak (overt). Yaitu sebuah bentuk perilaku, dan oleh karena itu dapat diamati dan diukur. Belajar tidak dapat diamati atau diukur secara langsung.

1.5 Apa hubungan antara performansi dan belajar?

Performansi dari beberapa macam perilaku tertentu dapat dijelaskan dengan konsep belajar, dan hanya melalui observasi terhadap performansi saja kita dapat menyimpulkan belajar. Dalam beberapa hal, belajar memfasilitasi beberapa macam performansi tertentu, atau memungkinkan performansi. Sebuah masalah timbul, bagaimanapun, karena performansi bukan sebuah indikator belajar yang secara absolut reliabel. Organisme dapat menunjukkan beberapa perilaku yang tidak dipelajari, atau tidak menunjukkan perilaku tertentu yang telah dipelajari. Para psikolog telah mengidentifikasi beberapa variabel performansi nonbelajar—faktor-faktor yang bukan hasil belajar tetapi mempengaruhi performansi. Dalam penggunaan performansi sebagai indikator atau ukuran belajar, para psikolog harus memperhitungkan pengaruh variabel-variabel ini.

1.6 Motivasi adalah salah satu dari variabel-variabel performansi nonbelajar yang paling penting. Apa penemuan umum mengenai dampak tingkat motivasi pada performansi?

Penelitian mengindikasikan bahwa dampak motivasi pada performansi dapat digambarkan dengan kurva yang sedikit miring (juling) dan berbentuk U terbalik. Itulah performansi yang terbaik adalah ketika subyek mengalami tingkat motivasi cukup tinggi, tapi lebih buruk ketika motivasi rendah atau sangat tinggi. Ketika kondisi-kondisi motif mencampuri performansi, para psikolog tidak dapat menyimpulkan bahwa perilaku belum dipelajari. Malahan mereka harus membatasi diri untuk mengatakan bahwa subyek tidak mampu menunjukkan respon pada waktu itu.

1.7 Dua variabel performansi nonbelajar tambahan yaitu sensitisasi dan habituasi. Bagaimana keadaan seperti itu? Bagaimana mereka dibedakan?

Baik “sensitisasi” maupun “habituasi” mengacu pada sebuah perubahan dalam reaktivitas subyek terhadap stimuli bukan karena asosiasi yang dipelajari tapi benar-benar sebagai sebuah hasil reaksi terhadap stimuli. Mereka berbeda yaitu sensitisasi meliputi sebuah kenaikan, atau kecenderungan yang meningkat, untuk merespon sebagai hasil reaksi terhadap stimuli, sedangkan habituasi meliputi penurunan, atau kecenderungan yang berkurang untuk merespon.

1.8 Mengapa adaptasi sensori juga lebih dianggap sebagai variabel performansi nonbelajar daripada contoh belajar?

“Adaptasi sensori” mengacu pada perubahan yang berlangsung untuk seluruh sensori yang dirasakan. Karena lebih merupakan perubahan dalam merespon hasil-hasil dari penyesuaian diri fisiologis daripada asosiasi belajar, adaptasi sensori disebut sebuah variabel performansi nonbelajar.

1.9 Orang yang lebih tua terkadang tidak mampu menunjukkan respon-respon yang dipelajari sebelumnya. Variabel performansi nonbelajar apa yang dapat menjelaskan hal ini?

Beberapa orang tua menjadi pikun. Senescene sering disertai kemunduran fisiologis dan memperlihatkan disfungsi sistem saraf. Ketika hal ini terjadi, performansi tidak dapat menggambarkan belajar yang diterima sebelum degenerasi dikembangkan.

1.10 Juga benar bahwa orang-orang muda terkadang tidak dapat menunjukkan respon-respon karena variabel performansi nonbelajar dari maturasi. Apa maturasi itu dan bagaimana ia mempengaruhi performansi?

“Maturasi” mengacu pada proses-proses pertumbuhan biologis. Contoh klasik dari dampak maturasi adalah pada perkembangan berjalan pada anak-anak. Seorang anak yang tidak dapat belajar berjalan sampai kebutuhan otot dan perkembangan saraf (maturasi) terjadi. Adanya fakta bahwa seorang anak yang tiba-tiba menunjukkan sebuah perilaku tidak berarti bahwa belajar telah berlangsung. Itu mungkin bahwa tingkat maturasi yang cukup yang akhirnya dicapai, memungkinkan ekspresi perilaku.

1.11 Misalnya seorang subyek dalam eksperimen belajar setuju untuk menunjukkan tugas belajar khusus 10 jam tanpa henti. Performansi tugasnya dapat kelihatan memburuk pada jangka waktu itu. Variabel performansi nonbelajar apa yang dapat menjelaskan kemunduran ini?

Kemungkinan besar variabel adalah kelelahan. Walaupun memori dari belajar sebenarnya tidak menderita sama sekali, kelelahan tidak memungkinkan subyek untuk benar-benar menunjukkan respon. Sekali subyek mempunyai kesempatan untuk beristirahat dan kelelahan sudah dihilangkan, mungkin performansi respon akan kembali pada tingkat yang sebelumnya.

1.12 Di dalam rumah sakit jiwa-rumah sakit jiwa, telah ditemukan bahwa beberapa pasien yang diberi terapi saat di bawah pengaruh obat tidak mempertahankan dampak terapi ketika dalam keadaan tanpa obat. Variabel performansi nonbelajar apa yang dapat menjelaskan hasilnya?

Fenomena yang diilustrasikan dengan contoh ini disebut perubahan stimulus atau state-dependent learning (belajar bergantung keadaan). Secara umum, ini berarti bahwa jika organisme mempelajari respon dalam satu keadaan (atau kondisi stimulus) sebuah pengurangan dalam tingkat performansi dapat diperkirakan ketika situasi stimulus diubah. Dan lagi, pengurangan ini tidak perlu menggambarkan perubahan dalam belajar.

1.13 Bagaimana sebuah refleks dan insting berbeda satu sama lain? Bagaimana persamaan mereka?

Sebuah refleks adalah respon yang sederhana. Tidak dipelajari, dan tiba-tiba untuk beberapa stimulus khusus. Insting-insting adalah pola respon yang lebih kompleks dan tidak dipelajari yang mungkin dicocokkan dengan beberapa stimuli. Refleks-refleks dan insting-insting berbeda dalam kerumitan mereka, tapi sama dalam keduanya tidak dipelajari, atau pembawaan lahir.

1.14 Dalam usaha untuk mempelajari perubahan dalam penerangan ruang pada performansi sebuah tugas pemisahan obyek, seorang psikolog menetapkan lima kondisi penerangan yang berbeda dan mengukur waktu untuk masing-masing penyelesaian tugas subyek. Apa tipe metode penelitian yang diilustrasikan oleh contoh ini? Apa variabel-variabel utama dari metode ini? Identifikasi variabel-variabel dalam contoh ini.

Ini adalah sebuah contoh yang menggunakan metode eksperimen. Dua variabel utama metode eksperimen adalah variabel independen (kondisi dimanipulasi oleh eksperimenter) dan variabel dependen (respon diukur). Dalam eksperimen ini variabel independen adalah kondisi penerangan dan variabel dependen adalah waktu untuk menyelesaikan tugas pemisahan obyek.

1.15 Yang manakah kelompok-kelompok eksperimental dan kontrol dalam percobaan yang digambarkan dalam Soal 1.14?

Kelompok kontrol bertindak sebagai suatu standar perbandingan yang melaluinya performansi kelompok atau kelompok-kelompok eksperimental dapat dievaluasi. Dalam eksperimen ini kemungkinan bahwa kelompok kontrol akan menjadi kelompok yang mengalami kondisi penerangan paling “normal” atau “biasa”, dengan empat kelompok lainnya yang disebut kelompok-kelompok eksperimental (Bagaimanapun, analisis-analisis statistikal dapat dibuat perbandingan performansi dari subyek pada setiap anggota kelompok-kelompok dengan setiap atau semua anggota kelompok-kelompok lain).

1.16 Mengapa para psikolog menerima konsep bahwa sebuah eksperimen dapat digunakan untuk menegaskan atau tidaknya sebuah hipotesis tapi tipe belajar lainnya tidak dapat?

Tiga perbedaan penting antara eksperimen-eksperimen dan metode-metode pengumpulan data yang lain adalah (1) seleksi subyek dalam eksperimen-eksperimen dilakukan dengan menggunakan teknik sampling; (2) eksperimenter dapat memanipulasi variabel independen; (3) kontrol dari variabel-variabel ekstraneous (luar) hanya mungkin dalam setting eksperimen.

1.17 Misalnya subyek-subyek untuk tugas pemisahan obyek yang disebutkan lebih awal adalah anak-anak prasekolah berusia 3 dan 4 tahun. Bagaimana para psikolog menggunakan sampling acak dalam prosedur?

Semua subyek yang ditunjuk (populasi) akan mempunyai kesempatan terpilih yang sama untuk eksperimen dan untuk setiap kelompok dalam eksperimen. Para psikolog dapat mengambil daftar nama yang terdiri dari populasi dan kemudian menggunakan sebuah tabel dari nomor acak untuk menyeleksi subyek-subyek untuk masing-masing kelompok. Diharapkan bahwa semua kelompok akan menjadi serupa mungkin dan mewakili populasi (representatif).

1.18 Teknik-teknik sampling lain apa yang terkadang digunakan dalam menyeleksi kelompok untuk sebuah eksperimen?

Dua teknik sampling lain yang paling umum adalah stratified sampling dan matched sampling. Ketika stratified sampling digunakan, subkelompok yang dapat diidentifikasi dalam populasi ditampilkan menurut persentasenya dalam komposisi populasi. Matched sampling digunakan ketika karakteristik-karakteristik subyek yang penting mungkin membias hasil. Subyek-subyek dipilih untuk masing-masing kelompok eksperimental dan kelompok kontrol sehingga karakteristik-karakteristik stabil dan tidak ada satu kelompok yang mempunyai keuntungan atau kerugian berdasarkan pada seleksi kelompok. Jika eksperimenter dalam Soal 1.17 diminta untuk menciptakan sebuah stratified sampling, mereka mungkin dapat meyakinkan bahwa proporsi perempuan dan laki-laki serta usia 3 dan 4 tahun dalam masing-masing kelompok akan dengan akurat menggambarkan proporsi populasi keseluruhan. Mereka dapat menggunakan sebuah sampel yang dicocokkan jika mereka ingin meyakinkan masing-masing kelompok mempunyai jumlah yang sama dari murid-murid berbakat atau pelajar lamban—atau apapun karakteristik lainnya yang mereka identifikasi yang memungkinkan untuk mempengaruhi hasil.

1.19 Karakteristik-karakteristik dari eksperimen yang bermanfaat diringkas dengan kata “berarti (meaningful)”. Apa yang dimaksud eksperimenter ketika mereka mengatakan subuah eksperimen itu berarti?

Eksperimen yang berarti adalah umum, empiris, dapat ditiru, dan teratur. Umum dalam pengertian bahwa semua data, teknik-teknik, dan informasi lain yang berhubungan dengan eksperimen tersedia untuk tinjauan yang meragukan dan kritis.

1.20 Di samping metode eksperimenal, teknik-teknik pengumpulan data apa yang digunakan untuk mempelajari belajar? Mengapa tidak mungkin untuk menggunakan metode-metode ini untuk menerima atau menolak sebuah hipotesis?

Cara lain untuk pengumpulan data meliputi observasi naturalistik, studi-studi kausal-komparatif, studi-studi korelasional, tes-tes atau survei-survei psikologis, dan histori-histori kasus klinis. Studi-studi ini dapat menyediakan banyak informasi dalam psikologi belajar, tapi tidak bisa digunakan untuk menerima atau menolak hipotesis karena kemungkinan bias. Beberapa kemungkinan ditimbulkan oleh ketidakmampuan untuk menyeleksi subyek-subyek yang diukur untuk memastikan representasi populasi, kemungkinan dari variabel-variabel ekstranus atau yang tidak relevan yang bisa mempengaruhi hasil, dan kurangnya standar obyektif yang berhubungan dengan pengukuran yang dipakai.

1.21 Banyak studi penelitian dalam psikologi belajar melibatkan penggunaan hewan-hewan sebagai subyek. Apa alasannya untuk lebih menggunakan hewan sebagai subyek daripada manusia?

Para peneliti dalam psikologi belajar menggunakan hewan-hewan sebagai subyek dengan berbagai alasan. Menggunakan hewan lebih murah dibandingkan dengan manusia. Hewan mudah didapatkan sebagai subyek, hewan dapat dipelihara dalam kondisi eksperimental dalam jangka waktu lama, dan reproduksi hewan lebih cepat daripada manusia, sehingga memungkinkan studi dampak-dampak generasional dengan lebih cepat. Di samping itu, beberapa studi yang dilakukan pada hewan akan bertentangan dengan etika jika dilakukan pada manusia—contohnya, studi-studi atau penelitian-penelitian perkembangbiakan yang meliputi menggantikan ibu kandung dengan ibu pengganti.

1.22 Apakah ilmuwan psikolog pernah mencoba mempelajari psikologi belajar dengan subyek-subyek selain manusia atau hewan tingkat tinggi?

Penelitian menggunakan hewan-hewan bersel satu (protozoa) yang paling sederhana telah dilaporkan, dengan hasil yang kontroversial yang diimplikasikan kemungkinan belajar sudah berlangsung. Yang lebih diperdebatkan, William Mikulas (1974) telah dilaporkan dalam sebuah studi yang tidak dipublikasikan, yang diduga melibatkan belajar dari menutupnya daun oleh tanaman Mimosa pudica. Para psikolog di masa akan datang harus menentukan jangkauan bukti yang akan diterima sebagai gambaran perilaku yang dipelajari.

1.23 Soal 1.21 menyebutkan etika dalam penelitian. Di samping untuk mengganti hewan dengan manusia dalam beberapa studi , apa saja cara para psikolog untuk menunjukkan perhatian untuk masalah-masalah etika?
Para psikolog menggunakan berbagai metode penelitian pengumpulan data dari subyek-subyek manusia menunjukkan perhatian untuk subyek-subyek itu dengan mendesain studi-studi mereka sehingga subyek-subyek tidak berada dalam bahaya baik fisik maupun psikisnya. Hal ini dapat mencakup beberapa latihan untuk menghindari invasi privasi, dengan teliti mengontrol prosedur-prosedur fisik kejutan listrik atau administrasi obat, atau menyediakan penjelasan yang berkaitan dengan maksud penelitian.

1.24 Frase apa yang telah muncul sebagai representatif dari hak manusia sebagai subyek dalam studi penelitian?

Frase yang digunakan adalah “persetujuan yang diinformasikan (informed consent). Implikasinya adalah bahwa subyek tidak harus diharapkan untuk berpartisipasi sampai mereka mempunyai informasi yang cukup untuk memiliki pengertian yang kuat dari tujuan studi dan sampai mereka telah menyetujui untuk berpartisipasi dalam studi tersebut.

1.25 Andaikan peneliti takut pembukaan rahasia dari maksud studi akan membuka rahasia tujuan percobaan dan kemudian terdapat bias hasil. Apa yang dapat dilakukan?

Ketika penipuan diperlukan, peneliti dapat menerangkan studi dengan panitia pengawas dan konsumen potensial (subyek-subyek) sehingga penipuan dapat dipertahankan. Ketika studi selesai, peneliti seharusnya menginformasikan partisipan tentang apa maksud sebenarnya dan apa jenis hasil yang diperoleh.

1.26 Adakah perhatian yang dapat dibandingkan untuk perlindungan subyek-subyek hewan?

Sebagian besar laboratorium memiliki kebijakan-kebijakan yang sangat sama untuk melindungi subyek hewan yang digunakan. Sering, jika peneliti mempunyai keraguan tentang prosedur potensial, formatnya disampaikan kepada panitia untuk meninjau kembali sebelum pengumpulan data penting dimulai.

Istilah-Istilah Kunci

Acquisition. Fase belajar di mana individu mengasimilasikan perilaku baru, respon baru menjadi bagian dari repertoir perilaku individu.

Adaptasi sensori. Penyesuaian diri secara fisiologis terhadap situasi stimulus.

Belajar. Perubahan yang relatif permanen dalam repertoir perilaku individu sebagai hasil dari pengalaman.

Habituasi. Pengurangan kecenderungan untuk merespon stimulus tertentu sebagai hasil respon sebelumnya terhadap stimulus itu.

Hypothetical construct. Konsep yang tidak dapat diukur secara langsung, tetapi dapat digunakan untuk menjelaskan atau memprediksikan peristiwa-periswtia tertentu yang dapat diobservasi.

Imprinting. Penerimaan yang sangat cepat untuk merespon selama periode perkembangan yang kritis; secara khusus karakteristik dari aves.

Informed consent. Sebuah keputusan subyek eksperimental untuk berpartisipasi dalam eksperimen setelah diperkenalkan dengan prosedur yang akan digunakan.

Insting. Pola respon yang tidak dipelajari dari kompleks yang dibuat oleh semua anggota spesies terhadap kondisi-kondisi stimulus tertentu.

Kelompok kontrol. Dalam percobaan ilmiah, subyek-subyek yang respon-responnya digunakan sebagai standar untuk pembandingan; respon-respon mereka dibandingkan dengan kelompok atau kelompok-kelompok eksperimental.

Korelasi. Gambaran numerik dan hubungan antara dua variabel.

Kelompok eksperimental. Dalam percobaan ilmiah, subyek yang merespon terhadap kondisi-kondisi variabel yang bebas; respon-respon mereka dibandingkan dengan kelompok kontrol.

Matched sampling. Teknik untuk menyeleksi subyek di mana setiap kelompok dalam eksperimen memiliki jumlah subyek yang sama yang memiliki beberapa karakteristik yang dapat mempengaruhi hasil.

Motivasi. Kondisi yang mengawali, mengarahkan, dan mempertahankan respon.

Observasi naturalistik. Observasi peristiwa yang teliti yang tidak dimanipulasi.

Performansi. Respon sebenarnya yang ditunjukkan oleh organisme; yang dapat atau tidak dapat menggambarkan apa yang sudah dipelajari.

Populasi. Keseluruhan kelompok yang dipelajari dalam eksperimen.

Random sampling. Teknik untuk menyeleksi subyek-subyek sehingga setiap subyek potensial memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih.

Refleks. Respon yang tidak dipelajari, sederhana, dan segera terhadap stimulus tertentu.

Retrieval. Dalam belajar, fase di mana informasi diproduksi sebagai respon dari storage.

Sampel. Sebuah kelompok subyek yang representatif dari populasi

Sensitisasi. Peningkatan kecenderungan untuk merespon stimulus yang sebenarnya sebagai hasil respon yang sebelumnya terhadap stimulus tersebut.

State-dependent learning. Asosiasi dari materi-materi yang dipelajari dengan lingkungan yang mereka pelajari.

Storage. Dalam belajar, fase di mana informasi dipertahankan.

Stratified sampling. Teknik untuk menyeleksi subyek sehingga subkelompok yang signifikan dalam populasi digambarkan secara tepat dalam komposisi kelompok (eksperimental atau kontrol) dalam eksperimen.

Variabel dependen. Respon terukur dalam sebuah eksperimen.

Variabel ekstranus. Kondisi-kondisi yang dapat mempengaruhi hasil eksperimen tapi tidak relevan dengan eksperimen.

Variabel independen. Kondisi yang dimanipulasi oleh seorang eksperimenter untuk menentukan dampak dari beberapa manipulasi pada variabel dependen.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: