HAKIKAT ILMU

A. Definisi Ilmu

Pada hakikatnya, upaya manusia dalam memperoleh pengetahuan didasarkan pada tiga masalah pokok: apa yang ingin kita ketahui? bagaimana cara memperoleh pengetahuan? dan apakah nilai pengetahuan tersebut bagi kita?. Ilmu merupakan salah satu dari pengetahuan manusia. Untuk bisa mengetahui ilmu sebagaimana mestinya, maka kita harus mengerti apa hakekat ilmu itu.

Dalam bahasa Inggris, ilmu seringkali diartikan sebagai science, dari bahasa Latin scintea (pengetahuan) scire (usaha-usaha untuk mengetahui). Sinonim yang paling mendekati dalam bahasa Yunani adalah episteme. Sedangkan definisi ilmu secara umum adalah suatu kesatuan ide (pengetahuan) yang mengacu ke objek (atau alam objek) yang sama dan saling berkaitan secara logis (Bagus, 2002:307).

B. Ciri-Ciri Ilmu

Sebagaimana kita ketahui, ada empat jenis pengetahuan yaitu: pengetahuan biasa atau pengetahuan sehari-hari (ordinary knowledge), pengetahuan filsafat (philosophy knowledge), pengetahuan religius (religious knowledge) dan pengetahuan ilmiah (scientific knowledge). Sedangkan ilmu merupakan kumpulan pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri khusus yang membedakannya dengan pengetahuan-pengetahuan lainnya. Artinya, tidak semua pengetahuan dapat dikategorikan sebagai ilmu (science), namun hanya pengetahuan-pengetahuan yang memenuhi syarat-syarat ilmiah sajalah yang dapat disebut sebagai ilmu. Syarat-syarat tersebut antara lain:

  1. Empiris dan Rasional

Suatu pengetahuan dapat disebut sebagai suatu ilmu jika dia dapat diuji atau diverifikasi kebenarannya baik secara apriori maupun empiris.

  1. Sistematik

Susunan pengetahuan ilmiah dan cara-cara pemerolehan pengetahuan ilmiah harus merupakan suatu sistem yang bersifat utuh. Penyusunan bagian-bagian pengetahuan ilmiah menurut suatu sistem yang utuh dan tahap-tahap pemerolehan pengetahuan ilmiah yang bersifat sistematik akan sangat membantu tercapainya suatu kepastian kebenaran ilmiah yang diharapkan.

  1. Intersubjektif

Suatu hasil penelitian ilmiah, konsep ilmiah, teori ilmiah dan hukum ilmiah harus dapat diuji dan dibuktikan oleh peneliti atau ilmuan lain. Dengan cara ini, maka sifat terlalu subjektif individual dapat dihindari, sehingga pada kesempatan berikutnya dapat dijamin keabsahan ilmiah suatu hasil penelitian, konsep ilmiah, teori ilmiah dan hukum ilmiah. Berdasarkan syarat ketiga ini pula kita dapat melihat bahwa kebenaran ilmiah sangat tergantung pada suatu hasil kesepakatan antar subjek ilmuan yang bekerja menurut sistem ilmiah tertentu.

C. Bidang Telaah Ilmu

Apakah yang ingin diketahui ilmu?. Pengetahuan agama memasukkan hal-hal yang berada di luar jangkauan pengalaman manusia sebagai ruang lingkup kajiannnya. Berbeda dengan pengetahuan agama, pengetahuan ilmiah membatasi diri hanya pada kejadian-kejadian yang bersifat empiris. Objek penelaahan ilmu mencakup semua aspek kehidupan yang dapat diuji oleh pancaindera manusia seperti mempelajari batu-batuan, binatang, tumbuh-tumbuhan atau manusia itu sendiri. Berdasarkan objek telaahnya, maka ilmu dapat disebut sebagai suatu pengetahuan empiris, di mana objek yang berada di luar jangkauan manusia tidak termasuk ke dalam bidang penelaahan ilmu tersebut. Inilah yang merupakan salah satu ciri ilmu yakni orientasi terhadap dunia empiris.

Ilmu beranggapan bahwa objek empiris yang menjadi bidang telaahnya mempunyai sifat keseragaman, memperlihatkan sifat berulang dan semuanya jalin-menjalin menjadi satu. Suatu peristiwa tidak terjadi secara kebetulan, namun mempunyai pola tetap yang teratur seperti hujan turun diawali dengan awan dan mendung. Hal ini bukanlah merupakan suatu kebetulan, tetapi karena memang telah terpola seperti demikian. Kejadian ini akan terulang dengan pola yang sama karena alam merupakan suatu sistem yang teratur yang tunduk kepada hukum-hukum tertentu (Suriasumantri, 1982:7). Secara lebih terperinci, ilmu mempunyai tiga asumsi mengenai objek empiris ini. Asumsi pertama menganggap objek-objek tertentu mempunyai keserupaan satu sama lain seperti dalam hal bentuk, sifat dan struktur. Berdasarkan hal ini maka para ilmuan mengklasifikasikan objek yang serupa ke dalam satu klasifikasi. Dengan adanya klasifikasi ini para ilmuan mengklasifikasikan hewan misalnya, ke dalam klasifikasi herbivora, carnivora dan omnivora.

Asumsi kedua adalah anggapan bahwa suatu benda tidak mengalami perubahan dalam jangka waktu tertentu karena kegiatan ilmiah bertujuan mempelajari suatu objek dalam keadaan tertentu. Kegiatan ini jelas tidak mungkin dilakukan bila objek selalu berubah-ubah setiap waktu. Meskipun begitu, kita tidak mungkin menuntut adanya kelestarian yang absolut, sebab seiring perjalanan waktu, setiap benda akan mengalami perubahan. Oleh karena itu, ilmu hanya menuntut adanya kelestarian yang relatif, artinya sifat-sifat pokok suatu benda tidak berubah dalam jangka waktu tertentu. Kelestarian relatif dalam jangka waktu tertentu ini memungkinkan ilmuan untuk melakukan pendekatan ilmiah terhadap objek yang ingin mereka selidiki.

Asumsi ketiga adalah determinisme. Kita menganggap bahwa tiap gejala bukan merupakan suatu kejadian yang bersifat kebetulan. Tiap gejala mempunyai sifat tertentu yang bersifat tetap dengan urut-urutan kejadian yang sama seperti sate yang dibakar akan mengeluarkan bau yang khas. Hal ini bukanlah suatu kebetulan karena memang sudah seperti itulah hakekat polanya. Demikian juga berbagai kejadian yang kita temui sehari-hari. Namun sama separti asumsi kelestarian, ilmu tudak menuntut adanya hubungan sebab-akibat yang mutlak sehingga suatu kejadian tertentu harus diikuti oleh suatu kejadian yang lain. Suatu ilmu tidak mengatakan “X selalu mengakibatkan Y”, tetapi mengatakan bahwa X mempunyai kemungkinan (peluang) yang besar untuk mengakibatkan terjadinya Y karena determinisme dalam ilmu mempunyai konotasi yang bersifat peluang (probabilistik).

D. Klasifikasi Ilmu

Tujuan filsafat pada masa awal (zaman filsafat alam atau natural philosophy atau zaman Pra-Sokrates) adalah mencari unsur-unsur dasariah alam semesta, suatu usaha yang saat ini disebut ilmiah. Pada periode ini tidak dibuat pembedaan antara ilmu dan filsafat. Kemudian pada masa-masa selanjutnya, ilmu dianggap sebagai bagian dari filsafat dan para filosof menggolongkannya ke dalam beberapa kategori, beberapa dari mereka membuat tingkatan-tingkatan di antara golongan-golongan ilmu tersebut. Di antara para filosof tersebut adalah:

  1. Robert Kilwardby membedakan ilmu menjadi ilmu yang mengupas hal-ihwal ilahi dan yang mengupas hal-ihwal manusia.

  2. Roger Bacon membagi ilmu menjadi ilmu teologi, eksperimental dan ilmu spekulatif. Ilmu eksperimental dianggap lebih tinggi daripada ilmu spekulatif. Tetapi teologi, yang bertolak dari pengalaman batin, lebih unggul dari keduanya.

  3. Hobbes menyatakan bahwa ilmu ada dua tipe: ilmu yang berasal dari fakta (empiris) dan ilmu yang berasal dari akal (rasio). Tapi menurut Rene Descartes, akal budi (rasio) adalah satu-satunya sumber ilmu.

  4. Windelband mengklasifikasikan ilmu menjadi ilmu alam dan ilmu sosial. Haeberlin memandang bahwa ilmu sosial sebagai yang primer dan ilmu alam sebagai yang sekunder.

E. Metode Keilmuan

Ilmu merupakan pengetahuan yang didapat melalui proses tertentu yang disebut metode keilmuan. Hakekat ilmu ditentukan oleh cara berpikir yang terbagi menjadi dua jika ditinjau dari sejarah manusia, rasional dan empiris.

Sebagaimana disinggung di atas, kaum rasionalisme berpendapat bahwa akal budi (rasio) adalah satu-satunya sumber ilmu. Namun bagaimana mungkin kita akan mendapatkan suatu pengetahuan jika pengetahuan tersebut tercerai berai dalam pengalaman manusia?. Oleh karena itu muncullah pola pikir empirisme yang menganjurkan kita agar kembali ke alam untuk mendapatkan pengetahuan. Menurut empirisme, pengetahuan tidak muncul begitu saja dalam akal kita, melainkan harus diperoleh lewat pengalaman. Lalu berkembanglah apa yang dinamakan pola pikir empiris, yang semula berasal dari sarjana-sarjana Islam dan kemudian terkenal di dunia Barat lewat tulisan Francis Bacon (1561-1626) dalam bukunya Novum Organum yang terbit pada tahun 1620.

Apakah pendekatan empiris ini membawa kita lebih dekat kepada kebenaran? Ternyata tidak, sebab gejala yang terdapat dalam pengalaman kita baru mempunyai arti kalau kita memberikan tafsiran terhadap mereka. Kitalah yang memberi mereka sebuah arti sebagai sebuah nama, sebuah tempat, atau apa saja. Bintang-bintang di langit hanyalah tebaran kilauan-kilauan yang bisu sampai kita memberikan tafsiran terhadap wujud mereka. Dari sini para filosof menyadari bahwa cara berpikir empiris dan rasional mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Timbullah gagasan untuk menggabungkan kedua cara berpikir ini untuk menyusun metode yang lebih dapat diandalkan dalam menemukan pengetahuan yang benar. Gabungan antara cara berpikir rasional dan empiris inilah yang dinamakan metode keilmuan. Rasionalisme memberikan kerangka pemikiran yang koheren dan logis. Sedangkan empirisme memberikan kerangka pengujian dalam memastikan suatu kebenaran. Kedua cara berpikir ini jika dipakai secara dinamis akan menghasilkan pengetahuan yang konsisten, sistematis dan dapat diandalkan.

Kesimpulan

Definisi ilmu secara umum adalah suatu kesatuan ide (pengetahuan) yang mengacu ke objek (atau alam objek) yang sama dan saling berkaitan secara logis. Meskipun begitu tidak semua pengetahuan dapat dikategorikan sebagai pengetahuan ilmiah. Hanya pengetahuan yang empiris, rasional, sistematik dan intersubjektiflah yang dapat dianggap sebagai pengetahuan ilmiah. Sedangkan objek penelaahan ilmu mencakup semua aspek kehidupan yang dapat diuji oleh pancaindera manusia seperti mempelajari batu-batuan, binatang, tumbuh-tumbuhan atau manusia itu sendiri. Berdasarkan objek telaahnya, maka ilmu dapat disebut sebagai suatu pengetahuan empiris, di mana objek yang berada di luar jangkauan manusia tidak termasuk ke dalam bidang penelaahan ilmu tersebut. Inilah yang merupakan salah satu ciri ilmu yakni orientasi terhadap dunia empiris. Adapun cara berpikir (metode) yang digunakan untuk mendapatkan pengetahuan ilmiah disebut metode keilmuan yang merupakan penggabungan antara cara berpikir rasional dan cara berpikir empiris. Para filosof juga membagi ilmu ke dalam beberapa klasifikasi bahkan ada sebagian di antara mereka yang membuat tingkat-tingkatan di antara klasifikasi-klasifikasi tersebut.

DAFTAR RUJUKAN:

Bagus, Lorens. 2002. Kamus Filsafat. Jakarta. PT Gramedia Pustaka Utama.

Hanurawan, Dr. Fattah. 2004. Pengantar Filsafat Ilmu. Tri Umvirat Psikologikal Edition.

Hanurawan, Dr. Fattah. 2004. Pengantar Filsafat. Tri Umvirat Psikologikal Edition.

Setjoatmojdo, Prof. Dr. Pranjoto. 1988. Filsafat Ilmu Pengetahuan. Jakarta. Direktorat Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Suriasumantri, Jujun S. 1982. Ilmu dalam Perspektif. Jakarta. PT Gramedia Pustaka Utama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: