HIPERMODERNISASI & KELOLA DIRI

A. Pengantar

Setiap masyarakat selama hidup pasti mengalami perubahan-perubahan, karena tidak ada suatu masyarakat pun yang berhenti pada suatu titik tertentu sepanjang masa. Misalnya, orang-orang desa zaman sekarang sudah mengenal listrik, hp, radio, televisi dan sebagainya. Perubahan-perubahan tersebut hanya dapat ditemukan oleh seseorang yang sempat meneliti susunan dan kehidupan suatu masyarakat pada waktu tertentu dan membandingkannya dengan susunan dan kehidupan masyarakat tersebut pada waktu sebelumnya.

Perubahan-perubahan masyarakat meliputi banyak sekali aspek seperti nilai-nilai sosial, norma-norma sosial, susunan lembaga kemasyarakatan dan sebagainya. Sehingga apabila kita ingin membahas perubahan-perubahan tersebut, maka harus ditentukan perubahan manakah yang akan diteliti. Kami di sini akan membahas hipermodernisasi.

B. Definisi

Hipermodernisasi merupakan bentuk modernisasi yang berlebih-lebihan. Sedangkan modernisasi sendiri mencakup proses yang sangat luas, terkadang batas-batasnya tak dapat ditetapkan secara mutlak. Pada dasarnya pengertian modernisasi mencakup suatu tranformasi total kehidupan bersama yang tradisional atau pra modern dalam bidang teknologi serta organisasi sosial ke arah pola-pola ekonomis dan politis yang menjadi ciri negara-negara barat yang stabil. Perwujudannya adalah aspek-aspek kehidupan modern seperti mekanisasi, mass media yang teratur, urbanisasi, peningkatan pendapatan per kapita dan sebagainya. Perubahan-perubahan ke arah yang lebih modern ini merupakan suatu bentuk perubahan sosial yang harus dihadapi oleh masyarakat yang bersangkutan.

C. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya hipermodernisasi

Untuk mempelajari hipermodernisasi, perlu diketahui sebab-sebab yang melatarbelakanginya. Apabila diteliti lebih dalam, terjadinya suatu perubahan –termasuk juga hipermodernisasi – biasanya disebabkan oleh adanya sesuatu yang dianggap lebih memuaskan yang bisa menggantikan sesuatu yang sudah lama yang dianggap sudah tak lagi memuaskan. Perubahan juga bisa terjadi karena masyarakat ingin menyesuaikan suatu faktor dengan faktor-faktor lain yang sudah terlebih dahulu mengalami perubahan.

Pada umumnya sebab-sebab tersebut dapat dikategorikan menjadi sebab yang bersumber pada masyarakat itu sendiri dan sebab yang bersumber pada hal-hal di luar masyarakat tersebut.

Faktor yang bersumber pada masyarakat itu sendiri

    1. Bertambah atau berkurangnya penduduk

Pertambahan penduduk yang sangat cepat seperti di pulau Jawa menyebabkan terjadinya perubahan dalam struktur masyarakat terutama lembaga-lembaga kemasyarakatan Misal, orang lantas mengenal hak milik individual atas tanah, sewa tanah, gadai tanah dan sebagainya yang sebelumnya tidak dikenal.

Berkurangnya penduduk seperti karena berpindahnya penduduk dari desa ke kota mengakibatkan kekosongan, misalnya dalam bidang pembagian kerja dan stratifikasi sosial yang mempengaruhi lembaga-lembaga kemasyarakatan.

    1. Penemuan-penemuan baru

Penemuan-penemuan baru sebagai sebab terjadinya perubahan dapat dibedakan menjadi discovery dan infention. Discovery adalah penemuan unsur kebudayaan yang baru, baik berupa alat ataupun gagasan yang diciptakan oleh seorang individu atau serangkaian ciptaan para individu. Discovery baru menjadi invention kalau masyarakat sudah mengakui, menerima serta menerapkan penemuan baru itu.

Apabila ditelaah lebih lanjut, ada beberapa faktor pendorong munculnya penemuan-penemuan baru, diantaranya:

      1. kesadaran individu terhadap kekurangan kabudayaanya

      2. kualitas ahli-ahli dalam suatu kebudayaan

      3. rangsangan atau penghargaan-penghargaan terhadap aktivitas-aktivitas penciptaan dalam masyarakat

    1. Pertentangan (conflict) masyarakat

Tidak jarang timbul pertentangan antara kepentiongan individu dengan kepentingan kelompoknya, yang dalam hal-hal tertentu dapat menimbulkan perubahan. Seperti dalam masyarakat Batak dengan sistem kekeluargaan patrilineal murni terdapat adat apabila suami meninggal maka keturunannya berada di bawah kekuasan keluarga almarhum. Dengan terjadimya proses individualisasi terutama pada orang-orang Batak yang pergi merantau, maka terjadilah perubahan. Anak-anak tetap tinggal bersama ibunya walaupun hubungan antara si ibu dengan keluarga almarhum suaminya telah putus karena meninggalnya suami. Keadaan tersebut membawa perubahan besar pada peranan kelurga dan kedudukan wanita yang selama ini dianggap tidak mempunyai hak apa-apa apabila dibandingkan dengan laki-laki.

    1. Terjadinya pembrontakan atau revolusi

Revolusi yang meletus pada Oktober 1917 di Rusia telah mendorong terjadinya perubahan besar pada negara Rusia yang semula mempunyai bentuk kerajaan absolut berubah menjadi diktator proletariat yang di landaskan pada doktrin Marxis. Segenap lembaga kemasyarakatan mulai dari bentuk negara sampai keluarga mengalami perubahan-perubahan yang mendasar.

Faktor yang bersumber dari luar masyarakat

    1. Lingkungan alam fisik yang ada di sekitar manusia

Terjadinya gempa bumi, topan, banjir besar dan lain-lain bisa menyebabkan masyarakat yang mendiami suatu daerah terpaksa harus meninggalkan tempat tinggalnya. Apabila masyarakat tersebut mendiami tempat tinggalnya yang baru, maka mereka harus menyesuaikan diri dengan alam yang baru tersebut. Keadaan ini memungkinkan terjadinya perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga kemasyrakatannya. Suatu masyarakat yang mula-mula hidup dari bertani kemudian menetap di suatu daerah industri, maka perpindahan itu akan melahirkan perubahan-perubahan dalam diri masyarakat tersebut.

    1. Peperangan

Peperangan dengan negara lain juga dapat mendorong timbulnya perubahan-perubahan, karena biasanya negara yang menang akan memaksakan kebudayaannya pada negara yang kalah.

    1. Pengaruh kebudayaan masyarakat lain

Hubungan yang dilakukan secara fisik antara dua masyarakat mempunyai kecenderungan untuk menimbulkan pengaruh timbal-balik. Artinya, masing-masing masyarakat tidak hanya mempengaruhi masyarakat lainnya, tetapi juga menerima pengaruh dari masyarakat lain itu. Namun apabila hubungan tersebut hanya melalui alat-alat komunikasi massa, maka biasanya kemungkinan pengaruh itu hanya datang dari satu pihak saja, sedangkan pihak lain hanya menerima pengaruh tanpa mempunyai kesempatan memberikan pengaruh balik. Proses penerimaan pengaruh kebudayaan asing disebut akulturasi.

D. Faktor-faktor yang mempengaruhi jalannya modenisasi

Dalam masyarakat yang mengalami modernisasi, terdapat faktor-faktor yang mendorong (mendukung) jalannya hipermodernisasi dan faktor-faktor yang menghambat jalannya modernisasi.

I. Faktor-faktor yang mendorong (mendukung) jalannya modernisasi
  1. Kontak dengan kebudayaan lain

Dengan terjadinya penyebaran unsur-unsur kebudayaan dari individu kepada individu lain dan dari masyarakat satu ke masyarakat lain – sering juga disebut dengan difusi ­– maka manusia mampu menghimpun penemuan-penemuan baru yang talah dihasilkan. Dengan terjadinya difusi, suatu penemuan baru yang telah diterima oleh masyarakat dapat diteruskan dan disebarkan pada masyarakat luas sampai umat manusia di dunia dapat menikmati manfaatnya. Hal ini merupakan pendorong pertumbuhan suatu kebudayaan dan memperkaya kebudayaan-kebudayaan masyarakat manusia

  1. Sistem pendidikan formal yang maju

Pendidikan mengajarkan manusia untuk dapat berpikir objektif yang akan memberikan kemampuan untuk menilai apakah kebudayaan masyarakat dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan zaman atau tidak.

  1. Sikap menghargai karya seseorang dan keinginan untuk maju

Sikap tersebut merupakan pendorong terciptanya hasil-hasil karya yang baru. Contoh dari sikap tersebut adalah pemberian Nobel dan bebrapa penghargaan lainnya.

  1. Toleransi

Yang dimaksud adalah toleransi terhadap perbuatan-perbuatan menyimpang (deviation) yang bukan merupakan delik

  1. Sistem terbuka lapisan masyarakat (open stratification)

Sistem terbuka memungkinkan adanya gerak sosial yang lebih luas karena seseorang mungkin akan mengadakan identifikasi dengan warga yang berstatus sosial lebih tinggi. Keadaan ini menyebabkan seseorang berusaha untuk menaikkan kedudukan sosialnya.

  1. Penduduk yang heterogen

Masyarakat yang terdiri dari kelompok yang berbeda dalam hal latar-belakang kebudayaan, ras dan ideologi mempermudah terjadinya pertentangan-pertentangan yang mengundang kegoncangan-kegoncangan. Keadaan ini mendorong terjadinya perubahan dalam masyarakat.

  1. Ketidakpuasan masyarakat terhadap bidang-bidang kehidupan tertentu

Ketidakpuasan yang berlangsung lama dalam sebuah masyarakat berpotensi besar mendatangkan revolusi yang sudah tentu akan membawa perubahan-perubahan.

  1. Orientasi ke masa depan

  2. Nilai bahwa manusia harus senantiasa berikhtiar untuk memperbaiki hidupnya

II. Faktor yang menghambat jalannya Hipermodernisasi

    1. Kurangnya hubungan dengan masyarakat lain

Kehidupan yang terasing menyebabkan sebuah masyarakat tidak mengetahui perkembangan-perkembangan yang terjadi di luar sehingga menghambat hipermodernisasi.

    1. Perkembangan ilmu pengetahuan yang terhambat

Hal ini disebabkan hidup masyarakat tersebut terasing dan tertutup atau karena lama dijajah oleh maysarakat lain.

    1. Sikap masyarakat yang sangat tradisional

Sikap yang mengagung-agungkan tradisi dan anggapan bahwa tradisi secara mutlak tak dapat diubah, menghambat jalan hipermodernisasi. Keadaan ini bisa lebih parah jika masyarakat yang bersangkutan dikuasai oleh golongan konservatif.

    1. Adanya kepentingan-kepentingan yang tertanam kuat (vested interest)

Bagi sekelompok golongan yang dianggap sebagai pelopor proses transisi yang selalu mengidentifikasi diri dengan usaha-usaha dan jasa-jasanya atau bagi golongan yang menikmati kedudukan biasanya akan sukar untuk melepaskan kedudukannya dalam suatu proses hipermodernisasi.

    1. Rasa takut akan terjadinya kegoyahan pada integrasi kebudayaan

Kekhawatiran terhadap kegoyahan integrasi dan perubahan-perubahan pada masyarakat juga bisa menghambat hipermodernisasi.

    1. Kecurigaan terhadap hal-hal baru atau sikap yang tertutup

Sikap ini banyak dijumpai pada masyarakat yang pernah dijajah bangsa Barat. Mereka sangat mencurigai segala hal baru yang datang dari Barat karena kekhawatiran melalui hal-hal baru tersebut penjajahan bisa masuk lagi.

    1. Hambatan-hambatan yang bersifat ideologis

Hipermodernisasi seringkali diartikan sebagai usaha yang berlawanan dengan ideologi masyarakat yang sudah menjadi dasar intergrasi masyarakat tersebut.

    1. Adat dan kebiasaan

Adat dan kebiasaan yang mencakup bidang kepercayaan, sistem mata pencaharian, dan cara berpakaian begitu kokoh sehingga sulit diubah. Hal ini juga bisa menghambat jalannya modernisasi.

    1. Nilai bahwa hidup ini pada hakikatnya buruk dan tidak mungkin diperbaiki ( sikap pasrah)

E. SYARAT-SYARAT HIPERMODERNISASI
  1. Cara berfikir ilmiah (scientific thinking) yang melembaga dalam kelas penguasa maupun masyarakat. Hal ini menghendaki suatu sistem pendidikan yang terencana dan baik.

  2. Sistem administrasi negara yang baik, yang benar-benar mewujudkan birokrasi.

  3. Adanya sistem pengumpulan data yang baik, teratur dan terpusat pada satu lembaga atau badan tertentu.

  4. Penciptaan iklim favourable dari masyarakat terhadap modernisasi dengan cara penggunaan alat-alat komunikasi massa.

  5. Tingkat organisasi yang tinggi. Di satu pihak berarti disiplin sedangkan di pihak lain berarti pengurangan kemerdekaan.

  6. Sentralisasi wewenang dalam pelaksanaan sosial. Apabila hal ini tidak dilakukan, maka perencanaan akan terpengaruh oleh kekuatan-kekuatan dari kepentingan-kepentingan golongan kecil dalam masyarakat.

F. AKIBAT HIPERMODENISASI

Hipermodernisasi dan perubahan-perubahan sosial lain pasti mempunyai dampak serta akibat. Di antara akibat hipermodenisasi adalah:

  1. Disorganisasi (disintegrasi) dan reorganisasi (reintegrasi)

Disorganisasi atau disintegrasi merupakan suatu proses pudarnya nilai-nilai dan norma-norma dalam masyarakat, karena perubahan-perubahan yang terjadi pada lembaga-lembaga kemasyarakatan. Sedangkan reorganisasi atau reintegrasi adalah suatu proses pembentukan norma-norma dan nilai-nilai baru agar serasi dengan lembaga-lembaga kemasyarakatan yang telah mengalami perubahan. Contohnya adalah pola hubungan orang tua dengan anak. Dahulu orangtua mempunyai pengaruh dan kekuasaan yang sangat kuat terhadap anak. Lalu timbulah disorganisasi sehingga kekuasaan tadi menjadi pudar dan melemah. Kemudian terjadi reorganisasi, munculnya norma-norma baru yang mengatur hubungan orang tua dengan anak.

  1. Kemiskinan

Kemiskinan dianggap sebagai masalah sosial karena perbedaan kedudukan ekonomis para warga masyarakat ditentukan secara tegas. Pada masyarakat hipermodern, kemiskinan menjadi problem sosial karena sikap yang membenci kemiskinan tadi. Seseorang merasa miskin bukan karena kurang makan, pakaian atau perumahan, tapi karena harta miliknya dianggap tidak cukup untuk memenuhi taraf hidup yang ada.

  1. Kejahatan

Perkembangan ekonomi yang terlalu cepat dan hanya menekankan aspek material-finansial menyebabkan kejahatan bertambah banyak macamnya. White-collar crime dan cybercrime yang semakin marak merupakan contoh kejahatan pada masyarakat hipermodern yang jarang ditemukan pada masyarakat sebelumnya.

  1. Pelanggaran terhadap norma-norma maysarakat

    1. Pelacuran

Keinginan yang besar untuk hidup mewah, konflik mental dan pola kepribadian yang kurang dewasa yang ditimbulkan oleh hipermodernisasi bisa menyebabkan pelacuran. Pelacuran sendiri dapat diartikan sebagai suatu pekerjaan yang bersifat menyerahkan diri pada umum untuk melakukan perbuatan-perbuatan seksual dengan mendapat upah.

    1. Delinkuensi anak-anak

Delinkuensi anak-anak yang terkenal di Indonesia adalah crossboy dan crossgirl yang merupakan sebutan bagi anak-anak muda yang tergabung dalam suatu ikatan atau organisasi formal maupun semi formal yang berperilaku kurang disukai oleh masyarakat umum. Delinkuensi anak-anak meliputi perkelahian antara pelajar, pencurian, perampokan, pencopetan, penganiayaan, pelanggaran susila, pemakaian narkoba dan mengendarai kendaraan bermotor tanpa mengindahkan peraturan lalu-lintas.

    1. Alkoholisme

Penyerapan kebudayaan asing dalam masyarakat hipermodern mendorong kegoyahan norma-norma dan nilai-nilai. Salah satunya adalah penggunaan alkohol yang kini semakin luas dan semakin bebas diperjual belikan.

    1. Homoseksualitas dan free-sex

Secara sosiologis, homoseksual adalah seseorang yang cenderung mengutamakan orang yang sejenis kelaminnya sebagai mitra seksual. Selain homoseksualitas, hipermodernisasi juga mengakibatkan seks tidak lagi dianggap tabu untuk dibicarakan. Hal ini mendorong terjadinya free-sex dalam masyarakat hipermodern.

Sumber: Soekanto, Soerjono. 2004. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Pers.

One Response to “HIPERMODERNISASI & KELOLA DIRI”

  1. Acha Says:

    Saking cepatnya perubahan terjadi, sampai-sampai seolah-olah kita dituntut untuk senantiasa mengikuti perubahan tersebut.
    Jika tidak, bisa2 eksistensi kita sebagai makhluk sosial pun akan diragukan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: