MENGKRITISI RADIKALISME WAHABI

Wahabi merupakan paham dari sekelompok golongan yang menisbatkan dirinya kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Mereka juga sering menyebut diri mereka sebagai Salafi karena gerakan mereka yang mereka anggap menyeru kepada ajaran para salafussholih yang bebas dari segala macam bid’ah, khurafat, tahayyul dan sebagainya. Kata “Salafi” sendiri sebenarnya menunjuk kepada tiga generasi awal umat Nabi Muhammad atau bisa juga kepada suatu marhalah zaman, bukan kepada suatu madzhab (aliran) tertentu dalam Islam (Al Buthi, 1990:6).

Yang patut disayangkan dari Wahabi ini adalah cara berdakwah mereka yang cenderung radikal dan ekstrim yang justru semakin menyebarluaskan permusuhan di antara kaum muslimin, seperti mengkafirkan orang yang tidak sependapat dengan mereka. Mereka meruntuhkan kubah-kubah di atas makam sahabat-sahabat Nabi SAW yang berada di Ma’la (Mekkah), Baqi’ dan Uhud (Madinah). Mereka juga menerbitkan buku-buku terjemahan dari Bahasa Arab ke berbagai bahasa termasuk Indonesia yang berisi ajaran-ajaran mereka yang dibagikan gratis kepada jamaah haji, mendirikan fasilitas-fasilitas pendidikan dan ibadah baik di Saudi Arabia sendiri maupun di luar negeri termasuk Indonesia. Hal ini tentu tidak mengherankan jika kita melihat lebih jauh bahwa Wahabi merupakan satu-satunya paham resmi yang dianut pemerintah Saudi Arabia, sehingga berbagai macam dukungan baik yang bersifat materil maupun immateril terus mengalir.

Sejarah Wahabi

Sebagaimana disebutkan di atas, kata Wahabi mengacu kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al Tamimi Al Najdi (1115-1206 H atau 1703-1791 M), seorang tokoh ulama di Saudi Arabia. Beliau lahir di Uyainah, Najed tahun 1115 H / 1703 M dan dibesarkan dalam lingkungan Sunni mazhab Hanbali. Beliau telah menghafal Al-Quran sejak usia 10 tahun. Asal mulanya beliau adalah seorang pedagang yang sering berpindah dari satu negara ke negara lain dan di antara negara yang pernah disinggahi adalah Baghdad, Iran, India dan Syam. Dakwah beliau banyak disambut ketika beliau datang di Dir’iyah bahkan beliau dijadikan guru dan dimuliakan oleh penguasa setempat saat itu yaitu pangeran Muhammad bin Su’ud, pendiri dinasti Saudi yang berkuasa antara tahun 1139-1179 H. Oleh pangeran, dakwah beliau ditegakkan dan akhirnya menjadi semacam gerakan nasional di seluruh wilayah Saudi Arabia hingga hari ini. Beliau meninggal tahun 1206 H/1792 M dalam usia 95 tahun. Seorang ulama’ mencatat tahunnya dengan hitungan abjad: ba daa halaakul khobiits (telah nyata kebinasaan orang yang keji).

Gerakan Wahabi ini sempat membuat marah Sultan Mahmud II, penguasa Kerajaan Usmani, Istanbul Turki karena pada tahun 1806 mereka merusak kiswah, kain penutup Ka’bah yang terbuat dari sutera. Kemudian merobohkan puluhan kubah di Ma’la, termasuk kubah tempat kelahiran Nabi Muhammad, tempat kelahiran Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Ali, juga kubah Sayyidatuna Khadijah, Masjid Abdullah bin Abbas. Dikirimlah prajurit Kerajaan Usmani yang bermarkas di Mesir, di bawah pimpinan Muhammad Ali untuk melumpuhkannya. Pada 1813, Madinah dan Makkah bisa direbut kembali. Gerakan Wahabi surut. Tapi, pada awal abad ke-20, Abdul Aziz bin Sa’ud bangkit kembali mengusung paham Wahabi. Tahun 1924, dia berhasil menduduki Makkah, lalu ke Madinah dan Jeddah, memanfaatkan kelemahan Turki akibat kekalahannya dalam Perang Dunia I. Sejak saat itu hingga kini, paham Wahabi mengendalikan pemerintahan di Saudi Arabia. Dewasa ini pengaruh gerakan Wahabi bersifat global. Riyadh mengeluarkan jutaan dolar AS setiap tahun untuk menyebarkan ideologi Wahabi.

Ajaran-ajaran Wahabi

Inti pokok dari ajaran Wahabi adalah memurnikan kembali ajaran aqidah Islam dengan menumpas segala bentuk khurafat, syirik, bid’ah dan beragam hal yang menyeleweng dari ajaran Islam yang asli. Mereka beranggapan dakwah ini telah membangun umat Islam di bidang aqidah yang telah lama jumud dan beku akibat kemunduran dunia Islam. Mereka memperhatikan pengajaran dan pendidikan umum serta merangsang para ulama dan tokoh untuk kembali membuka literatur berupa buku induk dan maraji’ yang mu’tabar sebelum menerima sebuah pemikiran. Mereka tidak mengharamkan taqlid namun meminta agar umat ini mau lebih jauh meneliti dan merujuk kembali kepada nash dan dalil dari Kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW serta pendapat para ulama salafusshalih. Di antara tokoh ulama salaf yang paling sering mereka jadikan rujukan adalah :

  • Imam Hanbali (164-241 H/780-855 M)

Beliau adalah Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal Al Baghdadi. Seorang ahli hadits dan fiqih pendiri madzhab Hanbali. Ibunya masuk di kota Baghdad untuk pertama kalinya ketika beliau hamil dan lahirlah Ahmad bin Hanbal pada bulan Rabi’ul Awal tahun 164 H/780 M. Di Baghdad ini Imam Ahmad bin Hanbal tumbuh, belajar dan meriwayatkan hadits dari para ulama’. Lalu beliau pergi mencari ilmu ke Kufah, Bashrah, Makkah, Madinah, Yaman, Syam dan Jazirah. Beliau wafat di Baghdad pada malam tiga belas Rabi’ul Awal tahun 241 H/855 M. Di antara kitab beliau yang paling terkenal adalah Musnad Ahmad bin Hanbal (Kahhalah, 1957:II/96).

  • Ibnu Taimiyah (661-728 H/1263-1328 M)

Beliau adalah Taqiyuddin Abul ‘Abbas Ahmad bin Abdil Halim bin Abdis Salam bin Abdillah bin Khodhir bin Muhammad bin Khodhir bin Ali bin Abdillah bin Taimiyyah Al Hanbali. Seorang muhaddits, mufassir, ahli fiqih, mujtahid dan menguasai berbagai disiplin ilmu. Lahir di Hiran pada 10 Rabi’ul Awal 661 H dan meninggal pada 20 Dzul Qo’dah 728 H di Damaskus. Beliau pernah dipenjara di Kairo, Iskandariyah dan dua kali di Damaskus. Di antara tulisan-tulisan beliau adalah Majmu’ah al Fatawa, Minhaj al Sunnah al Nabawiyyah fi Naqdhi Kalam al Syi’ah wa al Qodariyyah dan lain-lain (Kahhalah, 1957:I/261).

  • Ibn Al Qayyim Al Jauziyah (691-751H)

Beliau adalah Abu Abdillah Muhammad bin Abi Bakar bin Ayyub Al Zar’i Al Dimasyqi, seorang imam yang ahli dalam bidang tahqiq, ushul fiqih, fiqih dan nahwu. Beliau lahir pada 7 Shafar 691 H di Hauran, 50 mil sebelah tenggara Damaskus. Al Arnauth dalam bab biografi penulis Zad al Ma’ad menyebutkan bahwa beliau selalu menyertai Ibnu Taimiyah sejak kepulangan Ibnu Taimiyah dari Mesir pada tahun 712 H sampai beliau wafat pada 728 H. Di antara murid-murid beliau adalah Ibnu Rajab, Ibnu Katsir yang terkenal dengan tafsirnya dan Ibnu Qudamah al Maqdisi. Kitab-kitab beliau banyak sekali, seperti Zad al Ma’ad fi Hadyi Khoir al ‘Ibad, Al Ruh, Madarij al Salikin, Raudhah al Muhibbin, Syifa al ‘Alil fi Masail al Qodho wa al Qodar dan lain-lain.

Adapun praktek riil dari pemurnian aqidah tersebut berupa larangan membangun bangunan di atas kuburan, menyelimutinya atau memasang lampu di dalamnya. Mereka melarang orang meminta syafa’at Nabi ketika mereka masih di dunia, melarang tawassul dengan menyebut nama Nabi dan orang saleh sepeti kalimat bi jaahir rasul (aku bertawassul dengan kedudukan Rasulullah) atau karamah wali dan mengkafirkan orang yang bertawassul dengan cara tersebut. Mereka juga melarang orang ziarah ke makam orang tua, para wali serta Nabi dan menganggap Nabi seperti orang mati lainnya. Melarang orang-orang berdzikir dengan keras setelah menunaikan sholat, mengkafirkan Al Bushiri penyusun kitab “Burdah” karena memanggil Nabi dengan yaa akrom al kholqi (wahai makhluk yang paling mulia). Membakar kitab-kitab yang relatif amat banyak (termasuk “Ihya’ Ulumiddin” karya Syaikh Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali), membongkar makam para sahabat Nabi, melarang orang membaca kitab “Dalail al Khoirot”, kitab ratib dan dzikir-dzikir, kitab-kitab maulid Dziba’, melarang membaca shalawat Nabi di atas menara-menara setelah melakukan adzan dan shalawat-shalawat yang tidak berasal dari hadits Nabi.

Telaah Kritis terhadap Ajaran Wahabi

Mengapa Wahabi berani mengkafirkan orang, membakar kitab-kitab, melarang ziarah, tawassul dan menghancurkan peninggalan-peninggalan Nabi?. Hal ini tentu didasari oleh pemahaman yang perlu diluruskan. Sebagaimana disebutkan oleh Dr. As Sayyid Muhammad bin ‘Alawi Al Maliki Al Hasani dalam “Mafahim Yajibu an Tushohhah” dan “At Tahdzir min al Mujazafah bi at Takfir”, ada beberapa pemahaman Wahabi yang perlu diluruskan. Berikut ini adalah empat di antara hal-hal tersebut:

  1. Penafsiran hadits bid’ah

Rasulullah bersabda:

Setiap bid’ah adalah sesat” (HR. Muslim).

Wahabi berpendapat bahwa segala sesuatu yang tidak ada pada zaman Nabi, khususnya dalam hal ibadah, maka hukumnya haram karena termasuk bid’ah.

Hadits ini masih perlu penafsiran kembali karena artinya yang sangat luas. Perlu diketahui bahwa yang dimaksud bid’ah dalam hadits di atas hanyalah hal-hal yang termasuk dalam pokok-pokok syariah (ashl) bukan furu’ syariah (Al Maliki, 1425:112-113).

  1. Pengkafiran golongan lain yang tidak sependapat

Wahabi sering sekali mengkafirkan dan menganggap syirik ulama dan orang-orang yang bertawassul, berziarah ke makam-makam dan melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan pendapat mereka.

Kita sebagai muslim tidak boleh mengkafirkan secara sembarangan terhadap orang yang telah mengikrarkan dua kalimat syahadat hanya karena melakukan suatu dosa kecuali jika dia meniadakan wujud Allah atau melakukan perbuatan yang jelas-jelas syirik sehingga tidak bisa ditakwili (diartikan lain) lagi atau mengingkari kenabian atau mengingkari sesuatu yang mutawatir1 atau pengetahuan-pengetahuan agama yang bersifat dloruri2. Adapun ancaman bagi orang yang mengkafirkan orang lain sangat berat, sebagaimana hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Al Bukhori dari Abu Hurairah:

Jika seorang laki-laki berkata kepada saudaranya, “Wahai Engkau yang kafir”, maka sesungguhnya telah kembali ucapan itu kepada salah satunya”3 (Al Maliki, 1425:81-82).

  1. Masalah tawassul4

Wahabi menganggap syirik orang yang bertawassul. Padahal sebagaimana kita ketahui, orang yang tawassul belumlah dikatakan syirik jika dia tidak meyakini bahwa apa yang dia pakai tawassul bisa memberikan manfaat atau bahaya. Ini berarti bahwa tidak semua tawassul diharamkan.

Sebenarnya orang yang bertawassul dengan orang lain pada hakikatnya dia bertawassul dengan amalnya sendiri. Maksudnya, apabila kita bertawassul dengan orang lain maka hal itu pasti didasari kecintaan kita kepada orang tersebut dikarenakan orang tersebut kita yakini termasuk golongan orang saleh atau kita yakin bahwa orang tersebut cinta kepada Allah sehingga Allah cinta kepadanya. Maka pada hakikatnya, kita bertawassul didasari cinta kita kepada orang tersebut karena Allah (al tahabub fi Allah) dan tidak diragukan lagi bahwa at tahabub fi Allah termasuk amal saleh, sedangkan tawassul dengan amal saleh termasuk hal yang diperbolehkan secara ijma’5 berdasar hadits al ghoor6 (Al Maliki, 1425:123-125)

  1. Masalah syafa’at

Wahabi berpendapat bahwa mengharap syafa’at Nabi ketika kita masih di dunia adalah syirik dan sesat berdasar firman Allah dalam surat Az Zumar 44:

Katakanlah: “Hanya kepunyaan Allah syafaat itu semuanya. Kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi. Kemudian kepada- Nyalah kamu dikembalikan”

Maksud ayat ini adalah untuk menunjukkan bahwa Allah-lah yang berkuasa penuh atas syafa’at. Namun hal ini tidak menafikan pemberian syafa’at kepada orang yang Dia kehendaki. Artinya, jika seseorang telah diberi izin oleh Allah maka di bisa saja memberikan syafa’at kepada orang yang telah Allah ridhoi (Al Shobuni, 1996:IV/457 dan Al Qurthubi, 1952:XV/264). Selain itu, tidak ada satu dalilpun dalam Al Quran maupun hadits yang menyebutkan larangan mengharap syafa’at di dunia. Bahkan ada beberapa sahabat yang meminta syafa’at kepada Nabi ketika mereka masih hidup, seperti Anas bin Malik, Sawad bin Qorib, Mazin bin Al Ghodzubah dan ‘Ukkasyah bin Muhson.

Tanggapan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

Meskipun golongan Wahabi menisbatkan dirinya kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, namun ada sebuah statement menarik dari beliau7:

“Tidak samar lagi bagi kalian, aku mendengar kabar bahwa surat dari Sulaiman bin Sahim telah sampai kepada kalian dan (surat tersebut) dibenarkan oleh orang-orang yang menisbatkan dirinya kepadaku. Allah mengetahui bahwa ada seseorang (Sulaiman bin Sahim) yang berbohong mengenai banyak hal yang tidak pernah aku katakan dengan mencatut namaku, padahal sebagian besar tidak berasal dariku. Di antara hal-hal tersebut adalah ucapannya bahwa:

  • aku menganggap kitab-kitab madzhab empat adalah batil

  • sesungguhnya para manusia sejak 600 tahun yang lalu tidak mempunyai pegangan

  • aku mengaku-ngaku berijtihad dan tidak mau bertaqlid

  • perbedaan para ulama adalah bencana

  • aku mengkafirkan orang-orang yang bertawassul dengan orang-orang saleh

  • aku mengkafirkan Al Bushiri karena ucapannya yaa akrom al kholqi

  • andaikata aku mampu merobohkan kubah Nabi, maka akan aku robohkan

  • jika saja aku mempunyai kekuasaan atas ka’bah, maka akan aku ambil talangnya dan aku ganti dengan talang dari kayu

  • aku mengharamkan ziarah ke kubur Nabi, kedua orang tua dan lainnya

  • aku mengkafirkan orang yang bersumpah dengan selain nama Allah

  • aku mengkafirkan Ibn Al Faridz dan Ibn Al ‘Arobi

  • aku membakar Dalail al Khoirot dan Roudl al Royyahin lalu aku namakan Roudl al Syayathin

Jawabanku atas semua itu adalah:

Maha suci Engkau,ini adalah suatu kebohongan besar.” (Al Maliki, 14:15).

Penutup

Meskipun Wahabi merupakan golongan yang mengaku-ngaku menisbatkan dirinya kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang ingin memurnikan kembali ajaran Islam, namun pada kenyataannya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab sendiri tidak mengakui bahwa dia mengajarkan apa yang dilakukan Wahabi selama ini. Dalam praktek berdakwah, mereka menggunakan cara-cara ekstrem seperti mengkafirkan golongan lain, merobohkan kubah makam para sahabat Nabi, melarang berziarah kubur dan sebagainya tanpa didukung dalil-dalil yang kuat, hanya didasari ghuluw dan ta’asshub (fanatisme) yang berlebihan. Sehingga alangkah baiknya jika kita mau lebih banyak belajar agar tidak terjebak dalam ta’asshub, sebagaimana pesan Al ‘Allamah Sayyidunal Imam ‘Alawi bin As Sayyid ‘Abbas Al Maliki Al Hasani:


“Sesungguhnya seseorang yang mencari ilmu, semakin luas ilmu dan pandangannya maka semakin lapang pula dada dan hatinya (tidak banyak ingkar terhadap apa yang dikerjakan orang di sekitarnya)”.

Wallahu a’lam bi al showab.

DAFTAR PUSTAKA:

Al ‘Aql, Dr. Nashir bin Abdul Karim. 1997. Prinsip-Prinsip Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah. Jakarta: Gema Insani Press.

Al Buthi, Dr. Muhammad Sa’id Romdhon. 1990. Al Salafiyyah, Marhalah Zamaniyyah la Madzhab Islamiy. Damaskus: Dar al Fikr.

Al Jauziyah, Ibn Al Qayyim. 1986. Zad al Ma’ad fi Hadyi Khoir al ‘Ibad (ditahqiq dan dita’liq oleh Syu’aib Al Arnauth dan Abdul Qodir Al Arnauth). Beirut: Muassasah al Risalah.

Al Jurjani, Al Syarif ‘Ali bin Muhammad. 1996. Kitab al Ta’rifat. Beirut: Dar al Kutub al ‘Ilmiyyah.

Al Maliki Al Hasani, Dr. As Sayyid Muhammad bin ‘Alawi. 1425 H. Mafahim Yajibu an Tushohhah. Hak cetak pada penulis.

Al Maliki Al Hasani, Dr. As Sayyid Muhammad bin ‘Alawi. Tanpa tahun. Al Tahdzir min al Mujazafah bi al Takfir. Hak cetak pada penulis.

Al Qurthubi, Abu Abdillah Muhammad Al Anshari. 1952. Al Jami’ li Ahkam Al Quran. Tanpa penerbit.

Al Shobuni, Muhammad ‘Ali. 1997. Al Muqtathaf min ‘Uyun al Tafasir. Kairo: Dar al Salam.

Al Zuhaili, Dr. Wahbah. 1995. Al Wajiz fi Ushul al Fiqh. Beirut: Dar al Fikr al Mu’ashir.

Kahhalah, Umar Ridha. 1957. Mu’jam al Muallifin. Beirut: Dar Ihya al Turats al ‘Arabi.

Wensinck, AJ. 1936. Concordance et Indices de la Tradition Musulmane (Al Mu’jam al Mufahras li Alfadz al Hadits al Nabawi). Leiden: EJ. Brill.

Zaglul, Abu Hajir Muhammad Al Sa’id bin Basyuni. 1994. Mausu’ah Athrof al Hadits al Nabawi al Syarif. Beirut: Dar al Fikr.

http://mevlanasufi.blogspot.com. Wahabi Menghancurkan Kubah Makam Para Sahabat RA dan Peninggalan Islam.

http://www.nianarmands.com/?p=156. Membongkar Wahabi dan Salafi.

http://www.syariahonline.com/konsultasi/?act=view&id=11997. Apakah Wahabi Itu.

1 Mutawatir adalah hadits yang diriwayatkan oleh segolongan orang yang tidak mungkin berbohong.

2 Pengetahuan agama yang bersifat dloruri adalah seperti Nabi Muhammad diutus sebagai Rosul terakhir,dibangkitkannya manusia pada hari kiamat, masalah hisab dan pahala, surga dan neraka. Maka kita sebagai orang Islam tidak punya alasan untuk tidak mengetahuinya, kecuali orang-orang yang tidak tersentuh dakwah Islam.

3 Hadits ini diriwayatkan oleh banyak sekali imam hadits, seperti Al Bukhori, Imam Muslim, al Tirmidzi, Imam Malik dalam Muwattho’, Imam Hanbali, Al Baghowi, Al Thohawi, Al Haitsami dalam Majma’ al Zawaid, Al Thabarani dalam al Mu’jam al Kabir, Al Mundziri, Al Sa’ati dalam Minhah al Ma’bud dan Al “Asqalani dalam Fath al Bari (Muhammad Zaglul, 1994:I/360 dan Weinsinck, 1936:I/228).

4 Tawassul adalah menggunakan sesuatu (amal saleh, orang saleh, dsb) sebagai pelantara untuk mendekatkan diri (Al Jurjani, 1995:252). Hal ini seringkali dipraktekkan oleh kaum muslimin Indonesia khususnya kaum Islam tradisional.

5 Dr. Wahbah Al Zuhaili dalam “Al Wajiz fi Ushul al Fiqh” mendefinisikan ijma’ sebagai kesepakatan para mujtahid umat Nabi Muhammad atas suatu hukum syara’ pada suatu waktu tertentu sesudah wafat beliau (Az Zuhaili, 1997:46).

6 Hadits al ghoor adalah hadits yang menceritakan tiga orang yang terperangkap di dalam gua yang tertutup oleh batu. Agar mereka bisa keluar dari gua tersebut, mereka bertawassul dalam berdoa kepada Allah. Orang pertama tawassul dengan amal saleh berupa birr al walidain, orang kedua tawassul dengan amal saleh berupa meninggalkan zina ketika dia hampir saja melakukannya dan orang ketiga bertawassul dengan amal saleh berupa sifat amanahnya untuk menjaga dan mengembangkan gaji salah seorang pekerjanya. Akhirnya dengan seizin Allah tergeserlah batu yang menutupi pintu gua tersebut.

7 Statement ini tertulis dalam bagian kelima kitab “Ar Rasail as Syakhshiyyah” hal.37 yang termasuk dalam kumpulan karya As Syaikh Al Imam Muhammad bin Abdul Wahhab yang dipublikasikan oleh Universitas Al Imam Muhammad bin Su’ud (catatan kaki Al Maliki dalam Al Tahdzir min al Mujazafah bi at Takfir, 14:15).

7 Responses to “MENGKRITISI RADIKALISME WAHABI”

  1. muhammad qorib Says:

    Saya memberikan apresiasi yang besar atas tulisan ini. Hanya saja redaksi bahasanya perlu disesuaikan dengan standar akademik. Jazakallah.

  2. wahid Says:

    fitnah adalah dosa besar,anda telah memfitnah Syekh Abdul Wahhab,pelajari yang benar aqidah syekh Abdul wahhab,jangan setengah-2,salafy tidak pernah melarang ziarah kubur,salafy tidak pernah mengkafirkan seseorang atau kelompok,belajarlah sampe tuntas,anda seperti kue donat yang bantut,semoga Allah memberi anda hidayah.

    • maman Says:

      @wahid: silahkan anda tanya orang2 yg baru saja pulang haji, bagaimana pemerintah saudi yg notabene adl wahabi melarang para jamaah haji utk berziarah, menghancurkan peninggalan2 Sahabat dan meratakan makam2 para Sahabat Nabi.
      silahkan anda baca fatwa imam2 wahabi semacam bin baz atau ‘utsaymin. cap mengerikan apa yg mereka berikan utk saudara2 sesama muslim kita yg berziarah, yg merayakan maulid, dan yg ikut tarekat2 tasawuf.

      • angoes masih belajar Says:

        assalamu’alaikum, shahabat semua…
        coba hitunglah berapa lama lagi umur umat Islam?
        atas propaganda dalam tubuh umat ini…saat Islam membunuh Islam,
        tak lagi jadi prahara, tak lagi jadi dosa?

        sementara disana, diluar sana ya’juj ma’juj tertawa menyaksikan pergolakan perpecahan dalam tubuh umat ini. Ancaman dari luar saudaraku….zion, mason, illuminati, konspirasi, samiri?

        dari merekalah sebenarnya umpan semua perpecahan ini!
        LURUS DAN RAPATKAN BARISAN!!!
        HAI…UMAT ISLAM, PENYANDANG PANJI ALLAH DAN RASULULLAH SAW…
        RAPATKAN BARISAN…
        ATAU ALLAH AKAN MEMALINGKAN WAJAH-WAJAH KALIAN

        afwan,
        assalamu’alaikum

  3. Alwan Nudin Says:

    jamaah wahabi itu mudah ditipu para ustadnya. ini buktinya
    1. hadis Nabi saw bahwa dari najd akan timbul segala fitnah. oleh ustad wahabi bahwa najd diartikan irak. pendapat batil ini langsung diterima jamaah wahabi. bodoh kok kebangetan apa mereka tidak punya atlas atau globe.
    2. dalam kitab ajaib al atsar dan unwan majd bahwa wahabi membantai jamaah haji, oleh ustad wahabi fakta itu dibantah bahwa itu adalah dusta syaikh idahram, pendapat batil ini diterima langsung jamaah wahabi, bodoh kok kebangetan, apa mereka tidak buka kitab ajaib al atsar dan unwan majd sendiri. untuk membuktikan siapa yang berdusta.
    3. para ustad wahabi berkata bahwa penisbatan wahabi pada Muhammad bin Abdul wahab adalah fitnah, pendapat batil ini langsung diterima jamaah wahabi, bodoh kok kebangetan, para ulama yang hidup sezaman dengan Abdul wahab mereka mengakui bahwa wahabi dinisbatkan pada Muhammad bin Abdul wahab.
    4. para ustad wahabi selalu berkata setiap ulama yang menyerang wahabi dituduh syi’ah, pendapat batil ini langsung diterima jamaah wahabi, bodoh kok kebangetan, banyak ulama yang sezaman dengan Abdul wahab yang mengkritik wahabi, memangnya ustad wahabi pernah hidup dengan Muhammad bin Abdul wahab.

  4. Alwan Nudin Says:

    saya heran dengan jamaah wahabi bukti didepan mata mereka akan fakta dusta para ustad mereka kok ya masih mau ditipu, apa mereka gak punya akal ya, untuk membuka pintu mata hati mereka.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: