Pengaruh Kafein Terhadap Kemampuan Mengingat

Kemampuan mengingat (memory) merupakan kekuatan terpenting bagi manusia dan hewan. Dalam kehidupan sehari-hari berbagai aktivitas yang kita lakukan tidak terlepas dari proses mengingat. Apalagi dalam pembelajaran, rasanya takkan ada pembelajaran tanpa ingatan. Ingatan memungkinkan organisme untuk memiliki kemampuan berpikir, membaca, menulis, berbicara dan belajar. Jauh sebelum para filsuf dan ahli teori mempelajari proses-proses berpikir manusia, termasuk ingatan, ingatan telah memegang peran yang sangat penting dalam perkembangan masyarakat (Scott, 2007). Melalui ingatan, pengalaman masa lalu dapat mempengaruhi pikiran, rencana, dan tindakan kita saat ini (McGaugh, 1973). Tanpa ingatan, organisme tidak mampu untuk melakukan kegiatan mental (mindless), tidak mampu membuat perbandingan serta tidak mampu berkomunikasi.

Proses mengingat merupakan salah satu bagian dari proses-proses kognitif yang terjadi pada seorang individu. Proses mengingat sendiri merupakan suatu proses biologis, yakni informasi diberi kode dan dipanggil kembali. Ingatan merupakan kumpulan reaksi elektrokimia yang rumit yang diaktifkan melalui beragam saluran indrawi dan disimpan dalam jaringan saraf yang sangat rumit dan unik di seluruh bagian otak. Ingatan yang sifatnya dinamis ini terus berubah dan berkembang sejalan dengan bertambahnya informasi yang disimpan. Kemampuan mengingat secara sempit dapat diartikan sebagai kemampuan untuk menerima atau memasukkan kesan-kesan, menyimpan kesan-kesan itu dan kemudian mengeluarkan kembali kesan-kesan yang pernah diterima (Walgito, 1985). Kemampuan untuk memasukkan, menyimpan, dan kemudian mengeluarkan kembali ini tidak sama antara individu satu dengan individu lain, bahkan pada individu yang sama belum tentu memiliki kesamaan dalam ketiga kemampuan di atas. Ada individu yang memiliki kemampuan menerima dan menyimpan pesan atau materi cukup baik, tetapi kemampuannya untuk menyampaikan atau memunculkan kembali ke dalam kesadaran kurang baik. Ada juga yang memiliki kemampuan menerima dan menyimpan materi kurang baik, tetapi kemampuannya untuk menyampaikan atau memunculkan kembali cukup baik. Selain itu ada juga individu-individu yang memiliki ketiga kemampuan tersebut dengan sangat baik seperti Imam Al Bukhori. Imam Al Bukhori adalah perawi hadis dan ahli hadis terkenal yang kitab hadisnya menjadi dasar pengambilan hukum Islam dengan keabsahan tertinggi setelah Al Quran. Sejak kecil dia telah menunjukkan bakatnya yang cemerlang dan luar biasa dengan ketajaman ingatan dan hafalan melebihi orang lain. Imam Al Bukhori menghafalkan tidak kurang dari 300.000 hadis beserta nama-nama orang yang menceritakan (sanad) masing-masing hadis dari Nabi Muhammad SAW sampai kepadanya (Al ‘Asqolani, 1990). Selain Imam Al Bukhori, ada juga Hideaki Tomoyori dari Yokohama Jepang yang mampu mengingat nilai pi hingga 40 ribu desimal dan memecahkan rekor sebelumnya yang mencapai 10 ribu desimal.

Tiap individu tercipta dengan kemampuan mengingat yang berbeda-beda namun kemampuan mengingat yang dimiliki tersebut dapat ditingkatkan dengan berbagai macam cara. Pada tahun 1956, George Miller dalam artikelnya yang berjudul “The Magical Number Seven, Plus or Minus Two: Some Limits on Our Capacity for Processing Information” menyatakan bahwa kita hanya dapat mengingat tujuh item – kurang lebih dua, atau lima sampai sembilan item – dalam ingatan jangka pendek. Namun jika kita mengelompokkan item-item tersebut – yang oleh Miller disebut dengan “chunking” – maka akan lebih banyak item yang dapat kita ingat (Scott, 2007). Selain chunking, ada berbagai macam teknik yang disebut sistem mnemonic yang dapat dipakai untuk meningkatkan kemampuan mengingat. Di antara sistem mnemonic tersebut adalah metode loci. Loci atau lokasi adalah alat mnemonik yang berfungsi dengan mengasosiasikan tempat-tempat atau benda-benda di lokasi yang dikenal dengan hal-hal yang ingin anda ingat. Di samping metode loci, ada juga teknik akronim, akrostik, peg word (kata penghubung), dan key word (kata kunci). Melalui teknik akronim, seseorang menyusun satu kata yang terbuat dari huruf pertama dari serangkaian kata seperti NASA, singkatan dari National Aeronautics and Space Administration (badan ruang angkasa Amerika Serikat). Dalam teknik akrostik, digunakan huruf-huruf kunci untuk membuat konsep abstrak lebih konkret sehingga mudah diingat seperti mejikuhibiniu (akrostik dari merah, kuning, hijau, biru, nila, ungu) untuk mengingat warna pelangi. Peg word adalah menghubungkan satu kata dengan kata lainnya, seperti menghubungkan kata one dengan bun atau two dengan shoe. Bugelski, Kidd, dan Segmen (1968) telah mempertimbangkan sebuah studi yang tidak lazim tentang pembelajaran pemasangan-asosiasi (paired-associate learning), menunjukan efektifitas metode susunan kata. Sedangkan teknik key word seringkali digunakan dalam pembelajaran dua bahasa seperti yang dilakukan oleh Atkinson (1975), Atkinson dan Raugh (1975). Sebuah key word (kata kunci) adalah “sebuah kata berbahasa Inggris yang terdengar seperti bahasa asing” (Atkinson 1975, p.821). Setelah subjek mengasosiasikan kata-kata dengan ucapan bahasa asing dengan kata kunci, mereka membentuk gambaran mental (pembayangan) dari sebuah kata kunci yang berhubungan dengan kata-kata yang merupakan sebuah terjemahan berbahasa Inggris. Contohnya adalah kata berbahasa Rusia zronok, yang artinya “bel”. Zronok jika dibaca, terdengar seperti “zrahn-oak” dengan penekanan pada suku kata terakhir. Dengan menggunakan kata “oak” sebagai sebuah kata kunci, kita mampu membayangkan sebuah pohon oak dengan bel-nya sebagai biji pohon oak (Solso, 1979). Selain teknik-teknik di atas, kita juga dapat memakai teknik visualisasi, sistem hierarki, mind map, serta rhymes and chimes (sajak dan lonceng) untuk membantu ingatan kita. Dalam visualisasi, kita dapat menempatkan hal-hal yang ingin kita ingat pada tempat-tempat yang familiar bagi kita seperti halte bis dan sebagainya. Sedangkan dalam sistem hierarki, kita membuat tingkatan-tingkatan bagi hal-hal yang akan kita ingat. Hampir sama dengan teknik peg word dan sistem hierarki, mind map dilakukan dengan cara menghubungkan hal-hal yang ingin diingat dengan ide pokok melalui garis-garis. Sedangkan rhymes and chimes adalah mengelompokkan kata-kata yang mempunyai bunyi akhir sama menjadi satu kelompok (Brown, 2007).

Jika dicermati lebih jauh, maka bisa ditarik kesimpulan bahwa teknik-teknik untuk membantu ingatan yang dijelaskan oleh para ahli psikologi kognitif di atas lebih bersifat strategi-strategi yang bersifat psikologis. Padahal selain strategi-strategi yang bersifat psikologis, kafein yang selama ini banyak dikonsumsi orang juga diklaim dapat meningkatkan performa kognitif seseorang termasuk performa ingatan (Hogervost dkk., 1998). Hyla Cass, M.D., dari UCLA School of Medicine menjelaskan bahwa kafein yang terdapat dalam minuman dapat mempertinggi kadar dopamin pada otak sehingga daya ingat menjadi lebih tajam (clickwok.com).

Kafein (1,3,7-trimethylxanthine) yang terkandung dalam berbagai macam bahan makanan seperti kopi, teh, cola dan coklat merupakan stimulan yang banyak dipakai oleh masyarakat umum. Kafein sendiri merupakan stimulan yang berfungsi merangsang sistem saraf pusat yang dapat meningkatkan keterjagaan dan kewaspadaan. Selain itu kafein juga mempengaruhi mood, fungsi-fungsi kognitif, performa fisik seseorang dan dapat menyebabkan dehidrasi (Ruxton, 2008). Sehingga tak diragukan lagi bahwa kafein merupakan zat psikoaktif yang paling banyak dikonsumsi orang di dunia (James, Griffiths, and Mumford dalam Rees dkk, 1999), padahal obat tersebut memiliki berbagai efek yang kuat, menimbulkan toleransi, dan bahkan dapat menyebabkan pengguna tetapnya mengalami ketagihan (Hughes dkk. dalam Davison dkk., 2006).

Berbagai penelitian telah dilakukan untuk meneliti pengaruh kafein terhadap berbagai aspek psikologis. Penelitian yang dilakukan Ruxton (2008) terhadap berbagai studi mengenai kafein selama 15 tahun terakhir menemukan bahwa konsumsi kafein sebesar 38-400 mg (setara dengan 1-8 cangkir teh atau ⅓-4 cangkir kopi) per hari dapat meningkatkan performa fisik, fungsi-fungsi kognitif khususnya keterjagaan dan kewaspadaan, mood dan persepsi terhadap kelelahan. Namun jika melebihi dosis tersebut, maka akan terjadi peningkatan resiko munculnya dehidrasi, kecemasan, sakit kepala, dan gangguan tidur. Revelle (dalam Bodde, 2008) percaya bahwa kafein dapat mempengaruhi pemrosesan informasi, namun belum ditentukan komponen atau tahap pemrosesan informasi apa yang dipengaruhi. Para partisipan dalam sebuah penelitian lain melaporkan bahwa kafein dalam dosis sedang membuat mereka lebih waspada, lebih siaga, dan meningkatkan perhatian (Ryan dkk., 2001). Kafein juga diklaim mampu meningkatkan performa memori dan menurunkan tingkat kesalahan pada tugas-tugas kognitif (Hogervost dkk., 1998).

Kafein merupakan zat antagonis non spesifik bagi reseptor adenosin, yang disebarkan secara luas di korteks (Ryan dkk., 2001). Kafein bekerja sebagai stimulan dengan cara mem-blok (mengurung) reseptor adenosin untuk menghambat kerja neurotransmiter tersebut (Ramachandran, 2002). Kafein menghalangi adesonin untuk berfungsi dan bekerja sebagaimana mestinya, sehingga menyebabkan performa kognitif seorang individu meningkat. Selain itu, kafein juga akan menaikkan permukaan dopamin di otak. Dopamin merupakan neurotransmitter yang berperan mengatur gerakan dan membentuk ingatan (Nelson and Gilbert, 2005), sehingga dengan meningkatnya dopamin maka performa ingatan pun akan meningkat.

DAFTAR RUJUKAN

Al ‘Asqolani, Ahmad bin Hajar. 1990. Syarh Nukhbah Al Fikr fi Mushtholah Ahl Al Atsar. Damaskus: Maktabah Al Ghozali.

Atkinson, Rita L., Richard C. Atkinson, Edward E Smith, dan Darly J. Bem. Tanpa Tahun. Pengantar Psikologi. Batam: Interaksara.

Bodde, Brandy L. 2008. The Effects of Caffeine and Sugar on The Memorization of Word Lists. Missouri Western State University.

Brown, Carol. 2007. Cogntive Psychology. London: SAGE Publications.

Davison, Gerald C., Neale, John M., dan Ann M. Kring. 2006. Psikologi Abnormal (Edisi ke-9). Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.

Hogervost, E. W. J. Riedel. J. A. J. Schmitt, and J. Jolles. 1998. Caffeine Improves Memory Performance During Distraction in Middle-Aged, But Not in Young or Old Subject. Psychopharmacology, 13:27-284.

McGaugh, James L. 1973. Learning and Memory. San Francisco: Albion Publishing Company.

Nelson, Aaron P., Ph.D., M.D., Gilbert, Susan. 2005. The Harvard Medical School Guide to Achieving Optimal Memory. New York: McGraw Hill.

Ramachandran, V.S. 2002. Encyclopedia of The Human Brain Vol. 4. New York: Academic Press, Inc.

Rees, Katy, David Allen, and Malcolm Lader. 1999. The Influence of Age and Caffeine on Psychomotor and Cognitive Function. Psychopharmacology, 145:81-182.

Ruxton, C.H.S. 2008. The Impact of Caffeine on Mood, Cognitive Function, Performance, and Hydration: A Review of Benefits and Risks. Nutrition Bulletin, 33:15-25.

Ryan dkk, Lee. 2001. Caffeine Reduces Time-of-Day Effect on Memory Performance in Older Adult. Psychological Science: A Journal of the American Psychological Society, No.1, Januari 2002, 13:8-71.

Scott, Ph.D., Gini Graham. 2007. 30 Days to A More Powerful Memory. New York: American Management Association.

Solso, Robert L. 1979. Cognitive Psychology. New York: Harcourt Brace Jovanovich, Inc.

Tiga Berita Terbaru dari Kafein!. http://clickwok.com. Online, diakses 8 Desember 2008.

Walgito, B. 1985. Pengantar Psikologi Umum, Yogyakarta: Yayasan Penerbit Fakultas Psikologi UGM.

One Response to “Pengaruh Kafein Terhadap Kemampuan Mengingat”

  1. umim Says:

    KURANG banyak dhe,,, info2 ttg kaffein……


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: