Tawassul Kepada Nabi Muhammad saw.

Orang Banyak pada Masa Umar ra. Bertawassul kepada Nabi saw.

Saif meriwayatkan dari Mubasyir bin Fadl dari Jubair bin Shakhr dari Ashim bin Umar bin Khatthab bahwa seseorang dari suku Muzainah pada tahun kebinasaan diminta oleh keluarganya agar menyembelih kambing untuk mereka. Orang itu berkata, “Dalam kambing itu tidak ada apa-apaya!.” Tetapi mereka tetap memaksa. Akhirnya dia menyembelih kambing, dan ternyata tulang-tulang kambing itu merah. Dia lalu berseru, “Ya Muhammadaah!” (wahai Muhammad…!). Tatkala sore dia bermimpi bahwa Rasulullah saw. bertutur kepadanya, “Bergembiralah dengan kehidupan. Datanglah pada Umar. Sampaikan padanya salam dariku dan katakana padanya, “Sesungguhnya perjanjianku ada padamu. Dan di dalam perjanjian terdapat tanggung jawab yang besar. Maka, berbuatlah dengan kehalusan budi…, berbuatlah dengan kehalusan budi…, wahai Umar.” Dia lalu pergi mendatangi pintu rumah Umar. Dia berujar kepada pelayan Umar, “Mohonkan izin pada rasul (duta) Rasulullah saw.” Dia berjumpa Umar dan menceritakan kabarnya. Terkejutlah Umar. Dia lalu naik mimbar, lalu berkata kepada segenap manusia, “Demi Allah yang telah memberikan hidayah Islam kepada kalian. Apakah kalian melihat sesuatu yang tidak kalian sukai pada diriku?!” “Sama sekali tidak,” seru mereka. “Dan dari sebab apakah hal itu?” kata Umar seraya menceritakan pada mereka tentang ucapan orang dari suku Muzani (dia adalah Bilal bin Harits). Mereka memahami, sementara Umar belum paham.

Kata mereka, “Dia menganggap engkau lambat dalam memohon hujan. Maka, mohonkanlah hujan pada kami.” Umar menyeru manusia bekumpul. Dia berkhutbah singkat kemudian shalat dua rakaat secara singkat pula, kemudian berdoa, “Ya Allah, penolong-penolong kami tidak lagi mampu membantu kami. Daya dan kekuatan kami juga tidak mampu membantu. Diri-diri kami juga tidak kuasa. Dan tidak ada daya kekuatan melainkan dengan pertolongan Engkau. Ya Allah, turunkan hujan pada kami. Hidupkanlah negeri-negeri dan para hamba.”

Al-Hafidz Abu Bakar al-Baihaqi berkata: Abu Nashr bin Qatadah dan Abu Bakar al-Farisi menceritakan pada kami. Keduanya berkata: Abu Umar bin Mathar menceritakan pada kami. Ibrahim bin Ali adz-Dzuhali menceritakan pada kami. Yahya bin Yahya menceritakan pada kami. Abu Muawiyah menceritakan pada kami, dari A’masy, dari Abu Shaleh, dari Malik, katanya: “Manusia ditimpa paceklik pada zaman Umar bin Khatthab. Seseorang lalu datang ke makam Nabi saw. lalu berkata, “Ya Rasulullah, mohonkan hujan untuk umatmu, karena mereka benar-benar binasa.” Rasulullah saw. lalu datang kepadanya dalam mimpi, seraya bertutur, “Datanglah pada Umar. Sampaikan salamku padanya dan beritahukan bahwa mereka butuh hujan, dan sampaikan pula kepadanya: “Berbuatlah dengan kehalusan budi…, berbuatlah dengan kehalusan budi….” Orang tadi datang dan memberitahu Umar. Umar berkata, “Ya Rabb, aku tidak abai (berlambat-lambat) kecuali pada apa yang aku tidak mampu.” Sanad hadits ini shahih.

Demikian al-Hafidz Ibnu Katsir mengatakan dalam al-Bidayah juz 7 hal. 91 dalam (bab) kejadian-kejadian tahun 18 hijriyah.

Keutamaan Amal Umat dalam Timbangan Rasulullah saw.

Imam Izzuddin bin Abdussalam dalam Bidayatus Suul berkata, “Sesungguhnya Allah mencatat pahala bagi setiap nabi sesuai dengan kadar amal umatnya, sikap/perangai umatnya, dan ucapan umatnya, sementara umat Nabi saw. adalah separuh ahli surga. Allah swt. telah memberitahukan,

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ

Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia. (Q.S. Ali Imran: 110)

Sesungguhnya mereka adalah sebaik-baik umat yang dikeluarkan untuk manusia. Mereka menjadi sebaik-baik umat hanyalah karena pengetahuan, sikap/perangai, ucapan, amal perbuatan yang menjadi sifat mereka. Dan tidak satu pun pengetahun, sikap/perangai, ibadah, ucapan, dan apa saja yang dibuat taqarrub kepada Allah azza wa jalla dari apa saja yang ditunjukkan dan diserukan oleh Rasulullah saw., melainkan bagi beliau pahala seperti pahala orang yang mengamalkannya hingga hari kiamat, berdasarkan sabda beliau, “Barangsiapa menyeru kepada petunjuk maka baginya pahalanya sekaligus pahala orang yang mengamalkannya hingga hari kiamat.” Dan tidak ada seorang nabi dari nabi-nabi yang ada mencapai hingga derajat ini.

Dalam suatu hadits diterangkan, “Makhluk adalah keluarga Allah, dan yang paling tercinta di antara mereka bagi Allah adalah yang paling bermanfaat kepada keluarganya.” Jika beliau telah memberikan manfaat kepada separuh penghuni surga, sedang selain beliau hanya memberi manfaat kepada bagian dari separuh, maka kedudukan beliau dalam kedekatan (kepada Allah) berada di atas kadar kedudukan beliau di dalam memberikan manfaat. Tidak ada seorang arif pun dari umat beliau, kecuali beliau diberikan nilai pahala seperti pahala kearifan orang itu, dengan menisbatkannya pada kearifan-kearifan beliau. Tidak ada seorang yang memiliki perangai (baik) tertentu pun dari umat beliau, kecuali beliau diberikan nilai pahala seperti pahala perangai orang itu, seraya disandarkan/digabungkan kepada perangai-perangai beliau.

Tidak ada seorang pun yang memiliki ucapan yang mendekatkannya kepada Allah kecuali beliau diberikan nilai pahala seperti ucapan itu, seraya disandarkan/digabungkan kepada ucapan dan tabligh beliau. Dan tidak ada satu amal pun dari amal-amal yang dapat mendekatkan pada Allah azza wa jalla berupa shalat, zakat, memerdekakan budak, jihad, kebajikan, kebaikan, dzikir, sabar, memaafkan, mengampuni, kecuali beliau diberikan pahala seperti pahala pelakunya, seraya digabungkan kepada pahala amal-amal beliau. Dan tidak ada satu derajat dan martabat tinggi pun yang diraih seseorang umat beliau disebabkan arahan dan petunjuk beliau, melainkan beliau diberikan pahala seperti pahala derajat dan martabat tinggi itu, seraya dipadukan kepada derajat dan martabat beliau.

Dan berlipat gandalah hal itu karena orang dari umat beliau yang menyeru kepda petunjuk atau melakukan tradisi (sunnah) yang baik, baginya pahala orang yang melakukan amal itu sejumlah para pelaku amal tersebut. Kemudian kelipatan yang berlipat-lipat ini menjadi milik Nabi kita, karena beliaulah yang menunjukkan dan diutus kepadanya. Atas dasar ini, Nabi Musa as. menangis pada malam Isra’ karena iri (yang positif) terhadap Baginda Nabi saw. karena umat beliau akan masuk surga lebih banyak daripada orang-orang dari umat Nabi Musa yang masuk surga. Ia tidak menangis karena hasud sebagaimana tuduhan sebagian orang-orang bodoh. Namun, beliau menangis karena menyesal atas apa yang terlepas padanya dari martabat seperti beliau.

Muhammad…! Muhammad…!

Al-Hafidz Ibnu Katsir meriwayatkan dari Imam Ahmad bin Hanbal ra. tentang kisah meninggalnya Rasulullah saw. dengan sanadnya sampai kepada Sayyidah Aisyah ra. Dalam kisah itu disebutkan bahwa Abu Bakar ra. tiba. Aisyah ra. lalu membuka tabir. Abu Bakar melihat beliau, lalu berujar, “Inna lillah wa inna ilaihi rajiun. Telah meninggal Rasulullah saw.” Kemudian dia mendatangi beliau dari sisi kepala beliau, lalu mencondongkan mulutnya dan mencium dahi beliau, kemudian berkata, “Wahai Nabi…?!” Kemudian mengangkat kepala, lalu mencondongkan mulutnya dan mencium dahi beliau seraya berkata, “Wahai sosok terpilih…?!” Kemudian mengangkat kepala, lalu mencondongkan mulutnya dan mencium dahi beliau seraya berkata, “Wahai sang kekasih…?! Telah meninggal Rasulullah saw…?!” (Lihat al-Bidayah juz 5 hal. 242).

Al-Hafidz ad-Darimi dalam Sunannya meriwayatkan: Abu Nu’man menceritakan pada kami. Hammad bin Zaid menceritakan pada kami dari Tsabit dari Anas bin Malik ra. bahwa Fatimah berkata, “Wahai Anas, bagaimana tenang jiwamu ketika kamu menuangkan tanah pada Rasulullah saw.?!” Fatimah berkata, “Wahai ayahanda… Alangkah dekatnya engkau dengan Tuhan… Wahai ayahanda… Surga Firdaus adalah tempat engkau… Wahai ayahanda… kepada Jibril kami meratap… Wahai Ayah… Engkah telah memenuhi panggilan Tuhan…”

Hammad berkata, “Tatkala Tsabit menceritakan hadits ini, dia menangis.” Tsabit berkata, “Tatkala Anas menceritakan hadits ini, dia menangis.” (Lihat Sunan Darimi juz 1 hal. 41 bab Wafatnya Nabi saw.).

Al-Hafidz Ibnu Katsir menuturkan bahwa sandi orang-orang Islam pada waktu perang Yamamah adalah, “Ya Muhammadaaah?!” (wahai Muhammad…?!). Dia mengatakan yang redaksinya demikian, “Khalid bin Walid memimpin hingga melewati mereka dan bergerak menuju bukit Musailimah. Dia mengintai (mengendap-endap) agar bisa sampai kepadanya dan membunuhnya. Kemudian dia kembali. Kemudian dia berdiri di antara dua barisan dan menyeru duel (perang tanding). Katanya, “Aku Ibnul Walid al-Ud. Aku Ibnu Amir dan Zaid.” Kemudian dia menyeru sandi kaum muslimin. Dan sandi mereka saat itu adalah “Waa-Muhammadaaah?!” (Lihat al-Bidayah wan Nihayah jud 6 hal. 324).

Nabi saw. Mengajari Seorang Sahabat Bagaimana Bertawassul dengan Beliau

Al-Hakim dalam al-Mustadrak meriwayatkan dari Syuaib bin Said al-Habathi: Ayahku menceritakan kepadaku dari Rauh bin Qasim dari Abu Ja’far al-Madani, dan dia adalah al-Khatmy, dari Abu Umamah dari Sahl bin Hunaif, dari pamannya, Usman bin Hunaif ra., katanya: “Aku mendengar Rasulullah saw. Seorang buta datang kepada beliau mengeluhkan penglihatannya yang hilang. “Ya Rasulullah, aku tidak mempunyai penuntun. Sungguh susah dan berat bagiku,” ujarnya. Rasulullah saw. bersabda, “Datanglah pada tempat wudlu. Lalu berwudlulah. Kemudian lakukanlah shalat dua rakaat, kemudian ucapkan doa,

اللّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ وَأَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم نَبِيِّ الرَّحْمَةِ ، يَا مُحَمَّدُ إِنِّي أَتَوَجَّهُ بِكَ إِلَى رَبِّكَ فَيُجَلِّي لِي عَنْ بَصَرِي ، اللّهُمَّ شَفِّعْهُ فِيَّ وَشَفِّعْنِي فِى نَفْسِي

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon dan menghadap kepada-Mu dengan (perantaraan) Nabi-Mu, Muhammad saw., seorang nabi kasih sayang. Wahai Muhammad, sesungguhnya aku menghadap dengan (perantaraan)mu kepada Tuhanmu, agar Dia menjadikan terang pandangan mataku. Ya Allah, berikanlah pertolongan dia di dalam diriku dan berikanlah pertolongan aku di dalam diriku.”

Usman berkata, “Demi Allah, kami belum berpisah, dan pembicaraan juga belum berselang lama, sehingga orang tadi masuk, dan tampak seakan-akan dia tidak ditimpa kesusahan.” Hadits ini shahih menurut standar kualifikasi al-Bukhari, sedang Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya. Hadits ini terdapat pada juz awal kitab Targhib wat Tarhim hal. 190.

Dari Usman bin Hunaif ra. bahwasanya seorang buta datang kepada Nabi saw, lalu berkata, “Ya Allah, doakanlah kepada Allah agar Dia menyembuhkan mataku.” Sabda Nabi saw., “Atau aku membiarkanmu saja?!” Katanya, “Ya Rasulullah, kehilangan penglihatan ini telah membuatku susah dan berat.” Sabda beliau, “Kalau begitu, pergilah, lalu berwudlulah, kemudian shalatlah dua rakaat, kemudian ucapkan doa, “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon dan menghadap kepada-Mu dengan (perantaraan) Nabi-Mu, Muhammad saw., seorang nabi kasih sayang. Wahai Muhammad, sesungguhnya aku menghadap dengan (perantaraan)mu kepada Tuhanku, agar Dia menjadikan terang pandangan mataku. Ya Allah, berikanlah pertolongan dia di dalam diriku dan berikanlah pertolongan aku di dalam diriku.” Dia lalu pulang, sedang Allah telah menyembuhkan matanya.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Tirmidzi. Ia berkata: “Hadits ini hasan shahih lagi gharib (asing).” Diriwayatkan juga oleh Nasai, dan teks ini miliknya, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, dia menshahihkan hadits ini, dan Hakim. Ia berkata: “Hadits ini shahih menurut kualifikasi Bukhari dan Muslim.” Dalam riwayat Tirmidzi tidak didapati redaksi, “Kemudian shalatlah dua rakaat,” hanya dikatakan, “Dan beliau memerintahkannya berwudlu, lalu memperbaiki wudlunya, kemudian berdoa dengan doa ini,” lalu dia menuturkan seperti hadits di muka. Tirmidzi meriwayatkanya dalam bab ad-Da’awat (doa-doa). Thabarani juga meriwayatkan hadits ini dan di awal hadits dia menuturkan kisah, bahwa seseorang berulang kali datang kepada Usman bin Affan ra. untuk suatu hajat baginya, sementara Usman tidak menoleh kepadanya dan tidak memperhatikan hajatnya. Dia lalu berjumpa dengan Usman bin Hunaif, lalu mengeluhkan hal itu kepadanya. Usman bin Hunaif berkata kepadanya, “Datanglah pada tempat wudlu, lalu berwudlulah, kemudian datanglah pada masjid lalu shalatlah dua rakaat di dalamnya, kemudian ucapkan doa, “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon dan menghadap kepada-Mu dengan (perantaraan) Nabi-Mu, Muhammad saw., seorang nabi kasih sayang. Wahai Muhammad, sesungguhnya aku menghadap dengan (perantaraan)mu kepada Tuhanku, agar Dia memenuhi hajatku,” kamu sebutkan hajat kebutuhanmu, dan pergilah kepadaku sehingga aku bisa menyertaimu pergi. Lalu berangkat orang tadi melakukan apa yang dikatakan kepadanya, kemudian ia datangi pintu Usman. Penjaga pintu menghampirinya sehingga membawa dan memasukkannya kepada Usmanbin Affan. Usman bin Affan mendudukkan dia bersamanya di atas permadani, seraya berkata, “Apa keperluanmu?!” Dia lalu menuturkan hajat keperluannya. Usman lalu memenuhi padanya hajat keperluan itu.

Usman bin Affan berkata, “(Ada apa) kamu tidak menuturkan hajatmu hingga saat ini.” Kemudian berkata lagi, “Jika kamu punya hajat kebutuhan, datanglah pada kami.” Kemudian tatkala keluar dari Usman bin Affan, orang tadi menjumpai Usman bin Hunaif, seraya berkata, “Semoga Allah membalas kebaikan padamu. Dia tidak pernah memperhatikan hajatku, tidak pula dia mau menoleh kepadaku, sehingga kamu bicara dengannya mengenai diriku.” Usman bin Hunaif berkata, “Demi Allah, aku tidak bicara padanya. Tetapi, aku menyaksikan Rasulullah saw. Seorang buta datang kepada beliau mengeluhkan penglihatannya yang hilang. Nabi saw. lalu bersabda, “Atau kamu bisa bersabar?!” Katanya, “Ya Rasulullah, aku tidak mempunyai penuntun. Sungguh susah dan berat bagiku,” ujarnya. Nabi saw. bersabda, “Datanglah pada tempat wudlu. Lalu berwudlulah. Kemudian lakukanlah shalat dua rakaat, kemudian berdoalah dengan doa-doa ini. Usman bin Hunaif lalu berkata, “Demi Allah, kami belum berpisah, dan pembicaraan juga belum berselang lama, sehingga orang tadi masuk, dan tampak seakan-akan dia tidak ditimpa kesusahan sama sekali.” Thabarani berkata setelah menuturkan jalur-jalur periwayatannya, “Hadits ini shahih.”

Pandangan Syeikh Ibnu Taimiyah mengenai Derajat Hadits

Hadits ini dengan panjangnya dituturkan oleh Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah. Dia menuturkan lengkap dengan jalur-jalur transmisi dan sanad-sanadnya seraya menuturkan secara sempurna kisah Usman bin Hunaif bersama seseorang. Dia menshahihkan semua itu dan menguatkannya dari sisi sanad dalam kitabnya, “Qaidah Jalilah fit Tawassul wal Wasilah,” (kaidah agung tentang tawassul dan wasilah). (Halaman 95-96).

Keistimewaan Ahlul Bait

Al-Imam al-Hafidz Ibnul Qayyim berkata dalam kitabnya “Jalaul Afhaam” hal. 210, “Ketika keluarga yang diberkahi nan disucikan ini adalah semulia-mulia keluarga di alam semesta ini secara mutlak, maka Allah swt. memberikan keistimewaan pada mereka dengan berbagai keistimewaan,

Di antaranya, Dia perintahkan hamba-hamba-Nya agar bershalawat kepada Ahlul Bait, sebagaimana Dia bershalawat kepada Ahlul Bait mereka dan nenek moyang mereka, yaitu Ibrahim dan keluarganya. Dan ini merupakan keistimewaan bagi mereka.

Di antaranya juga, Allah menjadikan Ahlul Bait ini pembeda di antara manusia. Orang-orang yang beruntung adalah para pengikut mereka, sedang api neraka bagi musuh dan penentang mereka.

Di antaranya juga, Allah swt. menjadikan keselamatan makhluk-Nya dari kesengsaraan dunia dan akhirat berada di tangan-tangan Ahlul Bait. Mereka memiliki sekian banyak nikmat yang manusia tidak mampu menghitungnya dan tidak mampu membalasnya. Mereka memiliki anugerah-anugerah besar yang berada di leher generasi awal dan generasi belakangan dari empunya kebahagiaan. Kekuasaan-kekuasaan yang agung berada di sisi mereka sebagai balasan yang diberikan Allah swt.

Setiap kemanfaatan, amal shaleh, dan ketaatan kepada Allam di alam semesta, Ahlul Bait memiliki pahala seperti pahala orang-orang yang melakukan amal-amal itu. Maka, Maha Suci Dzat yang memberi secara khusus dengan anugerah-Nya kepada hamba-hamba yang Dia kehendaki.

Allah swt. menutup semua jalan antara Dia dan antara alam semesta, dan menutup pintu-pintu pada selain mereka (Ahlul Bait). Allah tidak membukakan kepada satu orang pun sama sekali kecuali dari jalan mereka dan pintu mereka. Kata-Nya, “Demi Dzat-Ku dan keagungan-Ku. Seandainya mereka datang kepada-Ku dari semua jalan dan mereka meminta dibuka dari segala pintu, Aku tidak akan membuka untuk mereka sehingga mereka masuk di belakangmu.”

Allah swt. memberikan keistimewaan berupa ilmu kepada mereka yang tidak diberikan secara istimewa kepada keluarga di alam semesta ini selain mereka. Alam semesta tidak mengakui keluarga yang lebih alim (mengerti) tentang Allah, asma-asma-Nya, sifat-sifat-Nya, hukum-hukum-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, pahala dan siksa, syara’, tempat-tempat keridlaan-Nya dan kemurkaan-Nya, serta para malaikat dan segenap makhluk-Nya, daripada Ahlul Bait. Maha Suci Dzat yang menghimpun untuk mereka ilmu orang-orang pertama dan orang-orang akhir.

Allah swt. memberikan keistimewaan kepada mereka berupa mentauhidkan dan mencintai-Nya yang tidak diberikan secara spesial kepada keluarga selain mereka.

Allah swt. mengokohkan Ahlul Bait di bumi dan menguasakan mereka di dalamnya, para penduduk bumi mentaati mereka, sesuatu yang tidak diperoleh selain mereka.

Allah swt. menghapus dengan (perantaraan) mereka dari jejak-jejak kesesatan dan syirik dan dari jejak-jejak yang Dia benci dan murkai, apa yang tidak Dia hapus dengan selain mereka.

Allah swt. menjadi jejak-jejak mereka di bumi sebagai sebab kekal dan terpeliharanya alam. Alam senantiasa eksis selama jejak-jejak mereka juga eksis. Jika jejak-jejak mereka hilang dari bumi maka itulah awal robohnya alam.

Allah swt. menanam untuk mereka kecintaan, keagungan, dan kebesaran pada hati alam semesta, yang tida Dia tanam untuk selain mereka.

Demikianlah. Kebangkitan umat manusia adalah dengan kebangkitan jejak-jejak nabi mereka dan syariat-syariat mereka di antara mereka. Tegaknya urusan umat manusia, teraihnya kemaslahatan mereka, serta tertolaknya berbagai macam bala’ dan keburukan dari mereka itu bersesuaian dengan tampak dan tegaknya jejak-jejak nabi di antara mereka. Kehancuran umat manusia, kebinasaan mereka, serta turunnya malapetaka dan keburukan menimpa mereka, semua itu disebabkan menelantarkan jejak-jejak nabi itu, berpaling dari jejak-jejak nabi itu, memutus perkara kepada selain jejak-jejak nabi itu, serta mengambil selainnya.

Barangsiapa merenungkan negeri-negeri dan hamba-hamba yang dikuasakan terhadap musuhnya oleh Allah swt. dia akan tahu bahwa hal itu disebabkan mereka mengabaikan dan menelantarkan agama Nabi-Nya, sunnah Nabi, dan syariat-syariatnya. Allah lalu menguasakan kepada mereka orang-orang yang akan menghancurkan dan mengiksa mereka. Bahkan, negeri-negeri yang di dalamnya tidak ada penampakan terhadap jejak-jejak Nabi, sunnah, dan syariat-syariatnya, adalah tertolaknya bala’ dari negeri-negeri itu menurut kadar penampakan hal itu di antara mereka.Berbagai keistimewaan ini dan masih banyak lagi yang lainnya merupakan jejak dan berkah rahmat Allah azza wa jalla atas Ahlul Bait. Karena itu, Rasulullah saw. memerintahkan kita agar memohon kepada Allah untuknya agar Allah memberkahi atasnya dan atas keluarganya, sebagaimana Allah memberkahi atas Bait yang agung ini. Shalawat dan salam kesejahteraan-Nya semoga senantiasa terhatur kepada mereka semua.

Dan termasuk di antara keberkahan Ahlul Bait adalah Allah swt. menampakkan di atas tangan-tangan mereka dari keberkahan bumi dan akhirat yang tidak ditampakkan-Nya atas tangan-tangan keluarga selain mereka.

Termasuk keberkahan dan keistimewaan mereka pula adalah bahwa Allah swt. memberikan kepada mereka berbagai keistimewaan yang tidak diberikan-Nya kepada selain mereka. Di antara mereka ada yang dijadikan oleh-Nya sebagai kekasih (al-khalil).

Termasuk keistimewaan dan keberkahan mereka pula atas penduduk bumi adalah bahwa Allah swt. menghilangkan azab yang merata jauh dari penduduk bumi disebabkan mereka dan terutusnya mereka. Kebiasaan Allah swt. pada umat-umat nabi terdahulu manakala mereka mendustakan nabi-nabi mereka dan rasul-rasul mereka, maka Dia akan membinasakan mereka dengan adzab yang meratai mereka, seperti yang dialami kaum Nuh, kaum Hud, kaum Shaleh, dan kaum Luth. Lalu ketika Allah telah menurunkan Taurat, Injil, dan al-Qur’an, Allah menghilangkan adzab yang merata itu dari penduduk bumi. Allah menitahkan memerangi orang-orang yang mendustakan dan menentang mereka. Hal itu merupakan pembelaan bagi mereka dengan tangan-tangan mereka, obat bagi jiwa-jiwa mereka, dijadikannya syuhada’ dari mereka, dan dihancurkannya para musuh dengan tangan-tangan mereka, agar siksa-Nya dilakukan oleh tangan-tangan mereka.

Sumur Cincin

Sumur cincin (bi’ru al-khatam) ini disebut pula dengan sumur Aris, dinisbatkan kepada seorang Yahudi yang dikenal bernama Aris. Sumur ini terdapat di muka Masjid Quba. Dinamakan sumur cincin karena di situlah cincin Nabi saw. jatuh dari tangan Usman bin Affan ra. pada tahun keenam dari kekhilafahannya. Usman berupaya sekuat tenaga dan dengan berbagai cara untuk mengeluarkan cincin itu, namun tidak berhasil. Ada yang mengatakan cincin itu jatuh dari tangan Muaiqib. Dengan jatuhnya cincin itu, mereka mengisyaratkan akan terjadinya peristiwa besar dalam Islam.

Kata mereka, “Dan semenjak hari itu, terjadilah dalam kekhilafahan Usman, berbagai pertentangan, karena terlepasnya keberkahan cincin itu.”

Sebelumnya cincin itu berada di tangan Abu Bakar, kemudian berada di tangan Umar ra., kemudian terakhir pada tangan Usman ra. selama enam tahun. Dalam Shahih Muslim diterangkan dari hadits Said bin Musayyib. Ia berkata: Abu Musa al-Asy’ari menceritakan padaku bahwa ia berwudlu di rumahnya kemudian keluar, lalu berkata, “Aku akan selalu menyertai Rasulullah saw. pada hari ini.” Ia datang ke masjid lalu bertanya dimana Nabi saw. Jawab mereka, “Beliau keluar ke arah sini.” Kata Abu Musa: Aku lalu keluar menyusulnya. Aku tanyakan lagi ke arah mana beliau. Jawab mereka, “Sehingga beliau masuk sumur Aris.” Kata Abu Musa: Aku lalu duduk di dekat pintu, dan pintunya berasal dari pelepah kurma, sehingga Rasulullah saw. selesai buang hajat dan berwudlu. Aku lalu menemui beliau, ketika itu beliau lagi duduk di atas sumur Aris.” (Demikian diterangkan dalam kitab al-Maghanim al-Muthabah fi Ma’alim Thabah karya Fairuzabadi hal. 26).

Zamzam Madinah

Zamzam adalah sebuah sumur di kota Madinah, berada di sebelah kanan pejalan ke sumur Ali ra., jauh dari jalan besar, sedikit di lereng bukit dari tanah tak berpasir. Sekitar sumur itu dipagari dengan bangunan berkapur. Di sisinya terdapat telaga dari batu yang dipecah. Penduduk Madinah senantiasa tinggal di situ dan memindahkan airnya ke segala penjuru, sebagaimana dipindahkannya air zamzam Makkah. Jejak sejarah mengenai sumur itu tidak diketahui. Dia berada di dekat sumur yang kini dikenal dengan irigasi Sa’ad.

Syeikh Jamaluddin al-Mathari berkata, “Tidak diketahui apakah ia pengairan yang pertama karena dekat dari jalan, ataukah ini karena keberlangsungan bertabarruk di situ?!” Katanya: Bisa jadi ia sumur yang digali oleh Fatimah binti Husein bin Ali, isteri Hasan bin Hasan bin Ali, ketika ia keluar dari rumah neneknya, yaitu Fatimah al-Kubra, pada masa (khalifah) al-Walid, kala ia memerintahkan memasukkan kamar-kamar dan kediaman Fatimah dalam bagian masjid (Nabawi). Dia (Fatimah binti Husein) membangun rumahnya di satu kampung. Dia memerintahkan menggali sumur di dalamnya. Tampak pada mereka gunung dan tanah keras. Mereka lalu menuturkan kepadanya. Dia lalu berwudlu, shalat, dan berdoa. Dipercikkannya air bekas wudlunya pada lokasi sumur seraya memerintahkan mereka menggalinya. Mereka lalu dengan cepat mendapatkan sumber air. Yang jelas, sumur itu adalah pengairan pertama. Wallahu a;lam.”

Aqiq

Dari Jabir bin Abdillah ra. Ia berkata: Salamah bin Akwa’ al-Aslami dulu pernah memburu rusa, lalu menghadiahkan daging-daging rusa itu kepada Rasulullah saw. dlam keadaan kering dan empuk (lunak). Rasulullah saw. lalu kehilangan dia, “Wahai Salamah, ada apa kamu tidak datang kepadaku dengan membawa yang dulu pernah kau bawa kepadaku?” Katanya, “Ya Rasulullah. Buruan menjauh. Kami berburu di Tib dan pinggir anak sungai. Sabda beliau, “Seandainya kamu berburu di Aqiq niscaya aku bisa mengantarkanmu kala kamu pergi, dan menjumpaimu kala kamu pulang. Karena sesungguhnya aku mencintai Aqiq.”

Dari Zakariya bin Ibrahim. Ia berkata: Ada dua orang menginap di Aqiq, kemudian keduanya datang kepada Rasulullah saw. “Di mana kalian berdua bermalam?,” tanya beliau. Keduanya menjawab, “Di Aqiq.” Sabda beliau, “Kalian benar-benar telah bermalam di satu lembah yang penuh berkah.”

Diriwayatkan dari Amir bin Said ra. Katanya: Rasulullah saw. naik kendaraan menuju Aqiq, kemudian kembali, lalu berkata, “Wahai Aisyah, kami telah tiba dari Aqiq ini. Alangkah enak tempatnya dan alangkah segar airnya.” Aisyah berkata: Aku berkata: “Ya Rasulullah, apakah kita akan pindah ke Aqiq?” Sabda beliau, “Mau bagaimana lagi, sementara manusia telah membangun?!”

Dari Amir bin Said ra. berkata: Sesungguhnya Rasulullah saw. tidur di Aqiq. Seorang sahabat bangkit hendak membangunkannya. Seorang sahabat lain menghalanginya seraya berkata, “Jangan bangunkan dulu. Kesempatan shalat belum hilang.” Keduanya lalu saling tarik dan dorong sehinga salah satunya mengenai Rasulullah saw. hingga beliau terbangun. “Ada apa kalian berdua?!,” sabda Rasul. Keduanya lalu memberitahu padanya. Beliau bersabda, “Kamu berdua telah membangunkanku. Sungguh aku melihat diriku berada di lembah yang diberkahi.”

(Lihat kitab al-Maghanim al-Muthabah fi Ma’alim Thabah karya Fairuzabadi hal. 266).

Ummu Ma’bad Menceritakan tentang al-Musthafa saw.

Tersebut di dalam sebuah hadits bahwa Nabi saw. di tengah-tengah perjalanan hijrah, melewati Ummu Ma’bad, disertai Abu Bakar, budaknya, yaitu Amir bin Fuhairah, dan penunjuk jalan mereka, yaitu Abdullah bin Uraiqith ad-Diyali. Mereka lalu bertanya kepada Ummu Ma’bad, apakah dia mempunyai susu atau daging yang bisa mereka beli darinya?! Mereka tidak mendapati sesuatu pun pada Ummu Ma’bad. Kata Ummu Ma’bad, “Seandainya kami memiliki sesuatu, kami tidak akan sulit menyuguhkan jamuan pada kalian.” Sementara mereka dilanda lapar yang sangat. Nabi saw. melihat ada kambing yang berada di sisi kemah Ummu Ma’bad. “Kambing apa ini, wahai Ummu Ma’bad?!” tanyanya. Kata Ummu Ma’bad, “Kambing ini kurus puting susunya.” “Apakah kamu mengizinkanku memerahnya?” Jawabnya, “Jika air susunya ada, perahlah.” Nabi saw. memanggil kambing lalu mengusapnya, seraya menyebut asma Allah. Dalam hadits berikutnya diterangkan bahwa beliau memerah susu hingga mencukupi mereka semua, kemudian memerah lagi seraya meninggalkan wadah Ummu Ma’bad penuh dengan susu. Beliau memberi minum dengan puas kepada banyak orang (antara 3-10 orang).

Tatkala suaminya datang, ia ingkari susu seraya berkata, “Dari mana kamu peroleh susu-susu ini, wahai Ummu Ma’bad, sedang tidak ada kambing yang diperah di rumah ini, sementara kambing mandul?” Kata Ummu Ma’bad, “Tidak, demi Allah, sungguh telah lewat pada kami seorang laki-laki yang penuh berkah. Di antara pembicaraannya begini dan begini…” Kata suaminya, “Berikan ciri-cirinya padaku. Demi Allah, aku menduganya sebagai orang Quraisy yang tengah dicari-cari.” Kata Ummu Ma’bad selanjutnya, “Aku melihat seorang laki-laki yang tampak putih berseri, terpuji akhlaknya, bermuka manis, tidak ternoda oleh kepala besar/perut besar, tidak dicela karena kecil kepala, ganteng, elok, kedua matanya amat hitam dan lebar, rambut di tepi pelupuk matanya, alis, dan bulu matanya lebat nan panjang, dalam suaranya ada sedikit serak/parau, bermata jelita, matanya berwarna amat hitam, tipis dan memanjang alisnya (melengkung), kedua alisnya bertemu (bersambung), ada cahaya memancar pada lehernya, jenggotnya tebal, jika diam berwibawa, jika bicara unggul dan bertambah elok, manis tutur katanya, tegas, jelas, dan terang, tidak pelan dan tidak kelewat cepat, tutur katanya seakan-akan mutiara syair, sosok manusia yang paling elok dan anggun dari jauh, paling manis dan bagus dari dekat, ideal, mata tidak membencinya karena tinggi, dan tidak meremehkannya karena pendek, dahan di antara dua dahan, dia di antara 3 orang yang paling elok dipandang dan paling bagus kedudukannya, dia mempunyai teman-teman yang menghormatinya, jika dia berkata mereka memperhatikan perkataannya, jika dia memerintah mereka bergegas melaksanakan perintahnya, dia dilayani dengan cekatan, orang-orang sama suka berkhidmah padanya, tidak bermuram muka, tidak suka menyalahkan orang.”

Suaminya berkata, “Demi Allah, ini adalah orang Quraisy yang dicari-cari. Seandainya aku bertemu dengannya, niscaya aku akan berupaya menemaninya, dan aku akan bersungguh-sungguh jikalau aku mendapati jalan untuk itu.”

Kata suaminya, “Ada suara di Makkah, tinggi antara langit dan bumi, mereka sama mendengarnya, namun tidak melihat siapa yang mengucapkannya. Suara itu berkata,

جَزَى اللهُ رَبُّ النَّاسِ خَيْرَ جَزَائِهِ = رَفِيْقَيْنَ حَلاَّ خَيْمَتَي أُمِّ مَعْبَدِ

هُمَا نَزَلاَ بِالْبَرِّ وَارْتَحَلاَ بِهِ = فَأَفْلَحَ مَنْ أَمْسَى رَفِيْقَ مُحَمَّدِ

فَيَا لقُصَيّ مَا زَوَى اللهُ عَنْكُمُ = بِهِ مِنْ فِعَالٍ لاَ تُجَازَى وَسُؤْدَدِ

سَلُوا أُخْتَكُمْ عَنْ شَاتِهَا وَإِنَائِهَا = فَإِنَّكُمُو إِنْ تَسْأَلُوا الشَّاةَ تَشْهَدِ

دَعَاهَا بِشَاةٍ حَائِلٍ فَتَحَلَّبَتْ = لَهُ بصريح ضرة الشاة مزبدِ

فَغَادَرَهُ رَهْنًا لَديْهَا لِحَالِبِ = يُدِرُّ لَهَا فِى مَصْدَرٍ ثُمَّ مَوْرِدِ

Semoga Allah, Tuhan segenap manusia, memberikan balasan sebaik-baiknya kepada dua teman yang tinggal sementara di dua kemah Ummu Ma’bad.

Keduanya tinggal di lembah dan beranjak pergi. Beruntunglah orang yang senantiasa menjadi teman Muhammad.

Wahai Qushayyi, berbagai perbuatan dan kedudukan yang dihimpun oleh Allah pada diri kalian tidak akan dapat dibalas.

Tanyakan pada saudara perempuanmu tentang kambingnya dan wadahnya. Sungguh, jika kamu bertanya pada kambing, kambing itu akan mempersaksikan,

Dia memanggil kambing mandul, tiba-tiba puting/kelenjar susu kambing itu tampak jelas mengucurkan susu dengan derasnya.

Dia meninggalkan kekekalan padanya berupa air susu yang deras sumbernya.

Al-Hafidz al-Baihaqi kemudian menyusuli hadits ini dengan menuturkan kata-kata asingnya. Dan kami di sini menuturkan beberapa noktah darinya: ‘Dzahirul wadlaa’ah’ maknanya adalah tampak indah. ‘Ablajul wajhi’: mukanya bersinar terang. ‘Lam taibhu tsajlah’, kata Abu Ubaid, yakni besar perut. Lainnya berkata, kepala besar. ‘Wa lam tazra bihi sha’lah’: yakni kepala kecil. Adapun ‘al-wasim’ adalah bodi yang indah, demikian pula kata ‘al-qasim’. ‘Ad-Da’ju’ maknanya adalah amat hitam matanya. ‘Al-wathaf’: panjang pelupuk kedua matanya. Dalam suaranya ada ‘shahl’ yakni serak/parau sedikit, dan hal ini merupakan paling manis dalam hal suara. Abu Ubaid berkata, “Kijang biasa disifati dengan ash-shahl”. Adapun ucapan Ummu Ma’bad, ‘ahwar’ (bermata jelita) maka hal ini asing dalam sifat Nabi saw. Ia membuat mata indah dan tidak membuat mata jelek laksana juling. Ucapannya ‘azaj’, Abu Ubaid berkata, bermakna melengkung kedua alisnya. Kata Abu Ubaid, adapun ucapannya ‘aqran’ ia bermakna bertemu/sambungnya dua alis di antara dua mata. Katanya: “Dan hal ini tidak dikenal dalam sifat Nabi saw. kecuali dalam hadits ini.”

Katanya: Dan yang dikenal dalam sifat Nabi saw. adalah beliau bersinar dua alisnya. Pada lehernya ada cahaya memancar. Kata Abu Ubaid: bermakna ‘thuul’ (panjang), sedang lainnya memaknai: ‘nuur’ (cahaya). Aku berkata: Dan mungkin bisa dipadukan, bahkan lebih terang dan nyata (kalau dipadukan). Ucapan Ummu Ma’bad ‘kala diam tampak berwibawa’ yakni kewibawaan melekat padanya di kala diam. ‘Jika bicara unggul’ yakni unggul di atas manusia. ‘Dan bertambah elok’ yakni saat bicara dia manis tutur katanya. ‘Tegas dan terang’ yakni fasih dan tegas, ucapannya terang dan jelas. “Laa nazara wa la hadzara,” tidak sedikit dan tidak banyak. “Seakan-akan tutur katanya adalah mutiara syair yang digubah” dari keindahan, balaghah, fashahah, jelas, dan manis lidah dari tutur kata itu. “Sosok manusia yang paling elok dan anggun dari jauh, paling manis dan bagus dari dekat,” yakni dia manis dari jauh dan dari dekat. Ummu Ma’bad menuturkan: “Tidak panjang dan tidak pendek”, akan tetapi beliau lebih indah dari ini dan dari ini. Dia menuturkan juga bahwa para sahabatnya mengagungkannya, melayaninya, dan bergegas mentaatinya. Hal itu tidak lain kecuali karena keagungannya di sisi mereka, keagungannya pada jiwa mereka, dan kecintaan mereka kepadanya. Dia tidak bermuka masam, yakni tidak berengut. ‘Tidak suka menyalahkan orang’ maknanya tidak memburukkan orang dan tidak menganggap orang kurang akal, akan tetapi pergaulannya indah dan bagus pertemanannya. Temannya mulia baginya, sementara temannya cinta kepadanya.” (Lihat al-Bidayah wa an-Nihayah juz 6 hal. 31).

Sumber: Adz Dzakhoir Al Muhammadiyyah oleh Sayyidunal Imam Al Habib Muhammad bin ‘Alawi Al Maliki Al Hasani.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: