TEORI JULIAN ROTTER

Perilaku tidak terjadi dalam ruang hampa. Seseorang akan terus memberikan reaksi terhadap aspek-aspek lingkungan eksternal dan internalnya.

– Julian Rotter

Rotter, Bandura, dan Skinner sepakat bahwa sebagian perilaku bisa dipelajari. Namun Rotter dan Bandura tidak sepakat dengan pandangan Skinner bahwa perilaku terbentuk semata-mata oleh variabel-variabel eksternal. Sebagaimana yang ditunjukkan oleh kutipan awal, Rotter nampaknya melihat bagian luar dan dalam suatu organisme, yakni penguatan dan proses-proses kognitif dalam, guna menjelaskan perilaku. Jadi, Rotter, seperti halnya Bandura, adalah behavioris yang tidak begitu radikal dibandingkan dengan Skinner, dan ia memunculkan pengalaman subyektif internal dalam pendekatannya terhadap kepribadian.

Rotter menyebut karyanya sebagai teori kepribadian “pembelajaran-sosial” untuk menunjukkan kepercayaannya bahwa kita bisa mempelajari perilaku kita melalui pengalaman sosial kita. Ia sangat mengkritik tendensi Skinner untuk mempelajari beberapa subyek secara terpisah. Ia berargumen bahwa pendekatan Skinner tidak merepresentasikan pembelajaran dalam dunia riil, lingkungan pergaulan yang membuat kita berfungsi dalam situasi interdependensi dan interaksi sosial. Ia juga membandingkan isu itu dengan studi Skinner atas respons subyek hewan terhadap stimuli sederhana. Rotter percaya bahwa riset semacam itu memberikan sedikit lebih daripada sekedar sebuah landasan terhadap pemahaman perilaku sosial manusia yang lebih kompleks.

Dalam riset yang diadakan untuk mengembangkan teori pembelajaran-sosialnya, Rotter dan para pengikutnya telah mempelajari subyek-subyek manusia saja. Dengan menggunakan beragam teknik, Rotter memfokuskan pada orang-orang normal, anak-anak dan siswa perguruan tinggi. Teorinya didasarkan pada pendekatan eksperimental yang cermat dan terkontrol-baik terhadap psikologi yang merupakan karakteristik gerakan behavioris. Teori kepribadian Rotter berasal dari laboratorium dan bukan klinik.

Rotter berhadapan dengan proses-proses kesadaran dalam yang lebih ekstensif daripada Bandura. Beliau merasa bahwa kita merasakan diri kita sebagai seseorang yang memiliki kesadaran, mampu mempengaruhi pengalaman kita dan mengambil keputusan yang bisa mengatur kehidupan kita. Penguatan eksternal memainkan sebuah peran dalam sistem itu, namun efektivitas penguatan itu bergantung pada faktor-faktor internal dan kognitif.

Masing-masing perilaku seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor semacam itu. Kita memiliki harapan subyektif atas outcome perilaku kita dalam terma penguatan yang akan mengikutinya. Kita mengestimasi kemungkinan bahwa perilaku dalam hal tertentu akan menimbulkan penguatan tertentu, dan kita mengatur perilaku kita menurut hal itu. Kita menempatkan nilai-nilai atau tingkat-tingkat kepentingan berbeda pada penguatan berbeda, dengan memutuskan mana yang bermanfaat dalam berbagai macam situasi.

Secara menyeluruh, masing-masing kita dapat berfungsi dalam konteks psikologis atau lingkungan. Penguatan yang sama mungkin tidak memiliki nilai serupa terhadap orang berbeda. Kita bisa melihat bahwa pengalaman inti/dalam adalah sangat penting untuk menentukan efek-efek pengalaman eksternal.

Menurut pandangan Rotter, kepribadian akan terus mengalami perubahan sebagai akibat dari penampakan pengalaman baru kita. Namun kepribadian juga memiliki tingkat stabilitas atau kontinuitas tinggi sebab ini dipengaruhi oleh pengalaman kita sebelumnya. Rotter mengambil apa yang ia sebut sebagai sebuah pendekatan historis terhadap kepribadian: untuk memahami perilaku seseorang, ada baiknya mempelajari masa lalunya.

Meskipun Rotter memfokuskan pada kejadian-kejadian subyektif, namun beliau tidak meminimalisir peran kejadian-kejadian eksternal. Kondisi-kondisi penguatan eksternal memberikan petunjuk terhadap perilaku kita sebab kita termotivasi untuk mengusahakan tingkat maksimum penguatan positif dan penghindaran hukuman. Jadi, pendekatan Rotter terhadap kepribadian berusaha untuk mengintegrasikan dua kecenderungan terpisah dan penting dalam riset kepribadian: teori-teori penguatan dan teori-teori kognitif.

Kehidupan Rotter (1916- )

Rotter belum menulis tentang masa kanak-kanak atau masa remaja, namun muncul kesulitan untuk menilai teorinya dalam terma pengalaman hidup awalnya. Ia lulus dari Brooklyn College pada tahun 1937 dan mengambil graduate work dalam psikologi di University of Iowa dan Indiana University; beliau meneria gelar Ph.D-nya dari Indiana University pada tahun 1941. Pengaruh besarnya pada Rotter selama masa-masa belajarnya di perguruan tinggi adalah Alfred Adler. Rottler menghadiri beberapa seminar Adler dan mengunjunginya di rumahnya.

Dengan memberikan layanan sebagai psikolog pada U.S. Army selama Perang Dunia II, Rotter menerima sebuah posisi di Ohio State University, di mana George Kelly adalah direktur program psikologi klinisnya. Yang menarik yakni dua teori yang menekankan kesadatan tekanan seharusnya berkembang pada lembaga yang sama, meskipun karya Kelly muncul bersamaan dengan karya Rotter. Di Ohio State, Rotter mengadakan sejumlah riset dalam teori pembelajaran-sosialnya dan memikat sejumlah mahasiswa strata satu yang menonjol, yang berusaha untuk naik ke karir produktif.

Pada tahun 1963, Rotter belajar di University of Connecticut, di mana saat ini ia menganalisis dan memperbaiki pendekatannya terhadap kepribadian.

Konsep-Konsep Dasar Teori Pembelajaran-Sosial

Untuk memahami teori pembelajaran-sosial Rotter, kita harus lebih dahulu mendeskripsikan prinsip-prinsip yang terbangun. Empat konsep pokok adalah potensi perilaku, harapan, nilai penguatan, dan situasi psikologis. Dua konsep luas akan didiskusikan, yakni: kebebasan gerakan dan level tujuan kecil.

Potensi Perilaku

Potensi perilaku mengacu pada kemungkinan bahwa perilaku tertentu akan terjadi dalam sebuah situasi tertentu. Kemungkinan itu harus ditentukan dengan referensi pada penguatan atau rangkaian penguatan yang bisa mengikuti perilaku itu. Terdapat persamaan dengan pandangan-pandangan Skinner dalam konsep ini; Rotter berusaha untuk memprediksi kemungkinan bahwa seseorang akan berperilaku dalam hal tertentu dengan keberadaan variabel-variabel khusus. Formulasi Rotter berjalan melebihi formulasi Skinner di mana ia memunculkan variabel-variabel internal dan kognitif, selain variabel-variabel lingkungan, untuk memprediksi perilaku itu.

Konsep Rotter atas potensi perilaku adalah relatif. Beliau berusaha untuk memprediksi kemungkinan kejadian perilaku khusus yang berhubungan dengan perilaku lain yang dapat ditampakkan oleh individu dalam situasi itu. Apa yang menyebabkan individu untuk menyeleksi satu perilaku bukan lainnya? Pilihannya didasarkan pada kesan subyektif seseorang terhadap situasi itu. Potensi perilaku dipengaruhi tidak hanya oleh apa yang ada di luar (seleksi kesadaran dari alternatif-alternatif perilaku yang tersedia dari sudut pandang persepsi kami atas situasi itu).

Definisi Rotter mengenai perilaku berbeda dari definisi Skinner. Skinner hanya berhadapan dengan kejadian-kejadian yang diobservasi secara obyektif. Pandangan Rotter mengenai perilaku tidak hanya mencakup tindakan-tindakan yang dapat diobservasi secara langsung, namun juga tindakan-tindakan yang tidak dapat diobservasi secara langsung – proses internal dan kognitif kami. Bagi Rotter, proses-proses tersebut mencakup variabel “rasionalisasi, penindasan, alternatif-alternatif pertimbangan, perencanaan, dan reklasifikasi” yang dianggap bukan sebagai perilaku oleh para behavioris yang lebih ekstrim.

Rotter menegaskan, perilaku internal atau implisit dapat diobservasi dan diukur melalui cara-cara tak langsung, seperti penarikan kesimpulan dari perilaku yang jelas.

Perhatikan perilaku dalam menguji solusi alternatif terhadap sebuah masalah. Perilaku ini dapat ditarik kesimpulannya dari observasi perilaku subyek yang berusaha untuk menyelesaikan sebuah tugas yang diberikan. Jika, misalnya, subyek itu membutuhkan waktu berlebih untuk memecahkan masalah daripada yang mereka butuhkan untuk menyelesaikan masalah awal, maka Rotter merasakan bahwa hal ini adalah bukti perilaku yang mempertimbangkan solusi-solusi alternatif.

Investigasi obyektif atas aktivitas kognitif dan internal adalah sulit. Rotter mengakui hal ini, namun ia juga percaya bahwa prinsip-prinsip yang mengatur kejadian perilaku implisit itu tidaklah berbeda dari prinsip yang mengatur perilaku yang diobservasi secara jelas dan langsung. Dan kita harus ingat bahwa variabel-variabel internal dan eksternal adalah diperlukan untuk menentukan potensi perilaku itu.

Expectancy(pengharapan)

Expectancy (pengharapan) merupakan konsep utama yang kedua dari Rotter, menjelaskan tentang kepercayaan individu bahwa dia berperilaku secara khusus pada situasi yang diberikan yang akan diikuti oleh penguatan yang telah diprediksikan. Kepercayaan ini berdasarkan pada pola atau probabilitas atau kemungkinan penguatan yang akan terjadi. Tingkat harapan ini ditentukan oleh beberapa factor.

Satu factor yang mempengaruhi expectancy/pengharapan adalah keaslian reinforcement sebelumnya untuk perilaku-perilaku yang terjadi pada situsi-situasi itu. Apakah reinforcement diberikan hanya sekali atau ratusan kali?Apakah reinforcement ini terjadi kemarin atau satu tahun yang lalu?apakah orang-orang diberi reinforcement selalu atau hanya sekali-kali ketika perilaku tersebut terjadi? Karena itulah expectancy dipengaruhi oleh sejarah reinforcement kita.

Factor lain yang mempengaruhi expectancy adalah luasnya generalisasi dari situasi-situasi penguatan yang sama (tetapi tidak serupa). Apakah urutan tingkatan perilaku yang akan dilalui dan reinforcement mempengaruhi situasi yang lain. Generalisasi pengharapan adalah sesuatu yang sangat penting ketika kita menghadapi situasi yang baru. Bagaimana kita dapat memprediksi apakah perilaku kita akan mempengaruhi pemberian reinforcement jika kita belum pernah mengalami situasi itu sebelumnya. Kita hanya dapat mengatur harapan kita sesuai dengan apa yang telah terjadi pada kita pada waktu yang lalu pada situasi yang sama.

Contohnya pikiran seseorang yang berlari memutari halaman 100 yard untuk pertama kali. Apakah harapannya untuk memenangkan perlombaan itu? Menurut Rotter hal ini tidak dapat didasarkan pada pengalaman yang lalu, tetapi hal ini dapat didasarkan pada generalisasi dan partisipasi dari kegiatan atletik yang lainnya. Seberapa bagus dia akan melakukannya. Perlombaan yang lain atau pertemuan renang. Ketika dia berlari memutari halaman 100 yard beberapa kali, harapannya untuk menang dapat dipengaruhi oleh atau berdasarkan pada pengalaman yang terjadi pada masa lalu, karenanya tidak perlu lagi menyamaratakan/menggeneralisasikan pengharapan pada situasi yang sama.

Kita kemudian akan mendiskusikan bentuk dari penggeneralisasian harapan. Bagian dari kepribadian dan pandangan terhadap hidup.yang mana penerapan untuk semua situasi dapat kita pertemukan, disebut dengan Lokus kontrol internal Vs ekternal. Variabel kepribadian ini menjelaskan tentang kepercayaan kita bahwa penguatan yang terjadi pada umumnya bersamaan atau jauh dari kontrol kita. Konsep ini tidak hanya mempengaruhi harapan kita tetapi pada kesehatan mental kita juga.

Nilai penguatan(reinforcement value)

Konsep ketiga dari teori Rotter adalah nilai penguatan(reinforcement value), yang mana merupakan penjelasan mengenai tingkat pilihan untuk satu reinforcement sebagai ganti yang lain. Jika seseorang berada pada situasi yang sama dimana situasi ini memungkinkan dapat terjadinya satu dari beberapa reinforcement, berapa banyak orang-orang yang akan memilih satu reinforcement sebagai ganti yang lain??

Orang-orang membedakan bentuk daripada penguatan yang mereka temukan. Sekalipun tidak ada keraguan setiap orang akan setuju bahwa membaca buku ini adalah reinforcement yang tinggi. Kamu akan berbeda dengan teman sekelasmu mengenai berapa banyak kamu memilih aktifitas lain dan reinforcement yang dibawa aktifitas itu. Beberapa anak akan memilih disco dan yang lainnya akan memilih sympony. Beberapa anak akan memilih football dan yang lainnya akan memilih soccer. Setiap orang menemukan penguatan yang berbeda nilainya pada aktifitas yang berbeda-beda.

Pilihan ini berasal dari pengalaman kita yang menghubungkan reinforcement masa lalu dengan yang terjadi saat ini. Berdasarkan hubungan ini, berkembang pengharapan untuk masa depan. Karena itulah terdapat hubungan antara konsep pengharapan dan nilai penguatan (Reinforcement value).

Rotter berpendapat bahwa hubungan ini ”secara sistematis berdiri sendiri”,dengan kata lain hubungan itu tidak diperlukan tetapi dapat dilihat sebagai hubungan secara empiris karena orang-orang telah mendapatkan hubungan dari pengalamannya masa lalu. Dia menambahkan bahwa kedua variabel ini dapat berperan sebagai isyarat untuk yang lain, dalam kondisi-kondisi tertentu.

Rotter mengajukan contoh seseorang yang membeli tiket untuk penjualan barang dengan undian dimana hadiahnya adalah mobil baru. Reinforcement yang mungkin adalah anggapan yang sangat mengenai murahnya harga tiket. Karena ini tingginya nilai penguat ini merupakan hal yang tidak biasa. Sebagian banyak orang akan memiliki harapan yang kecil untuk menang, karena hanya sedikit orang yang mempunyai pengalaman memenangkan sesuatu yang nilainya seperti itu. Bagaimanapun banyak orang yang yang memenangkan item-item dengan nilai reinforcement yang lebih rendah. Karena itulah harapan kita untuk memenangkan sesuatu lebih besar ketika nilai reinforcement hadiahnya lebih rendah/kecil. Pada masalah ini kemudian ekspectancy dipengaruhi oleh nilai penguat.

Situasi Psikologis

Situasi psikologis adalah konsep dasar keempat dari teori sosial belajar Rotter, dan ini merupakan hal yang penting dalam menentukan perilaku. Rotter percaya bahwa kita secara terus menerus memberikan reaksi pada lingkungan internal maupun lingkungan eksternal kita. Selanjutnya masing-masing lingkungan ini secara konstan saling mempengaruhi yang lain. Kita tidak hanya merespon stimulus eksternal saja tetapi juga kedua lingkungan. Penggabungan inilah yang disebut Rotter dengan situasi psikologis. Situasi dipertimbangkan secara psikologis karena kita mereaksi lingkungan ini berdasarkan pola-pola persepsi kita terhadap stimulus eksternal.

Rotter berpendapat bahwa semua situasi mengandung ciri-ciri yang mengindikasikan kepada kita (berdasarkan pengalaman masa lalu kita) harapan mengenai adanya penguatan untuk berperilaku dengan cara khusus. Contohnya, orang yang oleh para ahli teori Freud disebut sebagai kepribadian anal-agressive. Dalam pendekatan sifat (trait) atau inti (core), orang tersebut akan diprediksikan berperilaku agressive dalam semua keadaan. Rotter berpendapat bahwa perilaku orang akan bermacam-macam sesuai dengan situasi yang ada. Orang tidak akan berperilaku agresiv jika tanda-tanda situasi yang ada mengindikasikan bahwa dia akan dihukum dengan serius karena menunjukkan tindakan yang agressi.

Rotter tidak hanya mengkritik pakar teori inti yang semata-mata menekankan pada lingkungan internal, tetapi juga mengkritik pakar teori behavior, seperti skinner yang hanya memusatkan pada lingkungan eksternal. Dengan mengabaikan lingkungan internal pengharapan dan variabel kognitif lainnya, pakar teori behavior tidak mengindahkan kemungkinan bahwa stimulus dapat memiliki dampak yang bermacam-macam terhadap perilaku pada situasi yang berbeda.

Contohnya pikiran pengkoleksi senapan yang menguji taksiran senjata didinding persembunyiannya dan menyalakan beberapa jenis senjata yang telah dia gunakan untuk menjambret di lorong yang gelap. Stimulus fisik untuk kedua kasus ini sama, tetapi situasi psikologis (persepsi terhadap stimulus) kelihatan sangat menyolok perbedaannya. Sebagai hasilnya perilaku-perilaku dalam dua situasi akan berbeda.

Konsep-konsep teori pembelajaran-sosial yang lebih luas

KEBEBASAN BERGERAK

Kebebasan bergerak dianggap sebagai besarnya harapan seseorang sehingga dia akan mendapatkan penguatan sebagai akibat dari prilaku tertentu. Harapan yang besar akan memberikan kebebasan bergerak yang luas, sementara harapan yang kecil juga berakibat pada kebebasan bergerak yang sempit. Seseorang dengan kebebasan bergerak yang luas mengharapkan keberhasilan dalam mencapai tujuan, tapi seseorang dengan kebebasan bergerak yang sempit yang berkaitan dengan tujuan-tujuan atau kebutuhan-kebutuhan yang penting mengharapkan kegagalan atau hukuman.

Rotter telah menemukan bahwa kebebasan bergerak yang sempit (kecilnya harapan akan keberhasilan dalam memenuhi bidang kebutuhan tertentu) berkaitan dengan pertahanan. Perilaku-perilaku bertahan biasanya diikuti oleh penguatan negative; orang-orang menggunakan sikap bertahan ini karena mereka lebih mengharapkan hukuman dari usaha-usaha positif mereka daripada dari usaha-usaha bertahan mereka.

Ada beberapa penyebab dari kebebasan bergerak yang sempit. Salah satu yang paling sederhana adalah kurangnya pengetahuan tentang bagaimana mencapai tujuan tertentu. Contohnya, seseorang yang mengalami keterlambatan mental mempunyai harapan yang kecil dalam mencapai tujuan-tujuan yang ingin dicapainya karena ketidakmampuan mereka mempelajari prilaku-prilaku tertentu yang diperlukan. Orang-orang yang memiliki kemampuan yang cukup bisa mengembangkan kebebasan bergerak mereka yang sempit karena mereka telah salah menginterpretasikan situasi-situasi mereka di masa lalu. Ketika mereka kanak-kanak, mereka mungkin telah dihukum oleh orang tua mereka dan kemudian menyamakan pengalaman-pengalaman tersebut dengan situasi-situsi yang dialaminya sekarang. Akibatnya, mereka mengharapkan ketidakpersetujuan di semua situasi kehidupan, yang mereka interpretasikan sebagai suatu kegagalan. Jadi, mereka memilki harapan berhasil yang kecil.

Konflik bisa timbul ketika kebebasan bergerak sempit sementara kebutuhan atau tujuan mempunyai nilai yang besar. Akibat konflik ini, akan berkembang berbagai macam prilaku penolakan. Orang ini mungkin akan mencoba mencoba tujuan-tujuannya atau memenuhi kebutuhan-kebutuhannya dengan cara-cara simbolis, dengan hidup di dunia khayalan di mana dia tidakakan menerima hukuman atau mendapatkan resiko. Rotter percaya, bahwa sebagian besar prilaku yang menyimpang atau prilaku patologis terbentuk karena keinginan untuk menghindari konflik antara kebebasan bergerak yang sempit dengan tujuan-tujuan yang penting bagi seseorang.

TINGKAT TUJUAN MINIMAL

Konsep kedua dalam teori Rotter adalah tingkat tujuan minimal, yang dirujuk sebagai tingkat paling rendah potensi penguatan dalam situasi tertentu yang akan dianggap sebagai suatu kepuasan. Rotter beranggapan bahwa penguatan adalah suatu rangkaian yang terjadi terus-menerus, dimana rangkaian mulai dari penguatan yang sangat diinginkan hingga penguatan yang sangat tidak diinginkan. Poin dimana pada rangkaian ini penguatan-penguatan positif menjadi penguatan–penguatan negatif disebut dengan tingkat tujuan minimal.

Jika anda melamar suatu pekerjaan, gaji yang ditawarkan pasti mulai dari yang luar biasa tinggi sampai rendahnya mengecewakan. Satu titik di atara kisaran gaji itulah tingkat paling rendah yang mungkin akan memuaskan. Bekerja dengan gaji di bawah jumlah tersebut tidak akan memberikan penguatan pada anda.

Kita menetapkan tingkat tujuan dalam setiap situasi-dari mulai nilai yang mungkin anda peroleh dalam kuliah ini hingga jenis mobil yang anda inginkan, jenjang karir atau pasangan hidup yang anda idamkan. orang-orang yang berbeda, mempunyai tujuan yang berbeda-beda pula. Anda mungkin sudah puas jika mendapatkan nilai tidak kurang dari A untuk mata kuliah ini, sementara teman sekamar anda cukup senang dengan nilai C. Masing-masing dari anda akan mencapai tingkat tujuan yang berbeda-beda dengan keharusan mendapatkan penguatan yang sama.

Namun demikian, misalkan anda mendapatkan nilai B dalam mata kulian ini. Anda mungkin akan merasakan perasaan gagal, yang akan menyebabkan kebebasan bergerak anda menjadi sempit (harapan kecil akan keberhasilan anda dalam mata kulih ini di waktu yang kan datang). Teman sekelas anda tidak akan paham dengan kesedihan anda karena mendapatkan nilai ini, karena dia hanya berharap mendapatkan nilai C, dan teman sekamar anda akan puas dengan B dan akan mendapatkan kebebasan bergerak yang lebih luas.

Kesehatan emosi, jelaslah, dipengaruhi oleh dimana kita menetapkan tingkat tujuan minimal kita. Orang yang memiliki tingkat tujuan minimal yang tinggi tetapi tidak memperoleh penguatan di atas tingkat tujuan ini akan memiliki kebebasan bergerak yang sempit. Jadi, menetapkan tingkat tujuan minimal yang tidak realistik adalah suatu hal yang membahayakan.

Tingkat tujuan minimal yang terlalu rendah dari kemampuan kita dan penguatan-penguatan yang kita peroleh di masa lalu mungkin bisa membuat kita puas dan mendapatkan kebebasan bergerak yang luas, tapi kita tidak akan memunculkan kemampuan kita. Misalnya, siswa-siswa yang dianggap berkemampuan rendah, yang performanya tidak sesuai dengan kemampuan mereka, telah menetapkan tingkat tujuan minimal yang terlalu rendah.

Rotter memberikan gambaran bahwa tingkat tujuan minimal bisa direndahkan dan ditinggikan dengan merubah nilai-nilai penguatan; yang bisa dilakukan dengan menggabungkan nilai-nilai yang ada sekarang dengan nilai-nilai yang lebih tinggi atau yang lebih rendah. Rotter membicarakan sebuah kasus tentang siswa yang mendapatkan nilai B dan menganggapnya sebagai penguatan negative. Dengan menggabungkan antara nilai tersebut dengan penguatan positif seperti pujian, rayuan, dan penerimaan, maka nilai B tersebut bisa menjadi penguatan yang bernilai positif.

Motivasi Prilaku

Rotter percaya bahwa semua prilaku memiliki aspek langsung; yaitu diarahkan untuk tujuan tertentu. Aspek prilaku kita secara langsung didapatkan dari efek-efek penguatan dan menjelaskan kemampuan kita untuk merespon secara selektif terhadap tanda-tanda lingkungan dan menunjukkan prilaku pilihan. Kita termotivasi untuk memaksimalkan penguatan positif kita dalam semua situasi.

Kita catat bahwa Rotter memfokuskan pada penentu-penentu perilaku eksternal dan internal. Begitu juga dengan motivasi. Ketika kita menggambarkan kondisi eksternal, kita berhubungan dengan tujun-tujuan dan penguatan. Ketika kita bicara tentang penentu internal, kondisi-kondisi kognitif, maka kita bicara tentang kebutuhan. Perbedaan antara kebutuhan dan tujuan, namun demikian, adalah pebedaan semantic. Eksistensi tujuan maupun kebutuhan didapatkan dari cara-cara orang berinteraksi dengan lingkungannya.

Menurut Rotter, semua kebutuhan psikologi kita dipelajari. Ketika kita masih bayi dan kanak-kanak kebutuhan-kebutuhan ini muncul dari gabungan pengalaman-pengalaman dan penguatan refleks dan perilaku-perilaku lain yang tidak dipelajari, termasuk kebutuhan-kebuhan psikologis dasar. Kebutuhan-kebutuhan psikologis awal berasal dari peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dasar tersebut seperti lapar, haus, bebas dari rasa terluka, sensor rangsangan.

Ketika anak-anak tumbuh dan mengembangkan kecakapan-kecakapan bahasa dan kognitif, kebutuhan-kebutuhan psikologis mereka muncul lebih sedikit dari kebutuhan-kebutuhan psikologis mereka dan lebih banyak dari kebutuhan-kebutuhan psikologis lain yang diperoleh atau dipelajari. Tanda-tanda yang berasal lingkungan ekternal menjadi lebih penting dari keadaan fisiologis.

Hal penting yang lain dalam pandangan motivasi Rotter yakni tujuan-tujuan yang dipelajari berasal dari aspek sosial; mereka bergantung pada orang lain. Jelaslah bahwa bayi dan anak-anak bergantung pada orang lain, khususnya orang tua, untuk kepuasan dan penguatan (reinforcement)-nya. Selama mereka tumbuh dewasa, penguatannya bergantung pada beberapa orang, termasuk teman dan guru. Selama dewasa, kita sering kali bergantung pada orang lain untuk penguatan kebutuhan-kebutuhan kita. Karena kepuasan-kebutuhan kita sangat dipengaruhi oleh orang lain, kebutuhan-kebutuhan seperti rasa cinta, afeksi, pengakuan, dan ketergantungan adalah penting.

Komponen lain pandangan Rotter atas motivasi adalah potensi kebutuhan. Perilaku, kebutuhan, dan tujuan kita saling berhubungan dan eksis di dalam sistem-sistem “yang secara fungsional saling berhubungan”. Di dalam sistem tersebut, perilaku berbeda kerap kali menimbulkan tujuan yang sama; ini adalah apa yang Rotter maksudkan dengan potensi kebutuhan, kemungkinan perilaku terkait, yang semuanya dapat menimbulkan penguatan yang sama atau serupa, yang terjadi pada waktu tertentu.

Tipe-tipe perilaku yang dapat dikelompokkan dalam sistem-sistem fungsional dari tindakan-tindakan yang jelas sampai kesadaran yang tersembunyi. Sistem-sistem atau kategori-kategori tersebut disusun dalam bentuk hierarki, dan hierarki yang tinggi dalam skala itu dapat mencakup hierarki yang berdiri rendah. Rotter menawarkan contoh potensi kebutuhan untuk pengakuan. Ini adalah kategori luas dan mencakup potensi kebutuhan rendah seperti kebutuhan terhadap pengakuan dalam psikologi atau kebutuhan terhadap pengakuan dalam olah raga antar perguruan tinggi.

Rotter mengajukan enam kategori kebutuhan, antara lain:

  1. Pengakuan-Status.

Kebutuhan untuk dianggap kompeten atau baik dalam aktivitas profesional, sosial pekerjaan, atau permainan; kebutuhan untuk memperoleh posisi sosial atau kerja – yakni lebih terlatih atau lebih baik daripada yang lainnya.

  1. Proteksi-Dependensi

Kebutuhan untuk mendorong orang lain atau kelompok orang untuk mencegah frustrasi atau hukuman, atau untuk memberikan kepuasan kebutuhan orang lain.

  1. Dominasi

Kebutuhan untuk mengarahkan atau mengontrol tindakan-tindakan orang lain, termasuk anggota-anggota keluarga dan teman, kebutuhan untuk melakukan tindakan yang dilakukan oleh orang lain sebagaimana yang ia sarankan.

  1. Independensi

Kebutuhan untuk membuat keputusan sendiri dan bergantung pada diri sendiri, bersama-sama dengan kebutuhan untuk mengembangkan skill untuk memperoleh kepuasan secara langsung, tanpa mediasi dari orang lain.

  1. Cinta dan afeksi.

Kebutuhan untuk diterima dan disukai oleh individu-individu lain, yang bertentangan dengan kebutuhan untuk pengakuan-status, bukan yang berhubungan dengan posisi sosial atau profesional namun mencari rasa hormat dari orang lain.

  1. Kenyamanan fisik

Kebutuhan terpelajari terhadap kepuasan fisik yang berhubungan dengan pemerolehan keamanan.

Rotter secara cermat menunjukkan bahwa konsepnya atas kebutuhan tidak mengacu pada kondisi penarikan atau kemunculan fisiologis atau psikologis apapun, dalam hal kebutuhan yang didefinisikan oleh para teoretikus lainnya. Formulasi Rotter mengacu pada petunjuk perilaku, yang diambil kesimpulannya dari efek-efek penguatan perilaku itu. Penggunaan kata “kebutuhan” mengasumsikan inklusif potensi kebutuhan, kebebasan gerakan, dan nilai kebutuhan. Jadi, kebutuhan mencakup konsep primer awal terhadap potensi perilaku, harapan dan nilai penguatan.

Kontrol Penguatan Internal versus Eksternal

Aspek utama sistem Rotter adalah kepercayaan kita tentang sumber kontrol penguatan kita. Kita memperlihatkan bahwa terdapat perbedaan-perbedaan individuil dalam persepsi kejadian tertentu selama penguatan. Riset Rotter menunjukkan bahwa beberapa orang percaya bahwa penguatan adalah bergantung pada perilakunya sendiri; lainnya beranggapan bahwa penguatan dikontrol oleh kekuatan-kekuatan luar.

Orang-orang yang memiliki variabel kepribadian, yang disebut sebagai locus of control internal, percaya bahwa penguatan yang mereka terima adalah sebuah fungsi perilaku dan atributnya sendiri. Orang-orang orientasi-eksternal, yang memiliki locus of control eksternal, berpikir bahwa penerimaannya atas penguatan berada di tangan orang lain, baik takdir atau keberuntungan. Apapun sifat locus of control eksternalnya, orang-orang orientasi-eksternal merasa yakin bahwa mereka tidaklah begitu berdaya berhubungan dengan kekuatan-kekuatan luar tersebut.

Rotter mengembangkan kuesioner laporan-diri untuk mengukur variabel kepribadian. Tes, yang disebut sebagai Skala Locus of Control Internal versus Eksternal (atau skala I-E), terdiri dari alternatif-alternatif pilihan-yang dipaksakan. Subyek harus menunjukkan mana masing-masing pasangan item yang dapat mendeskripsikan dirinya sendiri dengan sangat baik. Item-item sampel dari Skala I-E disajikan dalam Tabel 17.1. Anda dapat melihat mana masing-masing pasangan alternatif yang merepresentasikan kontrol internal atau kontrol eksternal.

Locus of control kita akan memiliki pengaruh besar pada perilaku kita. Orang-orang yang memiliki locus of control eksternal percaya bahwa perilaku atau skillnya sendiri tidak akan membuat perbedaan apapun dalam penguatan yang mereka terima, tidak akan melihat nilai dalam melakukan usaha untuk memperbaiki situasinya. Mereka memiliki kepercayaan kecil tentang kemungkinan pengontrolan kehidupannya sendiri di masa sekarang dan akan datang.

Orang-orang yang terorientasi secara internal percaya bahwa mereka memiliki kontrol yang kuat atas kehidupannya sendiri, dan mereka berperilaku menurut hal itu. Riset menunjukkan bahwa mereka melakukan usaha pada tingkat tinggi dalam hal tugas-tugas laboratorium, dan tidak begitu rentan terhadap beberapa usaha untuk mempengaruhinya, menempatkan nilai yang lebih tinggi dalam skill dan prestasi personalnya, dan lebih waspada dengan petunjuk-petunjuk lingkungan yang dapat mereka gunakan untuk memedomani perilakunya. Selain itu, orang-orang yang memiliki locus of control lebih siap untuk mengambil tanggung jawab terhadap tindakan-tindakannya daripada orang-orang orientasi-eksternal. Terdapat juga beberapa bukti yang secara tentatif menunjukkan bahwa orang-orang orientasi-internal bisa jadi memperoleh kesehatan mental yang lebih baik.

Tabel 7.1. Item-Item Sampel dari Skala I-E

________ Dalam kasus siswa yang dipersiapkan dengan baik, jarang ada sesuatu yang sama seperti tes yang tidak adil.

________ Sepanjang waktu, pertanyaan-pertanyaan ujian cenderung tidak terkait dengan course work yang studinya tidak begitu bermanfaat sama sekali.

________ Keberhasilan adalah suatu persoalan kerja keras; keberuntungan tidak begitu banyak berpengaruh atau sama sekali tidak berpengaruh terhadapnya.

________ Ketika saya membuat beberapa rencana, saya hampir merasa yakin bahwa saya dapat membuatnya bekerja.

________ Tidaklah selalu bijak jikalau kita membuat rencana terlalu detil untuk masa mendatang sebab banyak hal akan berubah menjadi suatu persoalan berupa nasib baik atau buruk.

Teknik-teknik penyelidikan

Rotter telah menggunakan beberapa teknik untuk menggabungkan data berdasarkan pada teorinya. Hal ini termasuk pengkajian control laboratorium yang bagus, wawancara personal dan tes proyektiv seperti Rorschach dan TAT. Mari kita menguji metodenya untuk meneliti beberapa kosep pada sistemnya.

Dua pendekatan yang telah digunakan untuk mengukur nilai reinforcement: metode ranking dan metode pemilihan perilaku. Metode ranking digunakan sebagai berikut. Deskripsi verbal mengenai 18 reinforcement -seperti pujian oleh seorang guru karena menyiapkan laporan yang bagus- yang diberikan pada kelompok subjek wanita muda, yang diminta untuk mengurutkan pernyataan dari yang paling memperkuat sampai pada pernyataan yang tidak memperkuat. Pada metode pemilihan perilaku, sebenarnya subjek juga diperlakukan untuk menerima reinforcement sebagai pengganti yang lain. Cara lain untuk mengukur nilai reinforcement adalah dengan menggunakan teknik proyektif dan metode rating.

Pengharapan telah diukur oleh Rotter dan kelompoknya dengan menggunakan metode pemilihan perilaku dan berbagai macam teknik verbal. Metode pilihan perilaku digunakan dengan cara yang sama dengan ketika mengukur nilai reinforcement. Ketika subjek memilih satu alternatif untuk mengganti yang lain, hal ini mengindikasikan kepercayaan bahwa pilihan alternatif memiliki harapan yang lebih besar untuk menghasilkan reinforcement.

Pendekatan yang lain untuk mengukur pengharapan meliputi teknik verbal. Misalnya subjek diminta untuk memprediksikan kemungkinan menerima reinforcement dalam bentuk alternatif yang berbeda-beda pada skala nilai pengharapan. Pada kejadian yang lain subjek diklasifikasikan berdasarkan tampilan tugasnya. Sebelum mendapatkan tempatnya masing-masing, subjek ditanyai tentang harapannya terhadap tugas tersebut. Hipotesa mengenai klasifikasi itulah yang menunjukkan tingkat harapan subjek ketika merasa sangat yakin.

Untuk mengukur kebutuhan utama(need potential), perlu untuk menandai berapa sering perilaku yang pasti akan muncul. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengobservasi perilaku subjek pada beberapa periode waktu. Need potential dapat juga diukur dengan menggunakan quetionare, teknik pilihan verbal, dan metode ranking dengan menanyai subjek tentang apa yang mereka pikirkan akankah mereka lakukan pada situasi yang spesifik.

Gambaran Rotter mengenai sifat manusia

Pada isu-isu mengenai kebebasan atau ketentuan, sistem Rotter nampaknya memberikan pilihan dan perilaku yang bebas, khususnya untuk orang-orang yang mempunyai lokus kontrol internal. Hal ini jelas berasal dari penekanannya pada variabel-variabel kognitif yang penting dimana Rotter percaya bahwa manusia dapat mengatur dan mengarahkan pengalamannya sendiri dan memilih perilakunya sendiri. Orang-orang dapat dipengaruhi oleh variabel eksternal, tetapi mereka dapat membentuk dan memperluas pengaruh itu. Nampaknya individu-individu tidak ditekankan pada memiliki kemampuan mengontrol kehidupan mereka sendiri. Kemungkinan dari kebebasan adalah ketersediaan untuk mereka, tetapi mereka merasa mereka sendiri dikontrol oleh kekuatan dari luar.

Rotter menekankan bahwa sebagian besar perilaku kita dipelajari. Dia memberikan sedikit tambahan untuk faktor genetik. Hal ini terutama pada pengasuhan dan bukan sifat yang mengarahkan pengalaman kita, bukan warisan atau keturunan.

Meskipun Rotter melihat bahwa mempelajari pengalaman pada masa kecil adalah sangat penting, tetapi dia tidak percaya bahwa pengalaman-pengalaman itu menentukan cara kita ketika kita harus berperilaku untuk menopang hidup kita. Kepribadian selalu berubah dan berkembang, tidak ditetapkan oleh pola-pola yang dibuat pada masa kecil. Pengalaman pada pembelajaran pertama kali memiliki dampak pada cara kita mempersepsi pengalaman saat ini, tetapi kita tidak menjadi korban masa lalu kita. Kita bereaksi secara terus menerus pada lingkunagn internal dan eksternal kita. Jika lingkungan ini berubah, begitu juga persepsi kita terhadapnya.

Posisi Rotter pada pertanyaan mengenai keunikan melawan keseluruhan perilaku direfleksikan dalam kosepnya mengenai situasi psikologis. Masing-masing dari kita mengembangkan pandangan yang unik mengenai dunia, menginterpretasikan dan mereaksi stimulus eksternal dalam pola persepsi kita terhadap dunia. Ini memahami bahwa masing-masing dari kita hidup dan berfungsi dalam situasi psikologis yang berbeda.

Rotter tidak membahas tentang beberapa tujuan akhir dan keperluan kehidupan seperti aktualisasi diri, tetapi memusatkan penuh kekuatannya bahwa semua perilaku kita merupakan tujuan yang diarahkan. Daripada terbawa oleh beberapa keinginan yang ingin dicapai, atau malah terdorong untuk keluar seperti kondisi-kondisi kecemasan atau perasaan rendah, kita secara tetap diarahkan untuk mencapai tujuan individu. Kita didorong untuk memaksimalkan reinforcement dan meminimalkan punishment, dan pada setiap saat kita membuat keputusan dengan sadar tentang bagaimana sebaiknya kita mencapai tujuan-tujuan ini.

Sistem Rotter nampaknya menawarkan pandangan-pandangan yang optimis mengenai sifat-sifat manusia. Kita bukanlah korban-korban yang pasif dari kejadian-kejadian diluar diri kita, keturunan, atau dari pengalaman masa lalu. Kita bebas untuk membentuk dengan baik tidak hanya perilaku kita saat ini, tetapi juga masa depan kita.

Pembahasan Terakhir

Teori belajar sosial Rotter dengan menitikberatkan pada diri sendiri, pengalaman subjektiv, telah memikat semangat para pengikutnya dikalangan psikologi amerika. Sistem menghimbau terutama untuk meneliti siapa saja yang memusatkan pada eksperimen dan tertarik pada ”revolusi kognitif” yang saat ini menarik bagi dunia psikologi. Penekanan Rotter pada faktor kognitif lebih kuat daripada teori bandura, dan keberadaannya saat ini berawal dari teori behavior yang radikal milik skinner.

Menitikberatkan pada variabel internal merupakan penelitian mengenai kekuatan teori beberapa ahli psikologi, tetapi bagi ahli lain hal ini nampak sebagai kelemahan. Termasuk kritikan terhadap beberapa orang yang memberikan pengenalan terhadap variabel kognitive, telah mengusulkan agar Rotter dibuang jauh. Mereka berpendapat bahwa keberadaannya menyimpang jauh dari paham behavior orthodok dimana hal ini tidak dapat dianggap sebagai pendekatan behavioristic pada semua. Karena luasnya penerimaan Rotter terhadap variabel kognitif, banyak dari metodologinya yang nampak terlalu subjektif. Kita telah melihat pada bagian teknik penelitian bahwa dia menggunakan metode noneksperimen seperti wawancara dan teknik-teknik proyektiv.

Bagaimanapun penelitian Rotter, juga kasar dan dikontrol dengan bagus sebagaimana persoalan izin subjeknya dan dia menggunakan observasi yang obyektif dimanapun perilaku mungkin terjadi. Juga konsepnya yang didefinisikan dengan tingkat ketelitian yang tinggi, membuatnya bertanggung jawab terhadap test empiris. Penelitian mengenai aspek yang bermacam-macam dari teorinya telah menghasilkan dukungan yang hubungannya sangat besar. Skala I-E telah menghasilkan lebih dari 600 penelitian dan penggunaannya telah ditemukan tersebarluas oleh kalangan laboratorium klinik dan kalangan pengatur pendidikan.

RUJUKAN:

Schultz, Duane. 1981. Theories of Personality. California: Brooks/Cole Publishing Company

14 Responses to “TEORI JULIAN ROTTER”

  1. Siti Mariam Says:

    salam…
    terima kasih banyak atas artikelnya..
    saya sangat membutuhkannya untuk bahan skripsi.
    semoga bermanfaat dan sukses selalu….

  2. YUPPY Says:

    makasih ya buat referensi makalah

  3. Simon Says:

    minggu depan presntasi, baca2 dulu ah…
    makasih ya…

  4. Cikgu Nora Says:

    terima kasih atas maklumat yang diberi. jadi panduan untuk saya di Malaysia juga.

  5. ferretemplar Says:

    thx gw jadi bisa ngajar… lumayan nggak bawa bahan tetep bisa jadi referensi dadakan… thx yah mmmuuah

  6. arifah Says:

    jadi cara cepat buat belajar..makasih🙂

  7. Hespita Says:

    bisa lebih paham,,,
    thx🙂

  8. dek sri Says:

    bgus bahan nya.. ada ga buku yg membahas ttg locus of control? judul buknya apa?
    sya mhsiswa keperawatan bisa ga ya sya jadikan ini sbg bhn penelitian sy??

  9. abukayyis Says:

    artikelnya bagus, terimakasih ya, lumayan untuk bahan referensi, thx

  10. ida Says:

    makasih…. lagi pusing nih nyari referensi
    ada rtikel ini🙂

  11. maya Says:

    trims atas artikelnya, sangat membantu untuk bahan referensi, tvm

  12. enurlita Says:

    maaf aku bisa minta rujukannya ga….?
    aku lagi butuh buat referensi skripsi aku..
    kalo bentuknya softcopy aku bisa minta..
    email aku enurlita91@gmail.com
    terima kasih….🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: