TINJAUAN PSIKOLOGI SOSIAL TERHADAP PERILAKU AGRESI

A. Ilustrasi Perilaku Agresi Harris dan Klebold

Pada jam 11.30 hari Selasa 20 April 1999, hari ulang tahun Adolf Hitler ke 110, Eric Harris (18) dan Dylan Klebold (17) melakukan penembakan secara membabi-buta sepanjang koridor Sekolah Menengah Columbine, Littleton, Colorado. 13 orang mati, 25 orang luka-luka, banyak dari antaranya sangat parah, dan seluruh kota menjadi gempar. Mereka menembak siapa saja murid yang berseliweran karena panik dan yang bersembunyi di ruang-ruang kelas. Di ruang perpustakaan, para murid, yang baru sebentar sempat belajar, berjatuhan dihujani rentetan tembakan. Beberapa murid yang masih bisa bertahan hidup di kemudian hari melaporkan bahwa Harris dan Klebold tersenyum dan tertawa pada saat mereka melepaskan tembakan. Rentetan tembakan yang terakhir terdengar pada pukul 12.30 tengah hari ketika Harris dan Klebold menembak dirinya sendiri.

Eric sangat berharap bisa diterima masuk Korps Marinir tetapi lamarannya ditolak beberapa hari sebelum pembantaian tragis itu. Alasan yang diberikan kepadanya adalah bahwa Eric telah biasa mengkonsumsi obat anti-depresan ‘Luvox’, yang biasa digunakan untuk pasien penderita penyimpangan jenis obsesif-kompulsif. Sejauh yang diketahui, hanya ada sekali insiden yang menyangkut perilaku kriminal kedua anak ini di masa lalu. Pada bulan Maret tahun sebelumnya, keduanya ditangkap atas tuduhan kejahatan karena melakukan tindakan kriminal membuka paksa sebuah mobil dan mencuri beberapa barang dari dalamnya. Dari hasil investigasi yang terus berkembang, terkuak sisi lain kehidupan kedua anak itu. Ternyata Eric Harris mempunyai ‘website’ internet sendiri yang secara terbuka mengungkapkan kemarahannya kepada orang-orang di Littleton, khususnya para guru dan murid di Sekolah Menengah Columbine. Pada situs ini, Harris menyatakan keinginannya untuk membalas dendam kepada siapa saja yang mengganggu dan menghinanya.

Sejumlah murid menceritakan dalam beberapa kesempatan Harris dan Klebold membual akan membalas dendam secara besar-besaran di sekolah tersebut, karena merasa diejek dan dianggap orang buangan. Para siswa disalahkan karena mengejek dan tidak menerima mereka yang berbeda, sementara orang tua dan para guru disalahkan karena mendidik mereka jadi kambing. (www.solusihukum.com)

B. Definisi Agresi

Agresi adalah perilaku fisik maupun verbal yang diniatkan untuk melukai objek sasaran agresi. Sebuah perilaku dapat dikategorikan sebagai perilaku agresi jika terdapat niat dan harapan untuk menyakiti atau merusak objek agresi serta adanya keinginan objek agresi untuk menghindari agresi yang ditujukan kepadanya. Agresi seringkali berhubungan erat dengan marah. Ketika seseorang marah, biasanya ada perasaan ingin menyerang, meninju, menghancurkan atau melempar sesuatu dan biasanya timbul pikiran yang kejam. Bila hal-hal tersebut disalurkan maka terjadilah perilaku agresi.

Menurut Buss (dalam Pas) perilaku agresi bisa berupa verbal dan fisik, aktif dan pasif, langsung dan tidak langsung. Perbedaan antara verbal dan fisik adalah antara menyakiti secara fisik dan menyerang dengan kata-kata; aktif atau pasif membedakan antara tindakan yang terlihat dengan kegagalan dalam bertindak; perilaku agresi langsung berarti melakukan kontak langsung dengan korban yang diserang, sedangkan perilaku agresi tidak langsung dilakukan tanpa adanya kontak langsung dengan korban.

Bentuk Agresi

Contoh

Fisik, aktif, langsung

Menikam, memukul, atau menembak orang lain

Fisik, aktif, tak langsung

Membuat perangkap untuk orang lain, menyewa seorang pembunuh untuk membunuh.

Fisik, pasif, langsung

Secara fisik mencegah orang lain memperoleh tujuan atau tindakan yang diinginkan (seperti aksi duduk dalam demonstrasi)

Fisik, pasif, tak langsung

Menolak melakukan tugas-tugas yang seharusnya

Verbal, aktif, langsung

Menghina orang lain

Verbal, aktif, tak langsung

Menyebarkan gossip atau rumor jahat tentang orang lain
Verbal, pasif, langsung

Menolak berbicara kepada orang lain, menolak menjawab pertanyaan, dll

Verbal, pasif, tak langsung

Tidak mau membuat komentar verbal (misal:

menolak berbicara ke orang yang menyerang

dirinya bila dia dikritik secara tidak fair)

C. Penyebab Perilaku Agresi

  1. Faktor Biologis

Beberapa faktor biologis yang bisa mempengaruhi perilaku agresi adalah gen, aktivitas otak, hormon, dan abnormalitas. Penelitian menunjukkan bahwa gen berpengaruh pada pembentukan sistem neural otak yang mengatur perilaku agresi. Penelitian yang dilakukan pada binatang, mulai dari yang sulit sampai yang paling mudah dipancing amarahnya, faktor keturunan tampaknya membuat hewan jantan yang berasal dari berbagai jenis lebih mudah marah dibandingkan betinanya.

Marah juga bisa dihambat atau ditingkatkan dengan merangsang sistem limbik (daerah yang menimbulkan kenikmatan pada manusia) sehingga muncul hubungan timbal balik antara kenikmatan dan kekejaman. Orang yang berorientasi pada kenikmatan akan sedikit melakukan agresi dibanding orang yang tidak pernah mengalami kesenangan, kegembiraan atau santai.

Menurut perspektif biologis, perilaku agresi disebabkan oleh meningkatnya hormon testosteron, 17-estradiol dan estrone. Dalam suatu eksperimen, ilmuwan menyuntikkan hormon testosteron pada tikus dan beberapa hewan lain. Tikus-tikus tersebut berkelahi semakin sering dan lebih kuat. Sewaktu testosteron dikurangi hewan tersebut menjadi lembut. Kenyataan menunjukkan bahwa anak banteng jantan yang sudah dikebiri (dipotong alat kelaminnya) akan menjadi jinak. Peningkatan hormon testosteron saja ternyata tidak mampu memunculkan perilaku agresi secara langsung. Hormon testosteron dalam hal mi bertindak sebagai anteseden, sehingga perlu ada pemicu dari luar. Hasil penelitian mengenai peningkatan hormon testosteron terhadap meningkatnya perilaku agresi ini tidak konsisten. Pada anak laki-laki memang meningkat perilaku agresinya, hal ini tidak ditemukan pada anak perempuan.

Perilaku agresi juga disebabkan adanya abnormalitas. Pada tahun 1996, otopsi terhadap Vharles Whitman, seorang pembunuh berdarah dingin, yang telah membunuh 16 orang dan telah melukai 12 orang menunjukkan bahwa ada kerusakan jaringan di otaknya. Berdasarkan peristiwa tersebut mulai timbul pertanyaan apakah ada kaitan antara kerusakan jaringan otak dengan perilaku agresi? Abnormalitas yang lain adalah kromosom supermale atau XYY. Kromosom ini 15-20 kali lebih sering ditemukan pada populasi narapidana daripada populasi non narapidana. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Price dan Whitemore yang dikutip Pearlman dan Cozby (dalam Soedardjo dan Helmi) menyatakan bahwa 1 dari 1000 orang yang ditemukan mempunyai kromosom supermale atau XYY. Hasil penelitian Worchel dan Cooper (1986) juga memperkuat penelitian yang terdahulu bahwa 2-3,6% narapidana mempunyai kromosom XYY.

  1. Kesenjangan Generasi

Adanya perbedaan atau jurang pemisah (gap) antara generasi anak dengan orang tuanya dapat terlihat dalam bentuk kegagalan hubungan komunikasi. Hal ini diyakini sebagai salah satu penyebab timbulnya perilaku agresi pada anak.

  1. Lingkungan

Beberapa faktor lingkungan seperti kemiskinan, anonimitas dan suhu udara yang terlalu panas juga berperan dalam pembentukan perilaku agresi. Bila seorang anak dibesarkan dalam lingkungan kemiskinan, maka perilaku agresi mereka secara alami mengalami penguatan.

Terlalu banyak rangsangan indra dan kognitif seperti di kota-kota besar yang menyajikan berbagai suara, cahaya dan bermacam informasi yang besarnya sangat luar biasa membuat dunia menjadi sangat impersonal, artinya antara satu orang dengan orang lain tidak lagi saling mengenal atau mengetahui secara baik. Lebih jauh lagi, setiap individu cenderung menjadi anonim (tidak mempunyai identitas diri). Bila seseorang merasa anonim ia cenderung berperilaku semaunya sendiri, karena ia merasa tidak lagi terikat dengan norma masyarakat dan kurang bersimpati pada orang lain.

Aksi-aksi demonstrasi yang berujung pada bentrokan dengan petugas keamanan seringkali terjadi pada cuaca yang terik dan panas, tapi bila musim hujan relatif jarang terjadi peristiwa tersebut. Hal ini sesuai dengan laporan US Riot Commission pada tahun 1968 bahwa ketika musim panas, rangkaian kerusuhan dan agresivitas massa lebih banyak terjadi di Amerika Serikat dibandingkan dengan musim-musim lainnya.

  1. Proses Pendisiplinan yang Keliru

Pendidikan disiplin yang otoriter dengan penerapan yang keras terutama yang dilakukan dengan memberikan hukuman fisik, dapat menimbulkan berbagai pengaruh buruk bagi remaja. Pendidikan disiplin seperti itu akan membuat remaja menjadi seorang penakut, tidak ramah dengan orang lain, dan membenci orang yang memberi hukuman, kehilangan spontanitas serta inisiatif dan pada akhirnya melampiaskan kemarahannya dalam bentuk agresi kepada orang lain.

  1. Insting

Menurut Sigmund Freud, setiap orang mempunyai insting bawaan untuk berperilaku agresi. Agresi merupakan derivasi insting mati (thanatos) yang harus disalurkan untuk menyeimbangkannya dengan insting hidup (eros). Eros dan thanatos ini harus diseimbangkan untuk menstabilkan mental.

  1. Frustrasi

Frustrasi adalah terhalangnya seseorang oleh sesuatu hal dalam mencapai suatu tujuan, kebutuhan, keinginan, pengharapan atau tindakan tertentu. Teori hipotesis frustrasi-agresi dipelopori oleh lima orang ahli yaitu Dollard, Doob, Miller, Mowrer, dan Sears pada tahun 1939. Pada mulanya mereka menyatakan bahwa dalam setiap frustrasi selalu menimbulkan perilaku agresi. Pada tahun 1941, Miller menyatakan bahwa frustrasi menimbulkan sejumlah respon yang berbeda dan tidak selalu menimbulkan perilaku agresi, perilaku agresi hanya salah satu bentuk respon yang muncul. Watson, Kulik dan Brown (dalam Soedardjo dan Helmi) menyatakan bahwa frustrasi yang muncul akibat faktor luar menimbulkan perilaku agresi yang lebih besar dibandingkan dengan halangan yang disebabkan diri sendiri. Hasil penelitian Burnstein dan Worchel menyatakan bahwa frustasi yang menetap akan mendorong perilaku agresi. Dalam hal ini, orang siap melakukan perilaku agresi karena orang menahan ekspresi agresi. Frustasi yang disebabkan situasi yang tidak menentu (uncertaint) akan memicu perilaku agresi lebih besar dibandingkan dengan frustasi karena situasi yang menentu.

  1. Peran Belajar Model Kekerasan

Bandura, Baron, dan Berkowitz menyatakan bahwa perilaku agresi merupakan hasil dari proses belajar sosial. Belajar sosial adalah belajar melalui pengamatan terhadap dunia sosial. Hal ini bertentangan dengan pendapat Sigmund Freud yang menyatakan bahwa sejak lahir setiap individu telah mempunyai insting agresi. Dalam kasus Harris dan Klebold, perilaku agresi mereka sangat mungkin karena proses belajar sosial. Teman-temannya menyatakan bahwa kedua anak itu biasa berjam-jam main game yang tergolong penuh kekerasan seperti “Doom”, “Quake”, dan “Redneck Rampage”. Sementara itu, Mubashar Ali (9), seorang bocah dari Multan, Pakistan baru-baru ini meninggal gara-gara meniru adegan eksekusi mati Saddam Husein yang diambil secara diam-diam dan disiarkan oleh TV di negaranya (Jawa Pos edisi 2 Januari 2007 halaman 6). Ini merupakan contoh konkret bagaimana sebuah perilaku dipelajari dari lingkungan sosial. Di Indonesia sendiri beberapa waktu lalu ada acara-acara TV yang menyajikan acara khusus perkelahian yang sangat populer seperti Smack Down, UFC (Ultimate Fighting Championship) atau sejenisnya. Walaupun pembawa acara berulang kali mengingatkan penonton untuk tidak mencontoh apa yang mereka saksikan namun diyakini bahwa tontonan tersebut akan berpengaruh terhadap perkembangan jiwa penontonnya. Pendapat ini sesuai dengan yang diutarakan Davidoff (dalam Mu’tadin) yang mengatakan bahwa menyaksikan perkelahian dan pembunuhan meskipun sedikit pasti akan menimbulkan rangsangan dan memungkinkan untuk meniru model kekerasan tersebut.

  1. Penilaian Kognitif

Teori ini menjelaskan bahwa reaksi individu terhadap stimulus agresi sangat bergantung pada cara stimulus itu diinterpretasi oleh individu. Sebagai contoh, frustrasi dapat menyebabkan timbulnya perilaku agresi jika frustrasi itu diinterpretasi oleh individu sebagai gangguan terhadap aktivitas yang ingin dicapainya.

  1. Kompetisi Sosial

Menurut perspektif sosiobiologi, perilaku agresi berkembang karena adanya kompetisi sosial yaitu kompetisi terhadap sumber daya. Dalam hal ini satu macam sumber daya yang dipandang terbatas, diperebutkan oleh dua belah pihak. Perilaku agresi menurut perspektif ini merupakan sesuatu yang fundamental karena merupakan strategi adaptasi dalam kehidupannya. Dalam pandangan ini manusia diharapkan bertindak agresif ketika sumber daya yang penting itu terbatas, ketika mengalami ketidaknyamanan, ketika sistem sosial tidak berjalan dengan baik, dan ketika ada ancaman dari pihak luar (Dunkin dalam Soedardjo dan Helmi). Hal ini dilakukan dalam rangka mempertahankan kelangsungan hidup manusia.

Pada kasus Harris dan Klebold di atas, penulis menarik kesimpulan terdapat tiga faktor utama yang menyebabkan Harris dan Klebold melakukan tindakan agresi berupa penembakan, yaitu:

1. Frustrasi

Dalam hal ini, frustrasi Harris adalah keinginannya untuk masuk Korps Marinir terhalang karena dugaan pemakaian obat anti-depresan “Luvox”.

2. Belajar sosial

Sebagaimana yang telah disebutkan di atas, Harris dan Klebold biasa berjam-jam main game yang tergolong penuh kekerasan. Dalam video game, nilai yang tinggi justru diperoleh lewat sikap yang agresif dan penggunaan kekerasan secara sistematis. Dengan cara ini, pemain video game merasa bahwa kekerasan memperoleh ganjaran (reward) dan kekerasan yang lebih tinggi akan memperoleh imbalan yang tinggi pula.

3. Penilaian kognitif

Para siswa disalahkan karena mengejek dan tidak menerima mereka yang berbeda, sementara orang tua dan para guru disalahkan karena mendidik mereka jadi kambing.” Harris dan Klebold menginterpretasikan sikap para siswa, orang tua, dan guru sebagai suatu gangguan terhadap aktivitas yang ingin mereka capai.

D. Pemecahan Masalah

Kasus Harris dan Klebold merupakan perilaku agresi yang menjadi salah satu masalah sosial yang cukup serius yang harus segera dipecahkan. Terdapat beberapa strategi untuk mengendalikan dan mengurangi perilaku agresi. Strategi-strategi tersebut adalah:

  1. Hukuman

Menurut kaum behaviorisme, hukuman dapat dipakai untuk mengurangi perilaku yang tidak diharapkan, yang dalam hal ini adalah perilaku agresi. Namun agar dapat efektif mengurangi suatu tingkah laku, hukuman harus memenuhi tiga syarat: (1) diberikan sesegera mungkin setelah perilaku yang ingin dikurangi muncul, (2) setimpal dengan perilaku yang muncul, (3) diberikan setiap kali perilaku yang ingin dikurangi timbul.

  1. Katarsis

Katarsis merupakan pelepasan ketegangan dan kecemasan dengan jalan melampiaskannya dalam dunia nyata. Teori katarsis menyatakan bahwa pemberian kesempatan kepada individu yang memiliki kecenderungan pemarah untuk berperilaku keras (dalam aktivitas katarsis), tapi dalam cara yang tidak merugikan, akan mengurangi tingkat rangsang emosional dan tendensi untuk melakukan perilaku agresi. Sedikit bertentangan dengan teori katarsis, Baron dan Byrne (dalam Hanurawan, 2004) menyatakan bahwa katarsis bukanlah merupakan instrumen yang efektif untuk mengurangi agresi yang bersifat terbuka. Penelitian Robert Arms dan kawan-kawan melaporkan bahwa penonton sepak bola gaya Amerika, gulat, dan hoki ternyata malah semakin menunjukkan sifat kekerasan setelah menonton pertandingan olah raga itu dibanding sebelum menonton.

Pada konteks katarsis itu, partisipasi individu dalam aktivitas katarsis non agresi ternyata hanya memiliki pengaruh yang bersifat sementara terhadap rangsang emosional dan tendensi berperilaku agresi dalam dirinya. Setelah melewati jangka waktu tertentu, rangsang dan tendensi itu kemudian akan muncul kembali apabila individu itu bertemu atau berpikir tentang orang yang sebelumnya menyebabkan dirinya marah.

  1. Pengenalan Terhadap Model Non Agresif

Menurut teori belajar sosial Albert Bandura, pengenalan terhadap model non agresif dapat mengurangi dan mengendalikan perilaku agresi individu. Dalam penelitian Baron pada tahun 1972 (dalam Hanurawan, 2004) dan penelitian Donnerstein dan Donnerstein pada tahun 1976 (dalam Hanurawan, 2004) ditemukan bahwa individu yang mengamati perilaku model non agresif menunjukkan tingkat agresi yang lebih rendah daripada individu yang tidak mengamati perilaku model non agresif.

  1. Pelatihan Ketrampilan Sosial

Pelatihan ketrampilan sosial dapat mengurangi timbulnya perilaku agresi. Pelatihan ketrampilan ini dimaksudkan untuk mengurangi frustrasi yang timbul akibat ketidakmampuan dalam mengekspresikan dan mengomunikasikan keinginan kepada orang lain, gaya bicara yang kaku, dan kurang sensitif terhadap simbol-simbol emosional orang lain.

KESIMPULAN

Agresi merupakan perilaku fisik maupun verbal yang diniatkan untuk melukai objek sasaran agresi. Agresi disebabkan oleh faktor-faktor biologis, kesenjangan generasi, lingkungan, kekeliruan dalam proses pendisiplinan, insting, frustrasi, peran belajar model kekerasan, penilaian kognitif (cognitive appraisal), dan kompetisi sosial. Perilaku agresi ini dapat dikendalikan dan dikurangi melalui hukuman, katarsis, pengenalan terhadap model non agresif, dan pelatihan ketrampilan sosial.

DAFTAR RUJUKAN

Alwisol. 2006. Psikologi Kepribadian. Malang. UMM Press.

Chaplin, J.P. 2005. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta. Rajawali Pres.

Hanurawan, Dr. Fattah. 2004. Pengantar Psikologi Sosial. Malang. Triumvirat Independen Edition.

Mu’tadin, SPsi., MSi., Zainun. Faktor Penyebab Perilaku Agresi (http://www.e-psikologi.com/remaja/100602.htm, diakses 15 Desember 2006).

Pas, Alfon Sius. Perilaku Agresif Pada Anak Yang Memiliki Hobi Bermain Video Game (http://library.gunadarma.ac.id/files/disk1/9/jbptgunadarma-gdl-grey-2005-alfonsiusp-435-abstraksi.pdf diakses 15 Desember 2006)

Saifuddin, Ahmad. Dampak Tayangan Kekerasan di Televisi (http://www.suara karya-online.com/news.html?id=161144, diakses 15 Desember 2006).

Soedardjo dan Helmi Avin Fadilla. Beberapa Perspektif Perilaku Agresi. (avin.staff.ugm.ac.id/data/jurnal/perspektifagresi_avin.pdf, diakses 15 Desember 2006).

Tragedi Littleton 20 April 1999 (http://www.solusihukum.com/kasus2.php?id=23, diakses 15 Desember 2006).

One Response to “TINJAUAN PSIKOLOGI SOSIAL TERHADAP PERILAKU AGRESI”

  1. miryam Says:

    pak zainun, apakah bisa membantu saya? Saya sedang membuat skripsi penyesuaian diri siswa SMP di sekolah. Kalau boleh mendapat rujukan dari bapak, judul buku apa yang mendukung tentang penyesuaian diri dari artikel-artikel atau jurnal yang bapak tulis. Terima kasih sebelumnya untuk bantuan bapak.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: