Ketidakmampuan Mensifati Al-Musthafa Nabi Muhammad saw.

An-Nabhani dalam al-Hamziyah menggubah,

إِنَّ مِنْ مُعْجِزَاتِكَ الْعَجْزَ عَنْ وَصْــفِكَ إِذْ لاَ يَحُدُّهُ الْإِحْصَاءُ

كَيْفَ يَسْتَوْعِبُ الْكَلاَمُ سجيا = كَ وَهَلْ تَنْزِحُ الْبِحَارَ الرِّكَاءُ

لَيْسَ مِنْ غَايَةٍ لِمَدْحِكَ أَبْغِيْـ = ـهَا وَلِلْقَوْلِ غَايَةٌ وَانْتِهَاءُ

إِنَّمَا فَضْلُكَ الزَّمَانُ وَآيَا = تُكَ فِيْمَا نَعُدُّهُ الْآنَاءُ

Termasuk di antara mukjizat engkau adalah ketidakmampuan mensifati engkau, karena sifat engkau tidak bisa dibatasi hitungan.

Bagaimana ucapan bisa menjangkau perangai engkau. Adakah ceret (teko) bisa menguras samudera raya?!

Aku mendapati tidak ada habisnya untuk menyanjung engkau. Sedang ucapan memiliki puncak dan penghabisan.

Keutamaan engkau adalah zaman. Tanda-tanda keagungan engkau seperti kami menghitungnya adalah sepanjang waktu.

As-Subky dalam akhir kasidah Taiyah-nya menggubah,

وَأُقْسِمُ لَوْ أَنَّ الْبِحَارَ جَمِيْعَهَا = مِدَادِي وَأَقْلاَمِي لَهَا كُلُّ غَوْطَةٍ

لَمَا جِئْتَ بِالْمِعْشَارِ مِنْ آيِكَ الَّتِي = تَزِيْدُ عَلَى عَدِّ النُّجُوْمِ الْمُنِيْرَةِ

Aku bersumpah. Seandainya samudera raya seluruhnya menjadi tintaku, dan pena-penaku adalah sedalam samudera raya itu,

niscaya tidaklah dapat aku mendatangkan sepersepuluh dari ayat-ayat keagungan engkau yang melebihi jumlah bintang-bintang yang bersinar terang.

Ulama lainnya menggubah,

فَبَالِغْ وَأَكْثِرْ لَنْ تُحِيْطَ بِوَصْفِهِ = وَأَيْنَ الثُّرَيَّا مِنْ يَدِ الْمُتَنَاوِلِ

Perdalam dan perbanyaklah, kamu tetap tidak akan meliputi sifat beliau. Di mana ada tangan bisa menjangkau bintang Tsurayya (bintang kartika)?!

Umar bin Farid tampak terlihat dalam mimpi, lalu ditanyakan kepadanya, “Ada apa kamu tidak memuji Nabi saw. secara jelas/terang-terangan?!” Jawabnya,

أَرَى كُلَّ مَدْحٍ فِى النَّبِيِّ مَقْصَرَا

وَإِنْ بَالَغَ الْمُثْنِى عَلَيْهِ وَأَكْثَرَا

إِذَا اللهُ أَثْنَى بِالَّذِى هُوَ أَهْلُهُ

عَلَيْهِ فَمَا مِقْدَارُ مَا تَمْدَحُ الْوَرَى؟

Aku melihat segala pujian tentang Nabi saw. terbatas, walaupun orang yang memujinya melampaui batas dalam memujinya dan memperbanyaknya.

Jika Allah telah memuji kepadanya dengan sesuatu yang pas baginya, maka apa kapasitas pujian yang dilakukan manusia?

Ulama lain menggubah,

مَدَحَتْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ فَمَا عَسَى

يُثْنِى عَلَى عُلْيَاكَ نَظْمُ مَدِيْحِي

وَإِذَا كِتَابُ اللهِ أَثْنَى مُفْصِحًا

كَانَ الْقُصُوْرُ قُصَارَ كُلِّ فَصِيْحِ

Ayat-ayat al-Qur’an telah memuji engkau. Syair madahku tentulah tidak sanggup memuji atas derajat ketinggian engkau. Jika Kitabullah telah memuji dengan begitu fasih, maka keterbatasan adalah milik setiap orang yang fasih.

Aku Anak Keturunan Para Atikah

“Aku anak keturunan al-Awatik (para Atikah) dari (suku) Sulaim.” (H.R. Said bin Manshur dan Thabarani dari Syababah bin Ashim ra. Di dalam kitab ash-Shihah disebutkan, “Al-Awatik (para Atikah) dari nenek-nenek beliau ada sembilan.” Lainnya berkata, “Beliau memiliki 3 nenek dari suku Sulaim yang masing-masing bernama Atikah, yaitu Atikh binti Hilal bin Falij bin Dzakwan, ibunda Abdu Manaf; Atikah binti Murrah bin Hilal, ibunda Hasyim; dan Atikah binti Auqashi bin Murrah bin Hilal, ibunda Wahab, ayahanda Aminah.” Dan sisanya yang lain dari 9 nenek itu berasal dari selain Bani Sulaim.

Al-Halimi berkata, “Beliau mengemukakan itu bukan dalam rangka berbangga diri, namun mengenalkan kedudukan nenek-nenek yang disebut itu, sebagaimana dikatakan, “Ayahku dulu orang faqih.” Ucapan ini tidak dimaksudkan selain mengenalkan. Dan ada kemungkinan beliau mengemukakan hal itu sebagai bentuk tahadduts (menyebut-nyebut) nikmat Allah ta’ala pada diri beliau, ayah-ayah moyang beliau, dan nenek-nenek moyang beliau. Bani Sulaim berbangga dengan kelahiran ini.

Satu riwayat dari Ibnu Asakir menyatakan, “Aku adalah anak keturunan para Fatimah.” Ini diucapkan beliau pada perang Hunain. Di dalam ar-Raud dikatakan, “Imra’atun atikatun,” bermakna wanita yang dicelup warna kuning dengan za’faran dan minyak wangi.” Dalam kamus disebutkan, “Al-Atik bermakna al-karim (orang mulia).” Ibnu Saad berkata, “Atikah secara bahasa maknanya adalah wanita yang suci (thahirah).”

Nabi itu Lebih Utama bagi Orang-orang Mukmin

أَنَا أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِيْنَ مِنْ أَنْفُسِِهِمْ فَمَنْ تُوُفِّيَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ فَتَرَكَ دَيْنًا فَعَلَيَّ قَضَاؤُهُ ، وَمَنْ تَرَكَ مَالاً فَهُوَ لِوَرَثَتِهِ

“Aku lebih utama bagi orang-orang mukmin daripada diri mereka sendiri. Barangsiapa meninggal dari orang-orang mukmin, lalu meninggalkan hutang, aku yang wajib membayarnya. Dan barangsiapa meninggalkan harta benda, maka harta benda itu milik para ahli warisnya.” (H.R. Imam Ahmad, Bukhari, Muslim, Nasai, dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah ra.).

Keberadaan beliau lebih utama bagi orang-orang mukmin berdasarkan nash Tuhan semesta alam. Allah ta’ala berfirman,

النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِيْنَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ

Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin. (Q.S. al-Ahzaab: 6)

Sebagian ahli tasawuf berkata, “Beliau lebih utama bagi orang-orang mukmin daripada diri mereka sendiri karena diri mereka sendiri menyeru mereka kepada kehancuran, sedang beliau menyeru mereka kepada keselamatan. Bersesuaian dengan keberadaan beliau yang lebih utama, maka mereka wajib mendahulukan kepatuhan kepada beliau daripada keinginan diri mereka, walaupun hal itu berat bagi mereka, juga mereka wajib mencintai beliau lebih banyak daripada kecintaan mereka kepada diri mereka sendiri. Dalam hal ini wanita-wanita termasuk di dalamnya.”

Sabda beliau, “min anfusihim” bermakna aku lebih utama bagi mereka daripada diri mereka sendiri di dalam segala sesuatu dari urusan dunia dan akhirat, karena sesungguhnya aku adalah khalifah terbesar nan penolong bagi setiap yang ada, maka wajib atas mereka, aku harus lebih merekla cintai daripada diri mereka sendiri. Hukumku lebih lestari atas mereka daripada hukum diri pribadi mereka. Dan hal ini beliau ucapkan tatkala ayat tersebut turun.

Dan merupakan akhlak terpuji beliau yang luhur bahwa beliau tidak menyebut hak-hak yang bisa beliau terima, beliau hanya mencukupkan pada hak-hak yang harus beliau tunaikan, saat beliau bersabda, “Barangsiapa meninggal dari orang-orang beriman..,” dan seterusnya.

An-Nawawi berkata, “Dan kesimpulan dari makna hadits adalah, “Aku akan melakukan kemaslahatan-kemaslahatan di dalam hidup dan mati salah seorang dari kalian. Aku adalah walinya di dalam dua kondisi itu. Jika dia mempunyai hutang, aku bayar, jika dia tidak meninggalkan uang untuk membayar hutangnya. Jika dia meninggalkan kekayaan, maka kekayaan itu milik ahli warisnya. Aku tidak memungutnya sama sekali. Jika dia meninggalkan keluarga yang membutuhkan, maka kewajiban akulah mengurus dan membiayai mereka. Alangkah agung belas kasih dan cinta kasih beliau pada umatnya!

Kesederhanaan Beliau Terhadap Dunia Merupakan Sebuah Pilihan

Diriwayatkan dari Abu Umamah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tuhanku menawarkan kepadaku akan menjadikan Batha’ Makkah berupa emas untukku. Aku lalu berkata, “Tidak, ya Rabb. Tetapi aku kenyang sehari dan lapar sehari. Jika aku lapar, aku merendahkan diri kepada-Mu dan mengingat-Mu. Dan jika aku kenyang, aku memuji-Mu dan bersyukur kepada-Mu.” (H.R. Imam Ahmad dan Tirmidzi)

Baginda Nabi saw. menghimpun (memadukan) antara sabar dan syukur. Keduanya merupakan sifat orang mukmin yang sempurna lagi mukhlis. Firman-Nya, “Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur.” (Q.S. Ibrahim: 5)

Hikmah memerinci hal ini adalah merasa lezat dengan pembicaraan. Jika tidak, maka Allah ta’ala telah mengetahui segala sesuatu baik secara global maupun terperinci. Dan hal ini memberikan pengetahuan kepadamu bahwa kesederhanaan beliau terhadap dunia bukanlah karena keterpaksaan (desakan), melainkan suatu pilihan, sementara beliau (kalau mau) bisa hidup mewah.

Kisah Menarik

Sastrawan besar, Syeikh Abdul Jalil Baradah al-Madani mempunyai seorang teman dekat yang pergi ke Maghrib. Dia lalu mengirim surat kepada Syeikh Abdul Jalil,

Kemarilah. Kita bisa memperbarui pudarnya cinta di antara kita. Masing-masing kita tercela dikarenakan kejauhan yang panjang.

Syeikh menjawabnya,

Kemarilah. Kita bisa memperbarui pudarnya cinta di antara kita di Thaibah, karena di Thaibah terdapat kenikmatan abadi.

Dicelalah orang yang meninggalkan jauh dari Thaibah. Maka jangan kamu katakan, “Masing-masing kita tercela dikarenakan kejauhan yang panjang.”

Demikian dikter guru besar kami Muhammad Nur Saif.

Nama-nama Nabi saw.

Ada segolongan ulama memaparkan jumlah nama-nama Nabi saw. sehingga mencapai jumlah bilangan tertentu. Di antara mereka ada yang hitungannya mencapai 99 nama, sesuai dengan jumlah asma Allah yang terpuji (Asmaul Husna) yang terdapat dalam hadits.

Qadli Iyad berkata, “Allah ta’ala memberikan kekhususan kepada beliau dengan memberikan nama pada beliau dari asma-Nya yang terpuji kurang lebih sekitar 30 nama.”

Ibnu Dihyah dalam kitabnya, ‘al-Mustaufa’, mengatakan, “Jika nama-nama itu diteliti dari kitab-kitab terdahulu, al-Qur’an, dan hadits, maka bisa mencapai 300 nama.”

Dalam kitab al-Mawahib (al-Ladunniyah), al-Qasthalani menyebutkan, “Aku telah melihat dalam kitab Ahkamul Qur’an karya Qadli Abu Bakar bin Arabi. Sebagian sufi berkata, “Allah ta’ala mempunyai 1000 nama. Nabi saw. juga mempunyai 1000 nama.” Yang dimaksud dengan nama adalah sifat. Setiap nama mengandung sifat terpuji. Jika demikian, maka pada setiap sifat beliau, terdapat nama. Kemudian, di antara nama-nama itu ada yang dikhususkan bagi beliau atau dominan pada diri beliau, dan ada pula di antaranya yang orang lain menyertai. Semua itu dijelaskannya dengan kesaksian yang tidak samara. Jika kita menjadikan setiap sifat beliau sebagai suatu nama maka sampailah nama-nama itu pada jumlah tersebut, bahkan bisa lebih banyak lagi.

Katanya, “Apa yang aku lihat pada ucapan guru besar kami, yakni Hafidz as-Sakhawi dalam al-Qaul al-Badi, Qadli Iyad dalam asy-Syifa, Ibnul Arabi dalam al-Qabas dan al-Ahkam, dan juga Ibnu Sayyidin Naas, serta yang lain, nama-nama itu mencapai lebih dari 400,” kemudian dikutipnya nama-nama itu secara alfabetik. Yang lebih banyak adalah apa yang dihimpun oleh guru besarnya, yaitu Hafidz as-Sakhawi dalam al-Qaul al-Badi. Sedang apa yang lebih dari itu milik lainnya amat sedikit sekali. Sementara itu, al-Hafidz asy-Syami, murid dari al-Hafidz as-Suyuthi, menambahkan hingga mencapai lebih dari dua kali lipatnya, sebagaimana dinukil oleh az-Zarqani dalam syarah al-Mawahib. Syeikh an-Nabhani telah menghimpun hal itu dan menambahkannya hingga mencapai lebih dari 820 nama seraya menggubahnya kasidah berganda yang diberinya nama “Ahsanur Rasail fi Nadzm Asma an-Nabi al-Kamil,” (risalah terbaik di dalam menggubah nama-nama Nabi yang sempurna).

Tanda-tanda Mencintai Nabi saw.

Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda,

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ

“Tidak beriman salah seorang dari kamu sehingga aku lebih dicintainya daripada ayahnya, anaknya, dan manusia seluruhnya.”

Al-Bukhari juga meriwayatkan dari Umar ra. bahwa dia berkata kepada Nabi saw., “Ya Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai daripada segala sesuatu selain diriku yang berada di antara sisiku ini.” Nabi saw. bersabda, “Tidak akan beriman salah seorang dari kamu sehingga aku lebih dicintainya daripada dirinya.” Umar berkata, “Demi Dzat yang menurunkan al-Kitab kepada engkau. Kalau begitu, sungguh engkau lebih aku cintai daripada diriku yang berada di antara sisiku.” Nabi saw. lalu bersabda kepadanya, “Sekaranglah, wahai Umar, (telah sempurna keimananmu).”

Ali bin Abi Thalib ra. berkata, “Dahulu Rasulullah saw. lebih kami cintai daripada harta benda, anak-anak, ayah-ayah, dan ibu-ibu kami, serta daripada air dingan di saat dahaga.”

Ibnu Ishaq meriwayatkan ada seorang wanita anshar terbunuh ayahnya, saudaranya, dan suaminya pada peperangan Uhud bersama dengan Rasulullah saw. Setelah diberikan kabar mengenai terbunuhnya mereka semua, wanita itu berkata, “Apa yang terjadi dengan Rasulullah saw.?” Kata mereka, “Baik. Beliau alhamdulillah seperti engkau sukai.” Katanya, “Perlihatkanlah beliau padaku sehingga aku bisa melihat beliau.” Tatkala melihat beliau, dia berkata, “Semua musibah setelahmu adalah ringan/kecil.”

Ketika kaum musyrikin Makkah mengeluarkan Zaid bin Datsinah dari tanah haram agar mereka bisa membunuhnya, Abu Sufyan bin Harb –sebelum dia masuk Islam- berkata kepadanya, “Aku bersumpah kepadamu dengan nama Allah, wahai Zaid, apakah kamu ingin Muhammad saat ini di sisi kami, kami penggal lehernya, dan kamu berada di keluargamu?!.” Zaid berkata, “Demi Allah, aku tidak ingin Muhammad saat ini berada di tempatnya, ada satu duri menimpanya, sementara aku duduk di keluargaku!!.” Abu Sufyan berkata, “Aku tidak melihat seorang manusia yang mencintai seseorang seperti kecintaan sahabat-sahabat Muhammad kepada Muhammd.”

Ada alamat-alamat yang menunjukkan kecintaan kepada beliau. Alamat terbesar adalah mengikuti beliau, mengamalkan sunnah beliau, meniti jalan beliau, mengambil petunjuk dan jalannya, serta melakukan apa yang beliau batasi untuk kita dari syariatnya. Allah ta’ala berfirman,

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فَاتَّبِعُوْنِى يُحْبِبْكُمُ اللهُ

Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” (Q.S. Ali Imran: 31)

Allah ta’ala menjadikan mengikuti Rasul saw. sebagai tanda kecintaan seorang hamba kepada Tuhannya.

Termasuk alamat mencintai beliau adalah bila seorang mukmin ridla (rela dan puas) terhadap apa yang disyariatkan oleh Allah ta’ala melalui lisan Nabi saw.  sehingga dia tidak mendapati dalam dirinya rasa keberatan terhadap putusan yang beliau berikan. Allah ta’ala berfirman,

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (Q.S. 65)

Atribut keimanan dicerabut dari orang yang mendapati di dalam dadanya rasa keberatan terhadap putusan yang beliau berikan dan tidak percaya penuh (berserah secara total) pada beliau. Hukum beliau sejatinya adalah hukum Allah. Keputusan beliau adalah keputusan Allah, sebagaimana firman-Nya,

“Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah.” Allah lalu menegaskan (mengokohkan) hal itu dengan firman-Nya, “Tangan Allah di atas tangan mereka.” (Q.S. al-Fath: 10)

Sahl bin Abdullah berkata, “Barangsiapa tidak melihat kewilayahan Rasulullah saw. di seluruh tingkah lakunya dan justeru melihat dirinya di dalam kekuasaan beliau, maka tidaklah dia merasakan manisnya sunnah beliau.”

Alamat mencintai beliau juga adalah menolong agama beliau dengan ucapan dan perbuatan, pembelaan terhadap syariat beliau, berakhlak dengan akhlak beliau dalam hal murah tangan, mendahulukan orang lain (itsar), santun, sabar, tawadlu’, dan lainnya. Barangsiapa berupaya sungguh-sungguh terhadap hal itu dia akan mendapati kemanisan iman, dan barangsiapa mendapatinya, dia akan merasakan lezatnya ketaatan, menahan penderitaan, dan memilih (mendahulukan) hal itu di atas harta benda dunia yang fana.

Alamat mencintai beliau juga adalah banyaknya rasa rindu berjumpa beliau.

Alamat lainnya adalah mengagungkan beliau saat beliau disebut, menampakkan kekhusyuan, kerendahan, dan keterpedahan diri saat mendengar nama beliau. Setiap orang yang mencintai sesuatu dia akan tunduk kepada sesuatu itu. Seperti halnya sekian banyak sahabat sepeninggal beliau manakala mereka menyebut beliau, maka khusyu’lah mereka, meradanglah kulit mereka, dan mereka menangis. Demikian pula sekian banyak generasi tabiin dan generasi setelah mereka. Mereka melakukan hal itu dalam rangka cinta beliau, rindu beliau, sekaligus menghormati dan memuliakan.

Tanda mencintai beliau juga adalah mencintai kita suci al-Qur’an yang diembannya. Jika kamu ingin tahu rasa cinta Allah dan Rasul-Nya pada dirimu maka lihatnya kecintaan hatimu terhadap al-Qur’an.

Termasuk tanda mencintai beliau juga adalah mencintai sunnah beliau dan membaca hadits beliau.

Termasuk tanda juga adalah merasa enak dengan mencintai dan menyebut beliau, dan (merasa enak) saat mendengar nama beliau yang mulia.

Tanda lainnya adalah mencintai agama beliau, keluarga beliau, sahabat beliau, negeri beliau, dan mencintai segala sesuatu yang dinisbatkan kepada beliau. Jika cinta seorang hamba kepada Nabi saw. kuat dan lekat, maka kecintaan itu akan menyibukkannya dari segala sesuatu, kecintaan itu akan menenggelamkan kalbu, ruh, dan pendengarannya, hingga seringlah dia bermimpi melihat beliau saat tidur, beliau tidak hilang dari jiwanya, dan kadangkala dia dapat melihat beliau dalam keadaan terjaga, maka termasuklah dia kategori wali besar dan pilihan.

Gambaran Antusiasme Sahabat terhadap Jejak Petilasan al-Musthafa saw.

Abu Nuaim dalam ad-Dalail menyatakan: Menceritakan pada kami Sulaiman bin Ahmad. Menceritakan pada kami Ali bin Abdul Azis. Menceritakan pada kami Said bin Mansur. Katanya, “Husyaim menceritakan pada kami.” Katanya, “Abdul Hamid bin Ja’far menceritakan pada kami dari ayahnya dari Khalid bin Walid bahwa sesungguhnya, Khalid bin Walid kehilangan peci miliknya pada hari perang Yarmuk, dia lalu berkata, “Carilah peci itu!” Mereka lalu tidak menemukannya. Katanya kembali, “Carilah peci itu!” Mereka lalu menemukannya. Ternyata sebuah peci usang. Khalid lalu berkata, “Rasulullah saw. melakukan umrah. Beliau lalu mencukur kepala. Manusia lalu berebutan sisi-sisi rambut beliau. Katanya, “Aku lalu bisa merebut rambu depan kepala beliau. Aku taruh rambut itu di peci ini. Aku tidak menyaksikan peperangan sedang peci itu bersamaku, melainkan aku diberikan kemenangan.” (H.R. Abu Nuaim).

Abu Lahab Mencemaskan Doa Nabi saw.

Al-Hafidz Abu Nuaim berkata: Diceritakan dari Habbar bin Aswad. Katanya, “Abu Lahab dan puteranya, Utbah, bersiap berangkat menuju Syam, dan aku juga bersiap berangkat bersama dengan keduanya. Sang anak, Utbah, lalu berujar, “Demi Allah, aku akan pergi dahulu ke Muhammad. Aku akan sakiti dia dalam Tuhannya.” Dia berangkat sehingga datang pada Rasulullah saw., lalu berujar, “Wahai Muhammad, dia itu mengingkari Dzat yang mendekat lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi).” Rasulullah saw. lalu berdoa, “Ya Allah, kirimkanlah kepadanya binatang buas dari binatang-binatang buas-Mu.” Kemudian dia pulang dan kembali kepada Abu Lahab. Ayahnya itu berkata, “Puteraku, apa yang kamu katakana kepadanya?” Jawabnya, “Engkau mengkufuri Tuhan yang disembahnya.” “Lalu apa yang dikatakannya kepadamu?” Ujarnya, “Dia mengucapkan, “Ya Allah, kirimkan kepadanya binatang buas dari binatang-binatang buas-Mu.” Kata Abu Lahab, “Puteraku, demi Allah, aku tidak bisa tenang (cemas) dengan doa Muhammad kepadamu.” Kami berjalan sehingga kami tiba di suatu tempat yang banyak singa di situ. Kami lalu singgah di pertapaan rahib. Rahib itu berkata, “Wahai kalangan Arab, apa yang membuat kalian singgah di negeri ini, sedang negeri ini tempat singa berkeliaran?” Abu Lahab lalu beujar pada kami, “Kalian telah mengetahui hakku. “Iya, benar, wahai Abu Lahab,” kata kami. Katanya, “Muhammad telah berdoa dengan suatu doa kepada anakku. Demi Allah, aku mencemaskan doa itu kepadanya, maka kumpulkanlah barang-barang kalian pada tempat pertapaan rahib ini, kemudian bentangkan di sekitar anakku itu.” Kami lalu melaksanakannya. Kami mengumpulkan barang-barang hingga tampak tinggi. Kemudian kami bentangkan baginya di atas tumpukan barang-barang itu, dan kami bentangkan pula di sekitarnya. Semalaman kami berada di sekitarnya. Abu Lahab bersama kami di bawah. Sedang dia semalaman berada di atas tumpukan barang-barang. Tiba-tiba datangnya singa. Singa itu mengendus muka-muka kami. Kala dia tidak mendapati apa yang dikehendaki, dia mengisut, kemudian meloncat ke atas tumpukan barang-barang. Singa itu datang lalu mengendus muka Utbah, menyerangnya, hingga mukanya dipermalukan, dan dia hanya bisa berkata, “Pedangku, wahai singa.” Dia tidak kuasa selain itu. Kami lalu melompat. Lalu pergilah singa itu dan termalukanlah muka Utbah.” (H.R. Abu Nuaim dalam Dalailun Nubuwah).

Keajaiban Jejak-jejak Nabi saw.

Al-Hafidz Abu Nuaim berkata: Ahmad bin Ishaq dan Abdullah bin Muhammad menceritakan pada kami. Katanya: Abu Bakar bin Ashim menceritakan pada kami. Katanya: Abu Bakar bin Abu Syaibah menceritakan pada kami. Katanya: Muhammad bin Bisyir menceritakan pada kami. Abdul Azis bin Umar bin Abdul Azis menceritakan pada kami: Seseorang dari Bani Salaman bin Saad menceritakan padaku dari ibundanya bahwa pamannya, yaitu Habib bin Abu Fudaik menceritakan pada ibundanya bahwa ayahnya keluar membawanya kepada Rasulullah saw., sedang kedua matanya putih bersih, tidak dapat melihat sesuatu pun. Beliau bertanya, “Apa yang menimpa matamu?!” Katanya, “Aku dulu meltih untaku. Kakiku menginjak telur ular, lalu aku mataku ditimpa penyakit.” Rasulullah saw. lalu menyembut pada kedua matanya. Tiba-tiba dia dapat melihat. Habib bin Abu Fudaik berkata, “Aku melihatnya bisa memasukkan benang di dalam jarum, padahal usianya 80-an tahun, kedua matanya masih putih bersih.”

Keajaiban Mukjizat dan Pengaruhnya pada Kekuatan Tubuh

Al-Hafidz Abu Nuaim berkata: Abu Muslim menceritakan pada kami. Al-Maqdami menceritakan pada kami. Katanya: Zaid bin Habbab menceritakan pada kami. Husain bin Waqid menceritakan pada kami. Abu Nahik al-Azdi menceritakan padaku. Amr bin Akhthab menceritakan padaku. Katanya, “Rasulullah saw. meminta air, aku lalu membawakan beliau tempat minum dari kayu yang terdapat air di dalamnya. Di dalam air itu ada sehelai rambut. Aku lalu memberikan pada beliau. Beliau melihat padaku lalu berdoa, “Ya Allah, perindahlah dia.” Kata Abu Nahik, “Aku melihatnya, umurnya sudah mencapai 93 tahun, sedang pada kepala dan janggutnya tidak ada sehelai pun rambut yang putih.”

Abu Nuaim juga berkata: “Qadli Abu Ahmad menceritakan hadits pada kami secara dikte. Ahmad bin Ishaq al-Jauhari berkata: Ismail bin Abdullah bin Khalid ar-Raqi menceritakan pada kami. Ya’la bin al-Asyduqi menceritakan pada kami. Katanya: Aku mendengar Nabighah bin Ja’ad berkata, “Aku mendendangkan syair ini kepada Rasulullah saw. Beliau terkesan dengan syair itu.

بَلَغْنَا السَّمَاءَ مَجْدُنَا وَثَرَاءُنَا = وَإِنَّا لَنَرْجُو فَوْقَ ذلِكَ مَظْهَرَا

Keagungan dan kesejahteraan kami telah mencapai langit.

Dan kami sungguh mengharap penampakan/penampilan yang lebih di atas itu.

Baginda Nabi saw. bersabda, “Kemanakah penampakan/penampilan itu, wahai Abu Laila?” Kataku, “Ke surga.” “Benar. Jika Allah ta’ala menghendaki,” sabda beliau.

وَلاَ خَيْرَ فِى حِلْمٍ إِذَا لَمْ تَكُنْ لَهُ = بَوَادِرُ تَحْمِي صَفْوَهَ أَنْ يَكْدَرَا

وَلاَ خَيْرَ فِى جهل إِذَا لَمْ يَكُنْ = حَلِيْمٌ إِذَا مَا أَوْرَدَ الْأَمْرَ أَصْدَرَا

Tidak ada kebaikan dalam sifat santun yang tidak ada baginya orang yang bersikap tanggap (cekatan; cepat) yang bisa menjaga kemurnian sifat santun itu dari keruh.

Tidak ada kebaikan dalam kebodohan jika tidak ada orang yang santun yang bila mengemukakan sesuatu dia melakukan terlebih dahulu.

Baginda Nabi saw. bersabda, “Bagus kamu. Semoga Allah tidak melubangi mulutmu.” Ya’la berkata, “Sungguh aku melihatnya, saat umurnya lebih dari 100 tahun, giginya utuh, tidak hilang.”

Abul Hasan Asy-Syadzili Berziarah

Kala Imam Abul Hasan asy-Syadzili tiba di kota Madinah Munawwarah, dia berhenti di depan makam mulia dari raudah (taman) yang diberkahi, seraya mengucapkan, “Semoga salam kesejahteraan terlimpah atas engkau, wahai Nabi, juga rahmat Allah dan keberkahan-Nya. Semoga Allah melimpahkan shalawat, wahai Rasulullah, dengan seutama, sesuci, seunggul, dan seluhur shalawat yang pernah disampaikan-Nya kepada seseorang dari para nabi dan para kekasih. Aku bersaksi wahai Rasulullah bahwa engkau telah menyampaikan risalah yang kau embank, engkau telah menasehati umat engkau, dan engkau telah menyembah Tuhan engkau hingga kematian datang menjemput engkau. Engkau menjadi seperti apa yang disifati oleh Allah Kitab-Nya,

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُوْلٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ

Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min. (Q.S. at-Taubah: 128).

Shalawat-shalawat Allah, para malaikat, para nabi dan rasul, dan seluruh makhluk-Nya dari penduduk langit dan penduduk bumi, semoga selalu terhatur kepada engkau, wahai Rasulullah.

Salam kesejahteraan, rahmat Allah, dan keberkahan-Nya semoga terlimpah atas engkau berdua wahai dua sahabat Rasulullah saw. Wahai Abu Bakar. Wahai Umar.  Semoga Allah memberikan balasan kepada kalian berdua dari Islam dan pemeluknya seutama-utama balasan yang pernah diberikan-Nya kepada penolong-penolong (wazir) seorang nabi semasa hidupnya, dan atas anggunnya kekhilafahan dalam umatnya sepeninggalnya. Kalian berdua adalah dua wazir yang jujur bagi Muhammad saw. Kalian berdua menjadi khalifah beliau dengan adil dan berbuat baik pada umat beliau sepeninggal beliau. Semoga Allah membalas kalian berdua dari semua itu berupa menyertai/menemani beliau di surga, dan juga (semoga Allah membalas) pada kami beserta kalian berdua dengan rahmat-Nya. Dialah Dzat yang paling rahmat di antara orang-orang yang memiliki rahmat.

Ya Allah, sesungguhnya aku persaksikan kepada Engkau, aku persaksikan kepada Abu Bakar dan Umar, dan aku persaksikan juga kepada para malaikat yang tinggal dan berkerumun di raudlah yang mulia ini bahwa sesungguhnya aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah Yang Esa yang tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad hamba-Nya dan Rasul-Nya, pamungkas (penutup) para nabi dan imam para rasul. Aku juga bersaksi bahwa apa saja yang dibawanya, berupa perintah, larangan, dan berita mengenai apa yang telah terjadi dan yang akan terjadi, adalah benar, tidak ada keraguan dan kesangsian di dalamnya. Aku mengakui pada Engkau akan dosaku dan maksiatku dalam hati dan pikiran, kehendak dan perbuatan, dan apa saja yang mestinya Engkau wajib didahulukan daripada aku. Jika mau, Engkau bisa mengadzabku. Jika mau, Engkau bisa memaafkanku, dari segala hal yang mencakup kekufuran, kemunafikan, bid’ah, kesesatan, maksiat, atau suul adab (beretika tercela) terhadap Engkau dan terhadap Rasul Engkau, para nabi Engkau, dan para wali Engkau dari kalangan malaikat, manusia, dan jin, serta (terhadap) apa saja yang telah Engkau spesialkan dari sesuatu di dalam kerajaan Engkau. Sungguh aku telah mendzalimi diriku dengan semua itu, maka karuniakanlah kepadaku apa yang Engkau karuniakan kepada para wali Engkau. Sesungguhnya Engkau Allah, Dzat Yang Maha Raja, Dzat Yang Maha Melimpah Anugerah-Nya, Yang Maha Murah Tangan, Yang Maha Pengampun, lagi Maha Pengasih.”

Umar RA. Tidak Memotong Syajaratur Ridwan

Ada yang menceritakan bahwa Sayidina Umar memotong pohon yang di sisi pohon itu dahulu para sahabat berbaiat rela mati. Pohon itu disebut Syajaratur Ridwan. Sebagian manusia menjadikan dalil hal ini atas tidak diperbolehkannya bertabarruk dengan jejak-jejak (atsar) Nabi saw. Dan menurutku, hal itu tidaklah bisa menjadi dalil atas hal tersebut.

Dengan memuji Allah, telah tampak padaku dalil kuat, bahwa pohon yang dipotong oleh Umar ra. adalah pohon yang disangka banyak orang sebagai Syajaratur Ridwan. Mereka shalat di sisi pohon itu. Mereka menjadikannya sebagai tujuan bertawajjuh. Ini adalah perbuatan batil yang tidak pantas dinisbatkan kepada pelakunya (Umar) dan tidak boleh disandangkan kepadanya. Mereka menisbatkan pohon itu kepada Nabi saw. Dari sini, kecemburuan sahabat agung ini meluap atas penisbatan yang masih meragukan ini.

Dalilku atas itu adalah bahwa aslinya pohon itu tidak dikenali. Karena satu perkara yang dikehendaki oleh Allah, Allah menjadikan umat lupa tempat pohon itu, sebagaimana Dia menjadikan lupa Nabi-Nya ketentuan Lailatul Qadar dalam sekejap. Dan ini sesuai dengan kebenaran ucapan Ibnu Umar dalam shahih Bukhari bahwasanya dia (Ibnu Umar) datang pada tahun berikutnya setelah tahun terjadinya Baiatur Ridwan. Ucapnya, “Kami lalu mencari pohon itu, maka tidak sepakatlah dua orang atas pohon itu.”

Ucapan Musayyib, ayahanda Said, menyatakan, “Sungguh aku pernah melihat pohon itu, kemudian aku dilupakan pada pohonitu setelahnya. Maka aku tidak mengenalinya lagi.”

Ucapan Thariq bin Abdurrahman menyatakan, “Aku berangkat haji. Aku melewati kaum yang lagi shalat. Kataku, “Masjid apa ini?” Kata mereka, “Ini pohon yang dahulu Rasulullah saw. menyelenggarakan Baiatur Ridwan.” Aku lalu tadang kepada Said bin Musayyib, menceritakan hal itu. Kata Said, “Ayahandaku menceritakan padaku, dan dia termasuk orang yang turut berbaiat di bawah pohon itu. Ayahandaku berkata, “Kala kami keluar dari tahun yang akan datang, kami telah dijadikan lupa pada pohon itu, sementara kalian semua mengetahuinya. Kalian berarti lebih tahu.” Satu riwayat lain menyatakan bahwa ia (ayahanda Said) berkata, “Lalu dibutakanlah atas kami.” (Lihat Shahih Bukhari kitab Maghazi (peperangan) bab Ghazwah Hudaibiyah).

Maksudnya, pandangan dua orang tidak sama atas ketentuan terhadap pohon itu. Jikalau ini terjadi di sela-sela tahun pertama, di masa yang satu, di saat sahabat-sahabat yang hadir dan turut berbaiat di pohon itu masih hidup semua, maka bagaimana menurutmu dengan kondisi pohon yang tampak pada masa Umar setelah lewat bertahun-tahun?! Masa telah berlalu lama dan sebagian besar orang yang hadir pada kejadian itu telah meninggal. Oleh karena itu, Umar ra. tidaklah memotong pohon itu karena melarang bertabarruk dengan jejak-jejak Nabi saw. Atau karena Umar tidak memandang hal itu. Pengertian ini sama sekali tidak terdapat pada hati Umar dan tidak pernah terlintas padanya nuraninya sama sekali, dengan dalil bahwa ia diceritakan pernah bertabarruk dan mencari tabarruk dengan jejak-jejak Nabi saw. dan semacamnya, seperti dia mencari dari Abu Bakar tombak kecil yang dulu pernah berada di sisi Rasulullah saw. Rasulullah saw. dulu meminjamnya dari Zubair, sebagaimana terdapat dalam Shahih Bukhari bab kehadiran para malaikat di Badar dari kitab Maghazi, dalam salinan al-Qasthalani juz 6 hal. 264.

Ada Orang Memohon Syafaat dari Nabi saw.

Dahulu ada orang yang disebut bernama Mazin bin Ghadlub. Dia selalu melayani berhala di suatu dusun bernama Samaya dari wilayah Oman. Allah lalu melapangkan dadanya untuk memeluk agama Islam. Dia datang menghadap kepada Rasulullah saw. seraya berkata, “Ya Rasulullah, aku orang yang gemar musik, main perempuan, dan minum khamer. Perubahan masa menjadikanku banyak utang dan tagihan. Harta bendaku lenyap. Keluarga membuatku kurus. Dan aku tidak mempunyai anak. Maka mohonkanlah kepada Allah agar Dia mengubah kondisi yang aku dapati ini, dan Dia memberikan kepada kekayaan, serta menganugerahi anak padaku. Baginda Nabi saw. bersabda, “Ya Allah, gantilah kegemarannya pada musik dengan kegemaran membaca al-Qur’an, kegemarannya pada perempuan dengan kegemarannya pada wanita-wanita yang halal (telah dinikahi), gantilah kegemarannya pada pelacuran dengan iffah (menjaga diri), berikan padanya kekayaan, dan anugerahkan anak padanya.”

Katanya, “Allah azza wa jalla lalu mengganti kondisi yang aku dapati. Aku membuat makmur negeri Oman. Aku menikahi 4 wanita. Aku hafal separuh al-Qur’an. Dan Allah azza wa jalla memberiku Hayyan bin Mazin. Aku menggubah,

إِلَيْكَ رَسُوْلَ اللهِ خَبَّتْ مَطِيَّتِي = تَجُوْفُ الْفَيَافِي مِنْ عَمَانَ إِلَى الْعَرْجِ

لِتَشْفَعَ لِي يَا خَيْرَ مَنْ وَطِىءَ الْحَصَا = فَيَغْفِرُ لِي رَبِّي فَأَرْجِعُ بِالْفَلْجِ

إِلَى مَعْشَرٍ خَالَفْتُ فِى اللهِ دِيْنَهُمْ = فَلاَ رَأْيُهُمْ رَأْيِيْ وَلاَ شَرْحُهُمْ شَرْحِي

وَكُنْتُ امْرَأً بِالْعهْرِ وَالْخَمْرِ مُوْلَعًا = شَبَابِي حَتَّى آذَنَ الْجِسْمُ بِالنَّهْجِ

فَبَدَّلَنِي بِالْخَمْرِ خَوْفًا وَخَشْيَةً = وَبِالْعهْرِ إِحْصَانًا فَحَصَّنَ لِي فَرْجِي

فَأَصْبَحَتْ هَمِّي فِى الْجِهَادِ وَنِيَّتِي = فَلِلّهِ مَا صَوْمِي وَلِلّهِ مَا حَجِّي

Kepada engkau, wahai Rasulullah, kendaraan yang aku naiki menjelajah padang pasir tandus dari Oman ke Araj.

Agar engkau memberikan syafaat padaku wahai sebaik-baik sosok yang menginjak batu. Tuhanku lalu mengampuniku hingga aku pulang dengan membawa kesuksesan.

Sekelompok orang. Aku tolak agama mereka karena Allah. Pandangan mereka bukanlah pandanganku. Komentar mereka bukanlah komentarku.

Dulu aku orang yang maniak dengan main wanita (pelacuran) semenjak muda hingga tubuhku tampak usang (tua).

Dia lalu mengganti minum khamerku dengan khauf (rasa cemas) dan khasyah (rasa takut). Suka main wanita diganti menjaga diri. Dia menjaga kemaluanku.

Cita-citaku dan niatku kini adalah berjihad.

Puasa dan hajiku semuanya hanya untuk Allah.

(H.R. Abu Nuaim lengkap dengan sanadnya dalam Dalailun Nubuwah hal. 77-78).

Ajaibnya Kekuasaan Allah dalam Menjaga Pribadi Nabi Muhammad saw.

Termasuk di antara berbagai keajaiban kekuasaan Allah adalah apa yang dialami oleh para penghujat Nabi saw. dari suku Quraisy. Mereka tujuh orang, yaitu Walid bin Mughirah, Ash bin Wail as-Sahmi, Aswab bin Abdu Yaghus az-Zuhri, Fakihah bin Amr al-Fihri, Harits bin Thalathalah, Aswad bin Haritsm dan Ibnu Aithalah. Mereka banyak menghujat dan melukai Rasulullah saw., sementara beliau tabah, sabar, dan ikhlas, khususnya setelah turunnya firman Allah swt.,

Sesungguhnya Kami memelihara kamu daripada (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olok (kamu). (Q.S. al-Hijr: 95)

Dan sungguh Allah ta’ala telah menampakkan pada mereka semua keajaiban kekuasaan-Nya dan mengurus perkara mereka.

Adapun Walid bin Mughirah, ia memakai gamis, lalu menempel duri pada selendangnya. Dia tampak duduk di atas duri itu. Dia terluka dan mengucurlah darah darinya terus-menerus. Dia mati seketika.

Sementara itu, Ash bin Wail menginjak duri, lalu rontoklah (berjatuhanlah) daging dari tulang-tulangnya. Pada hari itu dia mati.

Adapun Aswad bin Abdul Yaghuts, dulu Rasulullah saw. mendoakan buruk padanya dengan kebutaan dan kematian anak. Dia membawa ranting berduri lalu mengenai matanya, lalu melelehkan kedua biji matanya di atas mukanya, dan anaknya, yaitu Zam’ah terbunuh pada perang Badar. Allah lalu membuat buta matanya dan mematikan anaknya. Adapun Fakihah bin Amir. Ia pergi hendak ke Thaif lalu hilang dan tidak ditemukan.

Sementara itu, Harits bin Thalathalah pergi keluar untuk suatu keperluan. Dia lalu diserang angin panas di jalan. Dia menjadi hitam dan mati. Adapun Aswad bin Harits. Dia makan ikan (paus) yang dibubuhi garam, lalu diserang dahaga. Dia tidak mampu mengekang dari minum air sehingga terbelahlah perutnya dan mati.

Adapun Ibnu Aithalah. Dia minta minum dan mati.

Prinsip-prinsip Pendidikan Nabi saw.

Di antara metode pengajaran Nabi saw. adalah pengalihan realitas indrawi kepada gambaran realitas kejiwaan yang berkaitan dengan keimanan, akhlak, maupun perilaku. Dan metode ini lebih dalam memperkuat dan meyakinkan suatu teori keilmuan di depan pengujinya.

Sebuah contoh, Nabi saw. melihat seorang ibu tawanan perang berjalan dengan cepatnya melupakan bayinya. Lalu dipungutlah bayinya dan diletakkannya pada dadanya, seakan-akan tidak terjadi sesuatu. Sabda beliau, “Tahukan kamua kasih sayang ibu ini terhadap bayinya (atau gembiranya dia terhadap bayinya)?” Jawab mereka, “Iya!” “Sesungguhnya Allah lebih sayang terhadap hamba-Nya (atau lebih bergembira terhadap taubat hamba-Nya daripada kegembiraan ibu ini terhadap bayinya).

Di antara metode pendidikan beliau juga adalah, mengarahkan orientasi kepada pemikiran dan pengertian yang bernilai tinggi dan luhur.

Agar seorang mukmin tinggi dan luhur tanpa harus sombong dan bangga diri. Orisinil pendapatnya, tanpa memandang rendah yang lain.

Dalam lapangan ini, Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah menyukai perkara-perkara yang luhur dan tidak menyukai perkara-perkara yang rendah.” Beliau juga bersabda, “Jika kamu memohon kepada Allah, maka mohonlah surga firdaus yang tertinggi, karena ia surga yang teratas. Atapnya adalah singgasana Dzat Yang Maha Pengasih.” Beliau sering kali mengambil kesempatan untuk mengalihkan audiens dari pengertian indrawi terdekat kepda pengertian yang jauh dan tujuan yang luhur, dengan mempergunakan kata-kata peristilahannya.

Contohnya adalah sabda beliau mengenai hakikat orang kuat, karena yang tampak adalah orang kuat itu orang yang dapat mengalahkan dan menjatuhkan banyak orang, namun beliau meletakkan definisi baru nan anggun mengenai orang kuat, “Orang kuat bukanlah orang yang bisa menjatuhkan banyak orang. Orang kuat adalah orang yang mampu menahan diri saat maram.” (H.R. Bukhari dalam al-Adab bab hati-hati terhadap marah. Fathul Bari jilid 100 hal. 518).

Contoh lagi adalah sabda beliau, “Tahukah kamu apa itu raqub?” “Orang yang tidak mempunyai anak,” jawab kami. Sabda beliau, “Raqub adalah orang yang mempunyai anak, sedang dia tidak menyuguhkan sesuatu pun dari anaknya itu.” (H.R. Baihaqi. Targhib jilid 2 hal. 152).

Contoh berikutnya adalah sabda beliau, “Tahukah kamu apa itu sha’luk (orang miskin)?” Perawi berkata, kami jawab, “Orang yang tidak memiliki harta.” Sabda beliau, “Orang miskin yang lagi amat miskin adalah orang yang mempunyai harta namun tidak menyuguhkan sedikit pun dari harta itu.” (H.R. Baihaqi. Targhib jilid 2 hal. 152).

Ada juga contoh yang lain. Rasulullah saw. bersabda, “Beritahukanlah padaku. Seandainya ada sungai di depan pintu salah seorang dari kalian. Dia mandi di sungai itu lima kali sehati. Apakah masih tersisa sedikit kotoran pada dirinya?” “Tidak” jawab mereka. Sabda beliau, “Demikian juga shalat lima waktu…” (Al-hadits).

Menyaksikan Anugerah Nabi saw. di Setiap Nikmat

Aku katakan di dalam majelis kebaikan, “Menyaksikan anugerah Nabi saw. di setiap nikmat bagi seorang muslim merupakan perkara yang wajib, karena faktor-faktor nikmat itu memang benar/ada, karena beliaulah yang membuka kepada kita jalan-jalan kebaikan dan menampakkan pada kita jalur-jalur anugerah. Oleh karena itu, dalam sekian banyak tempat nikmat dan taufiq ketuhanan, nama beliau turut disebut, agar seorang hamba menoleh kepada penyebab taufiq dan anugerah ini. Perantara kebaikan yang merata itu, dialah rahmat yang dihadiahkan, yaitu penghulu kita Nabi Muhammad saw. Sebagai contoh: dalam adzan nama beliau disebut, juga dalam tasyahud, saat seseorang berjabat tangan dengan saudaranya, dianjurkan bershalawat kepada beliau. Begitu pula  saat masuk masjid, saat berdoa, saat penceramah memulai ceramahnya, dan membuka pembicaraan.”

Hadirnya Ruhaniah Al-Musthafa saw.

Aku katakana juga dalam satu majelis kebaikan, “Ruhaniah al-Musthafa saw. (sosok nabi terpilih) hadir di setiap tempat. Ruhaniah itu menyaksikan tempat-tempat kebaikan dan majelis-majelis keutamaan. Dalil hal itu adalah ruh tidaklah dibatasi di dalam barzakh, tetapi ia berjalan bertasbih di dalam cakrawala.

Dan ini sifatnya umum di setiap ruh-ruh orang-orang beriman, dengan catatan, perjalanan dan wisata ruh berbeda menurut perbedaan kemampuan ruh itu. Keaadaan ruh itu sama dengan keadaannya saat di dunia dulunya. Di antara ruh itu ada yang dekat dan ada yang jauh. Ada yang hadir bersama hadirat al-Haqq dan ada yang tidak hadir. Ada yang menyaksikan. Ada yang menggelapkan dan ada yang mencerahkan. Ada yang tipis dan ada yang tebal. Demikian juga keadaan ruh itu di alam barzakh. Perjalanannya, wisatanya, hadirnya, dan responnya menurut kadar kedudukannya. Dalilnya adalah sabda beliau dalam hadits yang shahih, “Ruh orang mukmin itu berada pada seekor burung. Ia bisa bertasbih ke mana dia kehendaki.” Atau seperti dikatakan perawi. (H.R. Malik).

Sementara itu, ruh Nabi saw. ruh yang paling sempurna. Karena itu ruh berliau lebih sempurna di dalam kehadiran dan kesaksiannya.

Dalam hadits telah diterangkan bahwa seorang hamba jika masuk masjid seyogyanya mengucapkan salam kepada Rasulullah saw. Hal ini hadirnya ruhaniah beliau di tempat kesaksian yang penuh berkah itu.

Hadits lain menerangkan bahwa jika seorang muslim menyampaikan salam kepada beliau, maka Allah akan mengembalikan ruh beliau hingga bisa menjawab salamnya.”

Dan ini menunjukkan dua hal, pertama, ruh beliau berjalan di dalam singgasana Allah. Kedua, tubuh beliau kekal lagi sempurna. Dia orang yang pantas terhadap kembalinya ruh itu kepadanya. Makna dari hadits “Allah akan mengembalikan ruhku,” di sini adalah diberikannya kemampuan mendengar dan menjawab bagi orang yang dikehendaki oleh Allah untuk itu. Sungguh, seandainya tidak ada perbedaan di antara dua sisi antara orang yang menyampaikan salam dan orang yang kepadanya disampaikan salam, niscaya mungkinlah mendengar jawaban dan respon beliau.

Bergembira Terhadap Nabi SAW.

Aku sampaikan dalam majelis kebaikan, “Bergembira terhadap penghulu kita Nabi Muhammad saw. merupakan hal yang diperintahkan menurut syara’. Aku telah mengambil kejelasan hal itu dari al-Qur’anul Karim, yaitu dari firman Allah swt.,

قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُوْنَ

Katakanlah, “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (Q.S. Yunus: 58)

Dan beliau adalah rahmat, berdasarkan firman-Nya,

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ

Dan tidaklah Kami mengutusmu melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam. (Q.S. al-Anbiya’: 107)

Juga berdasarkan firman-Nya yang lain,

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُوْلٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ

Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min. (Q.S. at-Taubah: 128).

Berdasarkan pula dari sabda beliau, “Aku adalah rahmat yang dipersembahkan.” Ada petunjuk yang menerangkan bahwa bergembira dan bersuka cita terhadap Rasulullah saw. merupakan amal yang agung manfaatnya. Abu Lahah telah mengambil manfaat dari itu, yaitu ketika Tsuwaibah memberikan kabar padanya dengan kelahiran Nabi saw., Abu Lahar bergembira dan bersuka cita, dan karena itu Abu Lahab sampai memerdekakan Tsuwaibah. Abu Lahab diberikan keringanan siksa setiap hari Senin. Dia dapat minum dari ceruk ibu jarinya. Al-Hafidz Syamsuddin Muhammd bin Nashiruddin ad-Dimasyqi mengggubah,

إِذَا كَانَ هذَا كَافِرًا جَاءَ ذَمُّهُ بِتَبَّتْ يَدَاهُ فِى الْجَحِيْمِ مُخَلَّدَا
أَتَى أَنَّهُ فِى يَوْمِ الْإِثْنَيْنِ دَائِمَا يُخَفَّفُ عَنْهُ لِلسُّرُوْرِ بِأَحْمَدَا
فَمَا الظَّنُّ بِالْعَبْدِ الَّذِى كَانَ عُمْرُهُ بِأَحْمَدَ مَسْرُوْرًا وَمَاتَ مُوَحِّدَا

Jika ini orang kafir yang telah dicela dengan “tabbat yadahu” (celakalah kedua tangannya) nan kekal di neraka jahim.

Diterangkan bahwa setiap hari Senin selamanya dia mendapatkan keringanan siksa karena bergembira terhadap Ahmad.

Maka apa persangkaanmu terhadap seorang hamba yang sepanjang hidupnya bergembira terhadap Ahmad dan meninggal dalam keadaan bertauhid.

Di antara dalil lain mengenai bergembira terhadap Nabi saw., adalah apa yang terjadi pada hari beliau masuk ke kota Madinah setibanya dari kota Makkah. Kota Madinah telah mengeluarkan semua penghuninya, laki-laki dan perempuan, mereka sama menyambut senang kedatangan beliau.

Dalil lain tentang bergembira terhadap beliau, ada seorang wanita bernadzar memukul rebana di atas kepala Rasulullah saw., bila beliau kembali dari perang Badar dalam keadaan selamat dan sehat. Tatkala beliau telah kembali dan wanita itu memberi tahu beliau, maka berkatalah beliau kepadanya, “Penuhi nadzarmu.” Wanita berdiri melaksanakan nadzarnya.

Perhatian Ulama terhadap Gambar Sandal Nabi SAW

Para imam dan tokoh besar memberikan perhatian terhadap gambar sandal Nabi saw. Syeikh Muqri menyusun karya khusus masalah ini seraya menyebut beberapa gambarnya. Dia menulis kalimat agung nan penting. Ringkasannya: Ketahuilah. Semoga Allah menunjukkan aku dan kamu pada jalan yang lurus dan menyampaikan kita pada tempat minuman lezat dan minuman penghuni surga bersama dengan kader generasi pertama. Sesungguhnya sekelompok ulama yang terdepan nan patut diteladani memaparkan gambar yang suci nan penuh keindahan. Mereka menyejukkan mata pemandang dengan menyaksikannya. Di antara mereka adalah Imam Abu Bakar bin Arabi, al-Hafidz Abu Rabi bin Salim al-Kilai, seorang penulis al-Hafidz Abu Abdillah bin Abbar, pengembara ulung Abu Abdillah bin Rusyaid al-Fihri, sejarawan Abu Abdillah Muhammad bin Jabir al-Wadisyi, orator Abu Abdillah bin Marzuq, mufti Imam Abu Abdillah Muhammad Rasa’ at-Tunisi, dan penguasa shaleh nan terkenal Abi Ishaq Ibrahim bin Haj Sulami al-Andalusi yang darinya Ibnu Asakir mengambil contoh gambar. Dan selain mereka yang panjang sekali jika dihitung, seperti Abul Hakam Malik bin Murahhil dan Ibnu Abil Khishal. Mereka adalah para panutan yang mesti kita teladani.

Di samping mereka, ada sekelompok ulama dari penduduk masyriq, seperti al-Hafidz Ibnu Asakir, dan muridnya al-Badr al-Fariqi, al-Hafidz al-Iraqi, dan puteranya (al-Wali al-Iraqi), Syeikh al-Qasthalani dalam Mawahib Ladunniyah, dan lainnya.

Imam al-Muqri berkata: telah sampai kepadaku bahwa ada sebagian orang bodoh (yang tidak berpengalaman), dari kalangan orang-orang yang seperti himar, mengingkari gambarku berupa bambar-gambar yang mulia nan memiliki bayangan subur membentang luas, seraya berkata, “Bagaimana kamu melarang berbagai gambar, sedang kamu sendiri melakukannya?” Kataku kepada orang yang menyampaikan berita ini: Katakan padanya, “Dan kamu, mengapa berbicara mengenai urusan yang kamu tidak mengetahuinya? Ini bukanlah termasuk gambar-gambar itu. Sama sekali bukan.” Kemudian al-Muqri berkata, “Mari sekarang masuk pada apa yang aku kehendaki, seraya memohon kepada Allah pertolongan atas apa yang akan aku sampaikan. Dengan memohon pertolongan kepada Dzat yang memberi akal, aku berkata: Aku sebutkan di sini dua gambar yang bisa dijadikan patokan, kemudian aku mengokohkan keduanya dengan empat gambar, yang tidak sekuat gambar kedua dan gambar pertama, seraya mendendangkan pada orang yang mengingkari gambar yang banyak dan beragam itu,

أَعِدْ ذِكْرَ نُعْمَانٍ لَنَا إِنَّ ذِكْرَهُ = هُوَ الْمِسْكُ مَا كَرَّرْتَهُ يَتَضَوَّعُ

Ulangi kembali menyebut Nu’man pada kami. Sesungguhnya menyebutnya laksana minyak kesturi, sepanjang kamu sebut, ia semerbak harum.

Dan seraya mengingatkan pula pada orang-orang yang cerdas dengan gubahan,

أَيَا سَاكِنِي أَكْنَافِ طَيْبَةَ كُلُّكُمْ = إِلَى الْقَلْبِ مِنْ أَجْلِ الْحَبِيْبِ حَبِيْبُ

Wahai penghuni sisi-sisi Thaibah. Kalian semua tercinta di hati disebabkan adanya al-Habib (sang kekasih).

Dan tidak samar bahwa gambar sandal yang mulia ini lahir (muncul) karena dinisbatkan kepada empunya jiwa, karena itu dia mendapatkan kekhususan berupa nilai dan derajat yang tinggi. Telapak kaki Nabi itu melebihi di atas bulan.

يَا مَنْ يُذَكِّرُنِي حَدِيْثَ أَحِبَّةِ = طَابَ الزَّمَانُ بِذِكْرِهِمْ وَيَطِيْبُ

أَعِدِ الْحَدِيْثَ عَلَيَّ مِنْ جَنَبَاتِهِ = إِنَّ الْحَدِيْثَ عَنِ الْحَبِيْبِ حَبِيْبُ

Wahai orang yang ingatkan aku pada cerita kekasih. Elok dan harumlah zaman dikarenakan ingatan itu.

Ulangi cerita itu padaku dari sisi-sisinya. Sesungguhnya cerita tentang kekasih itu amat disukai.

Gambar yang mulia itu tidak lain merupakan wasilah bagi telapak kaki, yang Allah memberikan keistimewaan berupa sifat-sifat yang paling sempurna kepada empunya telapak kaki itu.

وَمَا حُبُّ النِّعَالِ شَغَفْنَ قَلْبِي = وَلكِنْ حُبُّ مَنْ لَبِسَ النِّعَالاَ

Tidaklah cinta sandal-sandal itu yang membuat hatiku mabuk cinta. Tetapi adalah mencintai sosok yang memakai sandal itu.

Alangkah mulianya sandal itu. Dia menjadi suci karena perilaku-perilaku bagusnya. Unggul dan tinggi disebabkan sosok terpilih. Dia meraih berbagai keutamaan yang bisa diraihnya. Gambar ini meniru (menyerupai) berbagai kebaikan yang tergambar. Aku lalu mendendangkan secara langsung seraya menyeru gambar itu,

حَاكَاكَ بَدْرُ الدُّجَى = لَمْ يَدْرِ مَنْ حَاكَى

شَتَّانَ مَا بَيْنَ = مَحْكِيٍّ وَمَنْ حَاكَى

Purnama kegelapan menyerupai (meniru)mu. Tidak tahulah siapa yang meniru.

Amat jauhlah jarak antara yang ditiru dan orang yang meniru.

Seandainya gambar agung ini tidak mendapati kemuliaan selain meniru sandal sosok orang yang keagungannya tidak ada batas, penghulu anak keturunan Adam, sandaran orang sekarang dan orang terdahulu, niscaya apa yang diperolehnya itu sudah lebih dari cukup dan telah memenuhi harapan. Bagaimana tidak, sedang ia bisa menjadi obat dan treapi bagi orang sakit?! Sungguh, keistimewaan-keistimewaannya jelas, kemanfaatan-kemanfaatannya nyata, keutamaannya terang, dan menaruhnya di atas karantina (museum) nyata.

Semoga Allah memberikan rahmat kepada Syeikh yang shaleh Abu Hafsh Umar al-Fakihani al-Iskandari al-Maliki, saat ia mengatakan kala melihat gambar yang memiliki daya tarik besar, seraya mengambil contoh ucapannya Majnun Laila,

وَلَوْ قِيْلَ لِلْمَجْنُوْنِ: لَيْلَى وَوَصْلُهَا = تُرِيْدُ أُمَّ الدُّنْيَا وَمَا فِى زَوَايَاهَا

لَقَالَ: غُبَارٌ مِنْ تُرَابِ نِعَالِهَا = أَحَبُّ إِلَى نَفْسِي وَأَشْفَى لِبَلْوَاهَا

Seandainya dikatakan pada si gila, “Laila dan menjalin hubungan dengannya, kau menginginkan ibu (pangkal) dunia dan apa saja yang ada di sudut-sudutnya. Niscaya si gila berkata, “Debu dari sandal Laila lebih aku sukai daripada jiwaku dan lebih menyembuhkan kesedihanku.”

Sumber: Adz Dzakhoir Al Muhammadiyyah oleh Sayyidunal Imam Al Habib Muhammad bin ‘Alawi Al Maliki Al Hasani.

Posted in islamic. 1 Comment »

One Response to “Ketidakmampuan Mensifati Al-Musthafa Nabi Muhammad saw.”

  1. ahmad Says:

    barakallaahu fiik


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: